Dalam satu kesempatan, Sang Guru duduk tenang di hadapan para muridnya. Beliau kemudian mulai menguntai sebuah kisah penuh hikmah tentang seorang penenun di masa lalu.
Kisah Penenun dari Desa Candrakirana
Pujian Raja dan Benih Kesombongan
Suatu ketika, hiduplah seorang penenun ulung di Desa Candrakirana. Di tangan dinginnya, helai-helai benang berubah menjadi mahakarya yang luar biasa. Penduduk desa tak henti-hentinya memuji kain tenunnya sebagai yang paling halus dan paling cantik yang pernah ada.
Sang penenun memang sosok yang sangat cermat. Ia hanya mau menggunakan benang pilihan dan mencurahkan seluruh ketekunannya dalam setiap gerakan alat tenunnya. Baginya, kesempurnaan adalah harga mati.
Hingga suatu hari, Raja dari ibu kota melakukan kunjungan ke Desa Candrakirana. Di sela perjalanannya, Sang Raja menyempatkan diri singgah ke rumah sang penenun. Ketika Sang Raja menyentuh kain karyanya dan melontarkan pujian yang tulus, hati sang penenun melambung tinggi. Kebahagiaan dan kebanggaan yang ia rasakan sungguh tak terbendung.
Saat Raja pulang dengan membawa salah satu kainnya sebagai tanda mata, sang penenun merasa telah mencapai puncak dunia. Namun, di sanalah benih kesombongan mulai berakar. Meski tetap bekerja seperti biasa, tutur katanya berubah. Kepada setiap orang yang datang, ia selalu membanggakan diri bahwa karyanya adalah yang terbaik di seluruh negeri. Ia mulai takabur, bahkan sesumbar bahwa tak akan ada orang yang mampu menandingi keindahan kain buatannya.
Panggilan dari Istana dan Berkumpulnya Penenun Terbaik
Waktu berlalu, hingga suatu hari datanglah utusan kerajaan. Sang penenun diminta menghadap Raja dengan membawa kain terbaik yang mampu ia hasilkan. Ia diberikan waktu tiga bulan untuk menyelesaikan tugas istimewa tersebut.
Dengan penuh semangat, ia mengunci diri dan bekerja siang-malam. Selama tiga bulan, ia menolak semua pesanan lain demi fokus menciptakan kain yang sesempurna mungkin. Dipilihnya benang paling halus, dipadukannya corak warna paling indah, dan dicurahkannya segenap rasa serta pikirannya demi hasil yang optimal.
Hari yang dinanti pun tiba. Dengan wajah cerah dan langkah penuh percaya diri, ia memasuki balairung istana. Namun, langkahnya seketika terhenti saat melihat pemandangan di hadapannya.
Ternyata, Sang Raja tidak hanya mengundangnya. Di ruangan luas itu, berkumpul seratus penenun terbaik dari seluruh penjuru negeri, masing-masing membawa karya terbaik mereka. Raja meminta semua kain dipajang berdampingan di atas meja panjang agar bisa dilihat oleh semua yang hadir selama seminggu penuh.
Runtuhnya Ego dan Kebijaksanaan Baru
Sang penenun dari Desa Candrakirana mulai melangkah, melihat karya rekan sejawatnya satu per satu. Ia memperhatikan setiap detail, meraba setiap tekstur, dan mencermati setiap corak dengan penuh perasaan. Di sanalah, tembok kesombongannya runtuh seketika.
Ia yang selama ini merasa paling hebat, kini kelu seribu bahasa. Matanya mengenali mana kain yang benar-benar agung. Ia menyadari bahwa di hadapannya kini terbentang mahakarya yang kualitasnya sejajar, bahkan ada yang melampaui teknik yang ia miliki selama ini.
Dengan suara lirih, ia berbisik pada dirinya sendiri, "Ah, ternyata aku belum menjadi yang terbaik. Ternyata masih banyak ahli yang lebih hebat dariku. Aku harus belajar dan bekerja lebih tekun lagi."
