Fabel Rubah dan Buah Anggur yang Masam: Pelajaran Hidup dari Kegagalan

Daftar Isi

Fabel Rubah dan Buah Anggur merupakan dongeng binatang yang menggambarkan cara seseorang bersikap saat ia gagal meraih apa yang diinginkannya. Fabel ini bersumber dari karya Aesop, seorang penulis Yunani Kuno.

Rubah dan Anggur yang Masam

Siang itu matahari bersinar terik. Seekor rubah menyusuri hutan dengan perut lapar dan tenggorokan kering. Sejak pagi ia berkeliling mencari makan, tetapi ia belum mendapatkan apa pun.

Langkahnya terhenti saat memasuki sebuah kebun yang terbengkalai. Saat itu, ia melihat untaian buah anggur pada tanaman anggur di terali rambatan. 

Anggur itu berwarna ungu dan tampak segar. Sang rubah membayangkan betapa enaknya anggur itu saat ia memakannya nanti. "Pasti anggur itu ranum dan manis," pikirnya.

Tanpa menunggu lama, rubah itu berusaha mengambil anggur itu. Ia mundur beberapa langkah, lalu berlari dan melompat sekuat tenaga. Ujung cakarnya hampir menyentuh buah itu, tetapi ia gagal.

Ia mencoba lagi. Kali ini ia mengambil ancang-ancang lebih jauh dan melompat lebih tinggi. Akan tetapi, anggur itu tetap berada di luar jangkauan. 

Sang rubah kembali mengumpulkan tenaganya. Ia berlari dan melompat sekali lagi. Namun, ia kembali gagal.

Ia jatuh terduduk di tanah, sedangkan anggur itu tetap tergantung di atas sana. Sang rubah menatap anggur itu dengan mata lelah dan rahang yang mengeras.

Sang rubah merasa kesal. Tak sanggup mengakui kegagalannya, ia pun mencari alasan. 

Dengan nada sinis, ia menggerutu, "Ah, anggur itu pasti masam dan belum matang. Mengapa aku harus bersusah payah mengambilnya?'

Ia mendengus dan kembali menggerutu, “Anggur itu tak layak untukku, biarlah dimakan oleh hewan lain yang rakus.”

Sang rubah akhirnya pergi meninggalkan kebun dengan hati yang masam.

Jangan lewatkan fabel inspiratif lainnya:

Kumpulan Dongeng dan Fabel Aesop

Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Cerita

Kisah Rubah dan Buah Anggur yang Masam bukanlah merupakan kisah kesuksesan, melainkan kisah tentang bagaimana menyikapi suatu kegagalan. 

Dalam cerita, rubah menyatakan bahwa anggur yang awalnya ia anggap ranum dan manis sebagai anggur yang masam hanya karena ia tidak mampu meraihnya setelah berupaya berkali-kali.

Dengan menggunakan alegori rubah, kisah ini memotret perilaku seseorang yang cenderung meremehkan atau mengejek suatu hal ketika ia tidak mampu meraih hal tersebut.

Kegagalan tidaklah menyenangkan. Ketika seseorang mengalaminya, ia tidak mau mengakui bahwa dirinya gagal. Lalu, untuk melindungi harga dirinya, ia mengalihkan rasa kesal atau putus asanya dengan cara mencela sesuatu yang ia gagal mencapainya.

Bagi dirinya, lebih mudah untuk mencari pembenaran daripada mengakui ketidakmampuannya meraih hasil yang diharapkan.

Suatu contoh, ada siswa yang gagal meraih nilai bagus dalam ujian akhir sekolah. Ia telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi ujian tersebut dengan belajar rajin. Akan tetapi, usaha ternyata tidak berbanding lurus dengan hasil. Ketika nilai ujian keluar, ia merasa kecewa dengan nilainya yang biasa-biasa saja. 

Kemudian ia menyatakan bahwa hasil ujian itu tidak berarti apa-apa dalam hidupnya, kecuali hanya sekadar nilai dalam ijazah. Ia menganggap bahwa nilai ujian tidak penting karena yang penting adalah bagaimana ia menjalani kehidupannya nanti setelah sekolah.

Meskipun benar bahwa hasil ujian bukanlah segala-galanya, tetapi cara siswa tersebut menyikapi kegagalannya berbanding terbalik dengan keyakinan awalnya. Ia sebenarnya menganggap penting ujian tersebut. Akan tetapi, karena ia gagal meraih hasil yang bagus lalu ia berubah pendapat dan menyatakan bahwa hasil ujian itu tidak terlalu penting.

Sikap siswa tersebut merupakan bentuk penyangkalan diri atas ketidakmampuannya meraih hasil yang bagus dalam ujian. Meskipun mekanisme penyangkalan diri ini bisa melindungi dirinya dari kekecewaan yang berlebihan, tetapi hal ini dapat membawa konsekuensi yang negatif bagi kehidupannya.

