Kisah Inspiratif Tentang Cita-Cita: Hidup Tidak Selalu Mengikuti Arus Air
Dialog di Ruang Kelas
Pagi itu, suasana kelas terasa ramai. Sang Guru berdiri di depan murid-muridnya sambil menanyakan impian dan cita-cita mereka di masa depan.
Dengan antusias, mereka menjawab pertanyaan itu dengan beragam jawaban. Ada yang ingin menjadi dokter, polisi, petani, dan berbagai pekerjaan lainnya.
Seorang murid bernama Rindang Bumi memiliki jawaban yang berbeda. Jika teman-temannya menyebut pekerjaan tertentu, Rindang Bumi menjawab, "Biarlah hidupku mengalir seperti air saja, Guru."
Beberapa murid tampak saling berpandangan mendengar jawaban itu. Namun Sang Guru tidak segera menanggapi. Beliau hanya mengangguk pelan sambil memperhatikan muridnya itu.
Setelah keheningan sejenak, Sang Guru kembali menyapu pandangannya ke seluruh kelas. Beliau tersenyum lalu berkata, "Semoga suatu hari nanti kalian benar-benar bisa meraih cita-cita itu."
Pelajaran di Tepi Sungai
Beberapa waktu kemudian, Sang Guru membawa murid-muridnya berjalan-jalan di tepi sebuah sungai besar. Sungai itu berarus deras, tetapi di bagian pinggirnya cukup tenang dan dangkal sehingga cocok digunakan untuk merendam kaki atau sekadar bermain air.
Sungai itu berujung pada sebuah air terjun. Dari kejauhan tampak air jatuh ke bawah dengan curahan yang deras. Di bawah air terjun itu, air kembali mengalir menjadi sungai yang dipenuhi bebatuan besar.
Suara gemuruh air terjun terdengar samar dari kejauhan. Sementara itu, angin sejuk berembus pelan melewati pepohonan di sekitar sungai.
Sang Guru kemudian membebaskan para muridnya untuk bergembira dan menikmati keindahan alam, sambil mengingatkan mereka untuk tidak berada terlalu dekat dengan bibir air terjun yang berbahaya.
Anak-anak pun bermain dengan riang. Ada yang saling memercikkan air, ada pula yang duduk di atas batu sambil menikmati aliran sungai.
Di sela keriuhan itu, Sang Guru turun ke air dan duduk di sebuah batu besar. Kebetulan saat itu beliau berada dekat dengan Rindang Bumi.
Dalam kesempatan itu, Sang Guru mengajak muridnya itu bercakap-cakap. "Anakku, beberapa waktu yang lalu kamu berkata bahwa kamu ingin hidup mengalir seperti air. Jawabanmu itu cukup menarik," kata beliau.
"Iya, Guru. Aku merasa hidup seperti itu lebih tenang," kata Rindang Bumi.
"Memang, hidup yang mengalir lancar seperti air sungai itu menyenangkan, tetapi ada bahaya yang perlu kamu perhatikan dari jawabanmu itu," ujar Sang Guru.
Lalu beliau melanjutkan perkataannya sambil menunjuk sebuah batang kayu yang hanyut terbawa arus. "Coba kamu lihat batang kayu itu," perintah Sang Guru.
Batang kayu itu melaju mengikuti derasnya aliran sungai. Semakin lama arus membawanya bergerak semakin cepat menuju ujung sungai.
Rindang Bumi memperhatikan batang kayu itu dengan saksama.
Tak lama kemudian, batang itu sampai di ujung aliran sungai dan terhempas ke dasar air terjun. Dari sana terdengar bunyi benturan keras saat batang kayu itu menghantam bebatuan cadas yang tajam.
Rindang Bumi hanya terdiam sambil memandang ke arah air terjun tempat batang kayu itu hancur.
Filosofi Batang Kayu dan Ikan
Kemudian, Sang Guru berkata, "Lihatlah Anakku, batang kayu yang hanyut di air tadi hancur saat terjun dari ujung aliran sungai. Itulah risiko jika hidup hanya sekadar mengikuti arus. Arahnya ditentukan oleh ke mana arus membawanya."