Singkat cerita, ia pulang dari istana sebagai manusia yang berbeda. Tak ada lagi kesombongan dalam bicaranya. Ia tetap bekerja giat, namun kini ia bersikap santun dan rendah hati. Ia tak lagi segan meminta kritik dan masukan, bahkan meluangkan waktu untuk terus belajar.
Beberapa tahun kemudian, berkat kerendahan hatinya untuk terus berkembang, ia benar-benar dinobatkan sebagai penenun terbaik dan diangkat menjadi pegawai kerajaan. Namun, ia tetap bersahaja. Di dalam hatinya ia selalu berkata, "Aku telah bekerja dengan baik, namun siapa tahu di luar sana masih ada yang lebih baik dariku."
Pesan Bijak Sang Guru
Setelah mengakhiri ceritanya, Sang Guru menatap para muridnya dengan lembut, lalu mulai memberikan pandangannya.
Hakikat Belajar di Dunia yang Luas
"Anak-anakku sekalian, sang penenun itu adalah ibarat diri kalian. Saat kalian belajar dengan sungguh-sungguh, kalian memang akan mendapatkan hasil terbaik di bidang yang kalian pelajari."
"Namun, apakah itu menjadikanmu yang terbaik? Barangkali ya, jika kalian hanya melihat dalam lingkup yang sempit. Tetapi tidak, jika kalian berani melihat ke dunia luar. Di dunia yang luas ini, ilmu terus berkembang tanpa batas."
"Maka, teruslah belajar, kembangkan pemikiran, dan jangan pernah berhenti berguru kepada siapa pun yang memiliki bermacam cara pandang. Meski kalian sudah menyerap semua ilmu dariku, dunia luar akan selalu menawarkan pengetahuan yang membuat kalian terkagum-kagum. Selalu ada langit di atas langit."
Meneladani Jejak Orang-Orang Besar
"Mungkin kalian bertanya, bisakah kita benar-benar menjadi yang terbaik seperti sang penenun di akhir kisahnya? Jawabnya adalah bisa. Sejarah telah membuktikannya."
"Lihatlah Imam Ghazali yang menjadi pemikir terbaik pada zamannya, atau Einstein dengan teori relativitasnya. Ada pula Jalaluddin Rumi dalam sastra Islam, dan Shakespeare dalam dunia drama. Mereka mencapai puncak tersebut karena mereka mengerahkan segenap kemampuan, pikiran, perasaan, dan tenaga."
"Kalaupun kalian tidak mencapai puncak tertinggi itu, jangan khawatir. Kalian tetap akan menjadi bagian dari orang-orang berpengetahuan. Namun, ingatlah satu hal: jika kalian merasa sudah cukup pintar dan berhenti mengembangkan diri, kalian akan tertinggal."
"Ketahuilah, ilmu pengetahuan ibarat sungai yang terus mengalir; ia senantiasa membawa kebaruan sekaligus mengikis apa yang tak lagi relevan. Di dunia yang bergerak begitu cepat ini, berhenti belajar karena merasa telah mencapai puncak adalah awal dari kemunduran yang nyata."
"Jangan biarkan rasa puas diri mematikan cahaya keingintahuanmu. Tetaplah menjadi pembelajar yang rendah hati, sebab hanya mereka yang berani mengakui keterbatasannya yang akan terus memiliki ruang untuk tumbuh, berkembang, dan tetap bersinar di tengah perubahan zaman."
Ditulis oleh Wifqi (www.wifqimedia.com).
********
Semoga kisah sederhana ini menjadi pengingat bagi kita untuk terus membuka diri terhadap ilmu baru.
Untuk menikmati lebih banyak cerita penuh pesan dan makna, silakan kunjungi laman Daftar Isi website ini.
Posting Komentar