Fabel Rubah dan Buah Anggur yang Masam: Kisah tentang Rasionalisasi Kegagalan
Fabel tentang rubah dan buah anggur yang masam merupakan alegori yang menggambarkan bagaimana seseorang enggan mengakui kegagalannya, lalu ia malah meremehkan apa yang ingin diraihnya sebagai sesuatu yang tidak berharga.
Berikut ini cerita lengkapnya, dengan judul Kisah Rubah dan Anggur yang Masam.
Kisah Rubah dan Anggur yang Masam
Siang itu matahari bersinar terik. Seekor rubah berjalan ke sana kemari dengan perut lapar dan tenggorokan kering. Sejak pagi ia berkeliling mencari makanan, tetapi belum mendapatkan sesuatu yang memuaskan rasa lapar dan dahaganya.
Langkah sang rubah kemudian terhenti saat memasuki sebuah kebun yang terbengkalai. Di sana ia melihat untaian buah anggur pada tanaman yang merambat di atas dahan pohon yang tinggi.
Anggur itu berwarna ungu dan tampak segar. Sang rubah membayangkan betapa enaknya anggur itu saat ia memakannya nanti. "Pasti anggur itu ranum dan manis," pikirnya.
Tanpa menunggu lama, sang rubah berusaha mengambil anggur itu dengan melompat setinggi-tingginya sambil menjulurkan cakarnya ke arah buah itu. Akan tetapi, usaha kerasnya mengalami kegagalan. Ia tidak berhasil menggapai buah yang menggiurkan itu.
Sang rubah tidak patah semangat. Dengan mengambil ancang-ancang yang cukup jauh, ia berlari dan melompat sekuat tenaga. Sayangnya, hasilnya sama saja. Anggur itu masih berada di luar jangkauannya.
Sang rubah masih penasaran karena tidak berhasil mendapatkan keinginannya. Ia pun kembali mengumpulkan tenaganya, kemudian berlari dan melompat sekali lagi. Namun, ia kembali gagal dan tak satu pun buah anggur mampu ia raih.
Dengan tubuh yang lelah, sang rubah terduduk di tanah, sedangkan anggur itu tetap tergantung di atas dahan pohon yang tinggi.
Sang rubah menatap anggur itu dengan sorot mata yang kesal dan rahang yang mengeras. Dengan nada sinis, ia menggerutu, "Ah, anggur itu pasti masam dan belum matang. Mengapa aku harus bersusah payah mengambilnya?"
Lalu sang rubah berdiri kembali sambil mendengus kesal, “Anggur itu tak layak untukku, biarlah dimakan oleh hewan lain yang rakus.”
Sang rubah akhirnya pergi meninggalkan kebun dengan hati yang masam.
Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Cerita
Kisah Rubah dan Buah Anggur yang Masam bukanlah kisah kesuksesan, melainkan alegori tentang bagaimana seseorang merasionalisasi kegagalannya.
Dalam cerita, rubah menyatakan bahwa anggur yang awalnya ia anggap ranum dan manis sebagai anggur yang masam hanya karena ia tidak mampu meraihnya setelah berupaya berkali-kali.
Dengan menggunakan alegori rubah, kisah ini memotret perilaku seseorang yang cenderung meremehkan atau mengejek suatu hal ketika ia tidak mampu meraih hal tersebut.
Kegagalan tidaklah menyenangkan. Ketika seseorang mengalaminya, ia tidak mau mengakui bahwa dirinya gagal. Lalu, untuk melindungi harga dirinya, ia mengalihkan rasa kesal atau putus asanya dengan cara mencela sesuatu yang ia gagal mencapainya.
Bagi dirinya, lebih mudah untuk mencari pembenaran daripada mengakui ketidakmampuannya meraih hasil yang diharapkan.