Ketika seseorang menyangkal kegagalannya dengan berbagai alasan, ia justru menghambat proses pengembangan dirinya. Tidak ada dorongan dan upaya untuk mengevaluasi diri karena ia tidak merasa ada sesuatu yang salah sama sekali.

Untuk itu, akan lebih baik bagi dirinya untuk berlapang dada mengakui bahwa ia telah gagal. Penerimaan diri bahwa ia belum mampu meraih hasil yang optimal akan membuat dirinya sadar dengan kegagalan tersebut sehingga dapat menjadi pembelajaran.

* * *

Dalam hidup, kita perlu menyadari bahwa memang ada hal-hal yang tidak mampu kita gapai karena keterbatasan kita sebagai manusia. Keterbatasan itu bisa berupa keterbatasan kemampuan,  keterbatasan sumber daya, atau keterbatasan lainnya. 

Selanjutnya, dengan penerimaan seperti itu kita dapat membuat keputusan dengan lebih matang dan jernih.

Pertama, bisa jadi kegagalan itu karena memang sesuatu yang ingin kita capai benar-benar berada di luar jangkauan kemampuan kita. Dalam kondisi seperti ini, alangkah baiknya kita dapat mengalihkan kerja keras dan usaha kita untuk hal lainnya. Hidup terus berjalan, dan banyak hal lain yang bisa kita raih dan upayakan.

Kedua, bisa jadi kegagalan itu karena kita belum mengerahkan segala kemampuan yang kita miliki. Tidak semua hasil akan berhasil pada percobaan pertama atau kedua. Bisa jadi keberhasilan akan datang setelah kita berupaya berkali-kali tanpa kenal menyerah.

Dalam kondisi seperti ini, kita perlu mempertimbangkan apakah akan melanjutkan upaya kita. Jika memang masih ada kekuatan dan masih ada potensi untuk mencapai keberhasilan, perlu kita pertimbangkan untuk tetap bekerja keras meraih apa yang kita inginkan.

Ketiga, bisa jadi kita belum memiliki kemampuan saat ini, tetapi akan memiliki kemampuan suatu saat nanti. Kemampuan kita dapat meningkat melalui proses pembelajaran, latihan, dan pengalaman. Menyadari kegagalan akan membuat kita tahu bahwa kita memiliki keterbatasan. Dengan demikian kita akan berupaya meningkatkan kemampuan dengan mengoptimalkan potensi diri.

Dalam hal ini, kegagalan saat ini yang diperoleh bukanlah merupakan suatu akhir yang pahit, melainkan sebuah fase menuju keberhasilan yang sejati.

Keempat, bisa juga kegagalan itu karena kita tidak menerapkan strategi yang tepat. Rubah berkali-kali melompat tetapi gagal. Hal ini menunjukkan bahwa anggur terlalu tinggi sehingga perlu cara lain agar berhasil, misalnya dengan menaiki batu atau pohon sebelum melompat.

Dengan mengakui kegagalan dan keterbatasan, kita bisa mengambil makna kegagalan untuk mencari strategi yang lebih baik. Dengan cara yang satu gagal, bisa jadi dengan cara yang lain bisa berhasil. Menemukan pendekatan yang lebih tepat merupakan upaya penting dalam meraih suatu tujuan.

********

Kisah di atas merupakan adaptasi dari cerita berbahasa Inggris berjudul "The Fox and the Grapes" karya Aesop, yang terjemahannya adalah di bawah ini.

Fabel Aesop dari Sumber Klasik Domain Publik

Berikut ini beberapa terjemahan bebas dari Kisah Rubah dan Buah Anggur dalam berbagai versi klasik. Meskipun alurnya serupa, tiap versi menampilkan penekanan yang berbeda.

Rubah dan Buah Anggur (Versi Townsend)

Seekor rubah yang kelaparan melihat untaian anggur hitam yang ranum tergantung pada tanaman anggur di terali rambatan. Ia mengerahkan segala siasat untuk menggapai anggur-anggur itu. Namun, tenaganya terkuras sia-sia karena anggur-anggur itu tak dapat dijangkaunya.

Akhirnya, sang rubah pun melangkah pergi sambil menyembunyikan rasa kecewanya dan berkata, "Anggur itu ternyata masam, dan belum matang seperti yang kukira."

(Diterjemahkan secara bebas dari buku Three Hundred Æsop’s Fables Literally Translated from the Greek. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh George Fyler Townsend)


Sang Rubah dan Buah Anggur (Versi Joseph Jacobs)

Pada suatu hari di musim panas yang terik, seekor rubah sedang menyusuri sebuah kebun buah, hingga ia menemukan seuntai anggur yang baru saja matang pada tanaman anggur yang dirambatkan di atas sebuah dahan yang tinggi.