"Jika sungai mengalir menuju tempat yang tenang, batang kayu itu mungkin baik-baik saja. Namun, ketika arus membawanya ke jurang kehancuran, batang kayu itu pun hancur karena jatuh dan menabrak bebatuan," lanjut Sang Guru.
Rindang Bumi masih memandang ke arah dasar air terjun tanpa berkata apa-apa.
Melihat hal itu, Sang Guru mengingatkan kembali cita-cita muridnya. "Bayangkan jika cita-citamu seperti batang kayu itu, hanya hanyut mengikuti arus, lalu arus itu membawanya ke jurang kehancuran, maka akan hancurlah impianmu."
Rindang Bumi bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, "Lalu, sebaiknya bagaimana, Guru?"
Sang Guru menjawab, "Lihatlah ikan. Ia hidup di air deras, namun tidak serta-merta hanyut terbawa arus begitu saja."
"Ikan kadang berenang mengikuti arus, namun sering kali ia justru berenang melawannya. Begitu pula seharusnya hidupmu," tegas Sang Guru.
Rindang Bumi mengikuti arah pandangan gurunya. Tampak beberapa ikan kecil berenang di antara derasnya aliran sungai.
Sang Guru kemudian menambahkan, "Manusia pun sering kali seperti itu. Ada orang-orang yang hanya mengikuti arus zaman, tetapi ada pula mereka yang berani menentukan arah hidupnya sendiri."
"Mereka tidak sekadar hanyut oleh keadaan. Mereka memilih berjuang, bahkan ketika harus berhadapan dengan arus yang kuat," sambung beliau.
Belajar dari Tokoh Besar
Sang Guru terdiam sejenak sambil memandang aliran sungai.
"Dalam hidup manusia," lanjut beliau perlahan, "sering kali perubahan besar lahir dari mereka yang berani berjalan melawan arus."
"Bayangkan jika Nabi Muhammad hanya mengikuti arus masyarakat Arab Jahiliyah saat itu. Tentu dunia tidak akan menemukan jalan terang."
"Beliau memilih berjuang melawan arus tradisi yang rusak demi membawa perubahan besar menuju peradaban yang mulia."
Beliau juga berkisah tentang pahlawan kemerdekaan. "Jika para pejuang kemerdekaan hanya pasrah mengikuti keadaan zaman penjajahan, Indonesia mungkin tidak akan pernah berdiri sebagai bangsa yang merdeka."
"Mereka berani melawan arus, mempertaruhkan nyawa demi cita-cita kemerdekaan. Akhirnya, mereka berhasil mewujudkan mimpi besar bagi seluruh rakyat Indonesia," lanjut beliau.
Bijak dalam Mengikuti dan Melawan Arus
Mendengar kisah-kisah tersebut, Rindang Bumi merenung sejenak. Setelah beberapa saat, ia bertanya untuk memastikan, "Jadi, apakah hidup melawan arus selalu menjadi jalan yang terbaik, Guru?"
"Tentu tidak selalu demikian," jawab Sang Guru. "Kuncinya adalah kesetiaan pada tujuan hidupmu."
"Jika arus membawamu mendekat pada cita-citamu, maka ikutilah. Namun jika arus itu menjauhkanmu dari impian, engkau harus berani melawannya dengan sekuat tenaga," lanjut Sang Guru.
Rindang Bumi kembali memandang sungai yang mengalir di hadapannya. Kali ini ia tidak hanya melihat derasnya arus, tetapi juga ikan-ikan kecil yang tetap mampu berenang menentukan arahnya sendiri.
Sebagai penutup, Sang Guru berpesan kepada muridnya itu untuk menanamkan cita-cita yang kuat di dalam hati. "Miliki cita-cita yang kokoh agar engkau tidak menjadi seperti batang kayu yang tak berdaya. Kuatkan semangat untuk mencapai impianmu. Orang yang memiliki tujuan hidup tidak akan mudah hanyut oleh derasnya arus kehidupan."
Diceritakan kembali oleh Wifqi (www.wifqimedia.com).

Posting Komentar