Suatu contoh, ada siswa yang gagal meraih nilai bagus dalam ujian akhir sekolah. Ia telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi ujian tersebut dengan belajar rajin. Akan tetapi, usaha ternyata tidak berbanding lurus dengan hasil. Ketika nilai ujian keluar, ia merasa kecewa dengan nilainya yang biasa-biasa saja.
Kemudian ia menyatakan bahwa hasil ujian itu tidak berarti apa-apa dalam hidupnya, kecuali hanya sekadar nilai dalam ijazah. Ia menganggap bahwa nilai ujian tidak penting karena yang penting adalah bagaimana ia menjalani kehidupannya nanti setelah lulus sekolah.
Meskipun benar bahwa hasil ujian bukanlah segala-galanya, tetapi cara siswa tersebut menyikapi kegagalannya berbanding terbalik dengan keyakinan awalnya. Ia sebenarnya menganggap penting ujian tersebut. Akan tetapi, karena ia gagal meraih hasil yang bagus lalu ia mengubah pendapatnya dan menyatakan bahwa hasil ujian itu tidak terlalu penting.
Sikap siswa tersebut merupakan bentuk penyangkalan diri atas ketidakmampuannya meraih hasil yang bagus dalam ujian. Meskipun mekanisme penyangkalan diri ini bisa melindungi dirinya dari kekecewaan yang berlebihan, tetapi hal ini dapat membawa konsekuensi yang negatif bagi kehidupannya.
Ketika seseorang menyangkal kegagalannya dengan berbagai alasan, ia justru menghambat proses pengembangan dirinya. Tidak ada dorongan dan upaya untuk mengevaluasi diri karena ia tidak merasa ada sesuatu yang salah sama sekali.
Untuk itu, akan lebih baik bagi dirinya untuk berlapang dada mengakui bahwa ia telah gagal. Penerimaan diri bahwa ia belum mampu meraih hasil yang optimal akan membuat dirinya sadar dengan kegagalan tersebut sehingga dapat menjadi pembelajaran.
* * *
Dalam hidup, kita perlu menyadari bahwa memang ada hal-hal yang tidak mampu kita gapai karena keterbatasan kita sebagai manusia. Keterbatasan itu bisa berupa keterbatasan kemampuan, keterbatasan sumber daya, atau keterbatasan lainnya.
Selanjutnya, dengan penerimaan seperti itu kita dapat membuat keputusan dengan lebih matang dan jernih tentang langkah-langkah ke depan yang dapat kita ambil.
Pertama, bisa jadi kegagalan itu karena memang sesuatu yang ingin kita capai benar-benar berada di luar jangkauan kemampuan kita. Dalam kondisi seperti ini, alangkah baiknya kita dapat mengalihkan kerja keras dan usaha kita untuk hal lainnya. Hidup terus berjalan, dan banyak hal lain yang bisa kita raih dan upayakan.
Kedua, bisa jadi kegagalan itu karena kita belum mengerahkan segala kemampuan yang kita miliki. Tidak semua hal akan berhasil pada percobaan pertama atau kedua. Bisa jadi keberhasilan akan datang setelah kita berupaya berkali-kali tanpa kenal menyerah.
Dalam kondisi seperti ini, kita perlu mempertimbangkan apakah akan melanjutkan upaya kita. Jika memang masih ada kekuatan dan masih ada potensi untuk mencapai keberhasilan, perlu kita pertimbangkan untuk tetap bekerja keras meraih apa yang kita inginkan.
Ketiga, bisa jadi kita belum memiliki kemampuan saat ini, tetapi akan memiliki kemampuan suatu saat nanti. Kemampuan kita dapat meningkat melalui proses pembelajaran, latihan, dan pengalaman. Menyadari kegagalan akan membuat kita tahu bahwa kita memiliki keterbatasan. Dengan demikian kita akan berupaya meningkatkan kemampuan dengan mengoptimalkan potensi diri.