“Ini dia yang bisa memuaskan dahagaku,” ucapnya. 

Mundur beberapa langkah, sang rubah berlari dan melompat, nyaris mengenai untaian anggur itu. Berbalik lagi dengan ancang-ancang satu, dua, tiga, ia melompat ke atas, tetapi tetap tidak berhasil. 

Berkali-kali ia mencoba mengincar santapan yang menggoda itu, tetapi akhirnya ia harus menyerah. Ia pun melangkah pergi dengan hidung mendongak seraya berkata, “Aku yakin anggur-anggur itu masam.”

      Mudah untuk meremehkan apa yang tidak bisa kau dapatkan.

(Diterjemahkan secara bebas dari buku The Fables of Aesop, Selected, Told Anew and Their History Traced by Joseph Jacobs)


Sang Rubah dan Buah Anggur (Versi Vernon Jones)

Seekor rubah yang lapar melihat beberapa untaian anggur yang indah tergantung pada tanaman anggur yang dirambatkan di sepanjang terali yang tinggi. Lalu ia berusaha semaksimal mungkin untuk menjangkaunya dengan melompat setinggi-tingginya ke udara.

Namun semua itu sia-sia karena buah itu berada tepat di luar jangkauannya. Maka ia pun menyerah, lalu berjalan pergi dengan sikap penuh wibawa dan seolah tak peduli, sambil berujar, “Kukira anggur-anggur itu sudah matang, tapi sekarang aku melihat bahwa anggur-anggur itu ternyata sangat masam.”

(Diterjemahkan secara bebas dari buku Aesop's Fables, A New Translation by V. S. Vernon Jones)


Sang Rubah dan Buah Anggur (Versi Milo Winter)

Suatu hari seekor rubah mengintai seuntai anggur matang yang indah, tergantung pada tanaman anggur yang dirambatkan pada dahan-dahan pohon. Anggur itu tampak sangat ranum dan penuh sari buah, dan air liur si rubah pun menetes saat ia menatapnya dengan penuh damba.

Untaian itu tergantung pada dahan yang tinggi, sehingga si rubah harus melompat untuk menggapainya. Saat pertama kali melompat, ia meleset jauh. Maka ia berjalan mundur sedikit, lalu berlari dan melompat, namun lagi-lagi ia gagal. Berulang kali ia mencoba, tetapi sia-sia.

Kini ia duduk dan memandang anggur-anggur itu dengan rasa muak.

"Betapa bodohnya aku," ucapnya. "Di sini aku membuat diriku lelah hanya untuk memperoleh seuntai anggur masam yang bahkan tak layak untuk dipandang."

Lalu sang rubah melangkah pergi dengan sikap sangat penuh cemoohan.

      Banyak orang yang berpura-pura membenci dan meremehkan apa yang berada di luar jangkauan mereka.

(Diterjemahkan secara bebas dari The Æsop for Children with Pictures by Milo Winter)


Sang Rubah dan Buah Anggur (Versi Samuel Croxall)

Seekor rubah yang sangat lapar secara kebetulan masuk ke sebuah kebun anggur. Di sana terdapat untaian anggur matang yang menawan, tetapi tergantung pada terali rambatan yang begitu tinggi. Ia melompat berkali-kali hingga ia benar-benar kelelahan tanpa bisa menjangkau satu pun buah tersebut. Akhirnya, ia pun berkata, "Biarlah anggur itu untuk siapa pun yang mau mengambilnya! Anggur itu masih hijau dan masam, jadi lebih baik aku biarkan saja."

Penerapan

Fabel ini adalah teguran telak bagi sekelompok orang sombong dan pongah di dunia ini yang berpura-pura membenci segala hal yang tidak sanggup mereka raih, hanya karena mereka tidak ingin terlihat gagal atau kecewa dalam ambisi mereka. Terdapat kecenderungan aneh dalam diri umat manusia terhadap watak semacam ini, dan ada begitu banyak penggerutu yang tidak pernah merasa puas di setiap lapisan dan golongan kehidupan.

Negarawan yang tersisih, dengan dalih memikirkan betapa korupnya zaman sekarang, akan bersikeras menyatakan tidak sudi ikut campur dalam urusan pemerintahan demi apa pun di dunia ini! Bangsawan lokal akan mencela kehidupan istana, dan bersumpah tidak akan mau merunduk atau menjilat di ruang pertemuan demi jabatan terbaik yang ditawarkan oleh raja. Begitu pula seorang pemuda, ketika ia ditanya pendapatnya tentang seorang wanita cantik pujaan yang sebenarnya telah menolaknya mentah-mentah, ia dengan enteng menjawab bahwa perempuan itu memiliki bau mulut yang busuk.