Dalam hal ini, kegagalan saat ini yang diperoleh bukanlah merupakan suatu akhir yang pahit, melainkan sebuah fase menuju keberhasilan yang sejati.
Keempat, bisa juga kegagalan itu karena kita tidak menerapkan strategi yang tepat. Rubah berkali-kali melompat tetapi gagal. Hal ini menunjukkan bahwa anggur terlalu tinggi sehingga perlu cara lain agar berhasil, misalnya dengan menaiki batu atau pohon sebelum melompat.
Dengan mengakui kegagalan dan keterbatasan, kita bisa mengambil makna kegagalan untuk mencari strategi yang lebih baik. Dengan cara yang satu gagal, bisa jadi dengan cara yang lain bisa berhasil. Menemukan pendekatan yang lebih tepat merupakan upaya penting dalam mencapai tujuan yang kita inginkan.
Kisah di atas merupakan adaptasi dari cerita berbahasa Inggris berjudul The Fox and the Grapes karya Aesop.
Berikut adalah terjemahan kisah tersebut dari berbagai sumber klasik, yang secara umum memiliki isi serupa, tetapi menyajikan narasi dan detail yang berbeda.
Catatan: Untuk versi asli dalam Bahasa Inggris, silakan klik pada tautan ini.
Referensi Fabel Aesop dari Sumber Klasik
Si Rubah dan Buah Anggur (Versi George Fyler Townsend)
Seekor rubah yang sangat lapar melihat untaian anggur hitam yang ranum menggantung pada sulur yang merambat di terali. Ia mengerahkan segala daya upayanya untuk meraihnya, namun usahanya hanya berujung pada kelelahan yang sia-sia, karena buah tersebut tetap tak dapat dijangkaunya.
Akhirnya, ia pun berlalu sembari menyembunyikan rasa kecewanya dan berkata, "Anggur itu ternyata masam, dan tidak seranum yang kukira."
(Diterjemahkan secara bebas dari buku Three Hundred Æsop’s Fables Literally Translated from the Greek. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh George Fyler Townsend. — Domain Publik)
Si Rubah dan Buah Anggur (Versi Joseph Jacobs)
Suatu hari di musim panas yang terik, seekor rubah tengah menyusuri sebuah kebun buah hingga ia menjumpai seuntai anggur yang mulai ranum. Buah-buah itu bergantung pada sulur yang merambat tinggi pada dahan yang menjulang.
"Tepat seperti yang kubutuhkan untuk melepas dahaga," gumamnya.
Mundur beberapa langkah, ia berlari lalu melompat, tetapi hanya nyaris meraihnya. Ia berbalik lagi, mengambil ancang-ancang—satu, dua, tiga—lalu melompat tinggi, tetapi hasilnya tetap nihil. Berulang kali ia mencoba meraih santapan yang menggoda itu, hingga akhirnya ia harus menyerah.
Ia pun berlalu dengan hidung mendongak angkuh seraya berkata, "Aku yakin anggur-anggur itu masam."
Begitu mudah meremehkan apa yang tak sanggup kita raih.
(Diterjemahkan secara bebas dari buku The Fables of Aesop, Selected, Told Anew and Their History Traced by Joseph Jacobs. — Domain Publik)
Si Rubah dan Buah Anggur (Versi V.S. Vernon Jones)
Seekor rubah yang lapar melihat beberapa untaian anggur yang indah menggantung pada sulur yang merambat di terali yang tinggi. Ia pun mengerahkan segenap daya upayanya untuk menjangkaunya dengan melompat setinggi-tingginya ke udara.
Namun segalanya sia-sia, karena buah itu tetap berada tepat di luar jangkauannya. Maka ia pun menyerah, lalu berlalu dengan sikap angkuh dan seolah tak peduli, seraya berujar, “Kukira anggur-anggur itu sudah ranum, tetapi sekarang aku tahu bahwa anggur-anggur itu ternyata benar-benar masam.”
(Diterjemahkan secara bebas dari buku Aesop's Fables, A New Translation by V. S. Vernon Jones. — Domain Publik)
Si Rubah dan Buah Anggur (Versi Milo Winter)
Suatu hari seekor rubah melihat seuntai anggur matang yang indah, tergantung pada tanaman anggur yang dirambatkan di dahan-dahan pohon. Anggur itu tampak begitu ranum hingga seolah penuh dengan sari buah, dan air liur sang rubah pun mengalir saat ia menatapnya dengan penuh harap.
Untaian itu tergantung pada dahan yang tinggi, sehingga sang rubah harus melompat untuk menggapainya. Saat pertama kali melompat, ia meleset jauh. Maka ia berjalan mundur sedikit, lalu berlari dan melompat, namun lagi-lagi ia gagal. Berulang kali ia mencoba, tetapi sia-sia.
Kini ia duduk dan memandang anggur-anggur itu dengan rasa muak.
"Betapa bodohnya aku," ucapnya. "Di sini aku melelahkan diriku hanya untuk memperoleh seuntai anggur masam yang bahkan tak layak untuk diinginkan."
Lalu sang rubah melangkah pergi dengan sikap penuh cemooh.
Banyak orang yang berpura-pura membenci dan meremehkan apa yang berada di luar jangkauan mereka.
(Diterjemahkan secara bebas dari The Æsop for Children with Pictures by Milo Winter. — Domain Publik)
Si Rubah dan Buah Anggur (Versi Samuel Croxall)
Seekor rubah yang sangat lapar secara kebetulan tiba di sebuah kebun anggur. Di sana ia melihat untaian anggur matang yang menggoda, namun buah-buah itu tergantung pada terali yang sangat tinggi. Ia melompat berkali-kali hingga benar-benar kelelahan tanpa bisa menjangkau satu pun di antaranya. Akhirnya, ia pun berkata, "Biarlah siapa pun mengambilnya! Anggur itu masih hijau dan masam, jadi aku biarkan saja."
Penerapan
Fabel ini adalah teguran tajam bagi sekelompok orang angkuh di dunia ini yang, karena tak ingin dianggap gagal dalam usaha mereka, berpura-pura membenci segala hal yang tidak sanggup mereka raih.
Ada kecenderungan yang aneh dalam diri manusia terhadap watak semacam ini, dan tidak sedikit orang yang suka menggerutu serta merasa tidak puas di berbagai lapisan dan golongan kehidupan.
Negarawan yang tersisih, dengan dalih betapa korupnya zaman, tak sudi lagi menyentuh urusan pemerintahan demi apa pun di dunia ini! Tuan tanah di desa akan mencela kehidupan istana, dan bersumpah tidak akan mau menghamba di ruang pertemuan demi jabatan terbaik yang bisa diberikan oleh raja.
Begitu pula seorang pemuda, ketika ia ditanya pendapatnya tentang seorang wanita cantik pujaan yang sebenarnya telah merendahkannya, ia dengan enteng menjawab bahwa perempuan itu bernapas bau.
Betapa tak tertahankannya kesombongan makhluk malang yang bernama manusia ini! Ia lebih memilih merendahkan dirinya dengan melakukan tindakan yang paling nista daripada dianggap tidak mampu melakukan sesuatu. Sebab, adakah yang lebih nista daripada berbohong? Dan kapankah kita berbohong lebih terang-terangan selain saat kita mencela dan mencari-cari kesalahan pada sesuatu, tanpa alasan lain kecuali karena hal itu berada di luar kuasa kita?
(Diterjemahkan secara bebas dari Some of Æsop's Fables, Embellished with One Hundred and Eleven Emblematical Devices. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh Samuel Croxall. — Domain Publik)
Si Rubah dan Buah Anggur (Versi J.H. Stickney)
Hari itu begitu pengap dan gerah, dan seekor rubah nyaris tak berdaya didera lapar dan dahaga. Ia tengah membatin bahwa apa pun akan ia sambut dengan senang hati, ketika matanya mendapati untaian besar anggur hitam yang ranum menggantung dari sulur yang merambat pada terali.