Betapa tak tertahankannya kesombongan makhluk malang yang bernama manusia ini! Ia lebih memilih menjatuhkan martabatnya sendiri dengan melakukan tindakan yang paling nista dan menjijikkan daripada dianggap tidak mampu melakukan sesuatu. Sebab, adakah yang lebih nista dan menjijikkan daripada berbohong? Dan kapankah kita berbohong lebih terang-terangan selain saat kita mencela dan mencari-cari kesalahan pada sesuatu, tanpa alasan lain kecuali karena hal itu berada di luar kuasa kita?

(Diterjemahkan secara bebas dari Some of Æsop's Fables, Embellished with One Hundred and Eleven Emblematical Devices. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh Samuel Croxall)


Sang Rubah dan Buah Anggur (Versi Stickney)

Hari itu begitu gerah, dan seekor rubah nyaris pingsan menahan lapar dan dahaga. Ia tengah membatin bahwa ia bersedia menyantap apa saja, ketika matanya tertuju ke atas dan melihat untaian besar anggur hitam yang ranum bergelantungan dari tanaman anggur yang dirambatkan pada teralis.

“Benar-benar mujur!” ucapnya, “andaikan saja letaknya tidak setinggi itu, aku pasti akan mendapatkan jamuan yang istimewa. Aku ingin tahu apakah aku bisa menggapainya. Rasa-rasanya, tak ada hal lain yang bisa begitu menyegarkan diriku selain buah ini.”

Bagi seekor rubah, melompat tinggi ke udara bukanlah perkara mudah; namun ia melompat sekuat tenaga hingga hampir menyentuh untaian yang paling bawah.

“Akan kucoba lebih baik lagi nanti,” pikirnya.

Ia mencoba lagi dan lagi, namun hasilnya justru tak sebaik upaya pertamanya. Menyadari tenaganya kian terkuras dan kecil kemungkinannya untuk mendapatkan anggur itu, ia pun melangkah pergi perlahan sembari menggerutu: “Anggur-anggur itu ternyata masam, sama sekali tidak layak kusantap. Biarlah untuk burung-burung rakus saja. Mereka toh memakan apa saja.”

(diterjemahkan secara bebas dari Æsop's Fables: A Version for Young Readers by J. H. Stickney)


Sang Rubah dan Buah Anggur (Versi Thomas Bewick)

Seekor rubah yang lapar sampai di sebuah kebun anggur, di sana tergantung untaian anggur matang yang lezat, hingga air liurnya menetes ingin mencicipinya. Namun, anggur-anggur itu dirambatkan pada sebuah teralis yang begitu tinggi, sehingga meski telah melompat dan melenting sekuat tenaga, ia tetap tidak bisa menjangkau satu pun untaian buah itu. Hingga akhirnya, dengan rasa lelah dan kecewa, ia pun berkata, "Biarlah siapa pun yang mau mengambilnya! Anggur-anggur itu masih hijau dan masam; jadi lebih baik aku biarkan saja."

Penerapan

Berpura-pura membenci apa yang telah lama diupayakan namun gagal didapatkan adalah satu-satunya pelipur lara bagi jiwa-jiwa yang kerdil, baik untuk menutupi ketidakmampuan mereka maupun untuk meredam pahitnya kekecewaan.

Terdapat kecenderungan aneh dalam diri umat manusia terhadap watak semacam ini, dan ada begitu banyak orang sombong dan pongah di dunia yang berpura-pura tidak menyukai segala hal yang tidak bisa mereka raih hanya karena mereka tidak ingin terlihat gagal dalam ambisi apa pun yang mereka kejar.

Negarawan yang tersisih, dengan dalih memikirkan betapa korupnya zaman sekarang, akan mengaku tidak sudi ikut campur dalam urusan pemerintahan demi apa pun di dunia ini!

Si petualang melarat dan patriot palsu akan berkoar-koar kepada siapa saja bahwa mereka tidak sudi merunduk dan menjilat di ruang pertemuan istana, bahkan demi jabatan terbaik yang ada dalam kuasa raja sekalipun!

Begitu pula para pemuda tak berguna yang pinangannya terhadap wanita cantik pujaan ditolak mentah-mentah, serta para pecundang malang yang mengejek orang-orang kaya dan hebat; mereka semua sama saja, bersikap layaknya Reynard si rubah licik yang berkata bahwa anggur itu masam!

(diterjemahkan secara bebas dari The Fables of Æsop and Others with Design on Woods by Thomas Bewick)


Untuk menikmati lebih banyak cerita penuh pesan dan makna, silakan kunjungi laman Daftar Isi website ini.

Posting Komentar