“Benar-benar mujur!” ucapnya. “Andaikan saja letaknya tidak terlalu tinggi, aku pasti akan mendapatkan jamuan yang istimewa. Aku ingin tahu apakah aku bisa menggapainya. Rasanya tak ada hal lain yang bisa begitu menyegarkan diriku selain buah ini.”
Bagi seekor rubah, melompat tinggi ke udara bukanlah perkara mudah; namun ia meloncat sekuat tenaga hingga nyaris menjangkau untaian yang paling bawah.
“Lompatan berikutnya harus lebih baik,” katanya.
Ia mencoba lagi dan lagi, namun hasilnya justru tak sebaik upaya pertamanya. Menyadari tenaganya kian terkuras dan kecil kemungkinannya untuk mendapatkan anggur itu, ia pun melangkah pergi perlahan sembari menggerutu, “Anggur-anggur itu ternyata masam, sama sekali tidak layak kusantap. Biarlah untuk burung-burung rakus saja. Mereka toh memakan apa saja.”
(Diterjemahkan secara bebas dari Æsop's Fables: A Version for Young Readers by J. H. Stickney. — Domain Publik)
Si Rubah dan Buah Anggur (Versi Thomas Bewick)
Seekor rubah yang lapar tiba di sebuah kebun anggur tempat bergantung untaian buah anggur matang yang lezat. Air liurnya menetes karena sangat ingin menyantapnya; namun anggur-anggur itu tergantung pada terali yang begitu tinggi, sehingga meskipun ia telah mengerahkan segala upaya untuk melonjak dan melompat, ia tetap tidak bisa menjangkau satu pun untaian buah itu.
Akhirnya, karena merasa lelah dan kecewa, ia berkata, "Biarlah siapa pun mengambilnya! Anggur-anggur itu sebenarnya masih hijau dan masam; jadi lebih baik aku biarkan saja."
Penerapan
Berpura-pura meremehkan apa yang telah lama diupayakan namun gagal didapatkan adalah satu-satunya pelipur lara bagi jiwa-jiwa yang lemah; baik untuk menyamarkan ketidakmampuan mereka, maupun untuk meredam rasa pahit akibat kekecewaan.
Ada kecenderungan aneh pada umat manusia terhadap watak seperti ini, dan terdapat banyak orang pongah di dunia yang — karena tidak ingin dianggap gagal dalam ambisi mereka — berpura-pura membenci segala sesuatu yang tidak mampu mereka dapatkan.
Negarawan yang tersisih, dengan dalih memikirkan betapa korupnya zaman sekarang, akan bersumpah tak sudi lagi menyentuh urusan pemerintahan demi apa pun di dunia ini! Petualang yang melarat dan patriot palsu akan berusaha meyakinkan siapa saja bahwa mereka tidak sudi merunduk dan menjilat di ruang pertemuan istana, bahkan demi jabatan terbaik yang ada dalam kuasa raja sekalipun!
Begitu pula para pemuda tak berguna yang upayanya untuk mendekati wanita cantik berbudi ditolak mentah-mentah, serta para pecundang malang yang mengejek orang-orang kaya dan hebat; mereka semua sama saja, bersikap layaknya si Reynard, si rubah licik yang berkata bahwa anggur itu masam!
(Diterjemahkan secara bebas dari The Fables of Æsop and Others with Design on Woods by Thomas Bewick. — Domain Publik)
Untuk menikmati lebih banyak cerita penuh pesan dan makna, silakan kunjungi laman Daftar Isi website ini.
Untuk membaca dongeng dan fabel Aesop, silakan kunjungi laman Kumpulan Dongeng dan Fabel Aesop

Posting Komentar