Fabel Serigala dan Anak Domba
Dongeng Aesop merupakan cerita klasik yang digunakan untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan melalui kisah sederhana dan simbolis. Salah satu cerita yang paling dikenal hingga kini adalah Fabel Serigala dan Anak Domba, sebuah dongeng yang sarat makna tentang keadilan dan kekuasaan.
Fabel Serigala dan Anak Domba menggambarkan pertentangan antara kekuatan yang otoriter dan kepolosan yang tidak berdaya. Melalui konflik ini, Aesop menyoroti bagaimana pihak yang kuat kerap menggunakan alasan palsu untuk membenarkan tindakan tidak adil terhadap yang lemah.
Narasi Fabel Aesop: Serigala dan Anak Domba
Suatu siang yang terik, seekor anak domba yang malang tanpa sengaja terpisah dari kawanannya yang sedang merumput. Sambil berjalan menyusuri tepi sebuah sungai yang tenang, anak domba itu berhenti sejenak untuk meminum air demi melepas dahaga yang mencekik tenggorokannya.
Tanpa disadari, seekor serigala besar yang lapar sedang mengintai dari kejauhan. Serigala itu melihat anak domba yang sendirian sebagai mangsa yang sangat empuk. Namun, ia merasa perlu memiliki alasan yang tampak “benar” secara moral sebelum melancarkan serangannya.
Serigala itu kemudian keluar dari tempat pengintaiannya dan berjalan perlahan menghampiri si anak domba. Menyadari sosok pemangsa besar kini berdiri tepat di hadapannya, si anak domba seketika gemetar ketakutan karena tidak bisa melarikan diri.
Serigala itu membentak dengan suara menggelegar, “Hei, anak domba, tahukah kamu mengapa aku akan memakanmu? Itu karena tahun lalu kamu telah menghinaku dan mengataiku binatang buas!”
Anak domba itu menjawab dengan lirih, “Tuan Serigala, itu mustahil. Tahun lalu aku bahkan belum lahir ke dunia ini.”
Serigala tidak mau kalah dan kembali mencari alasan lain. “Kalau begitu, kamu akan kumakan karena kamu telah mencuri dan memakan rumput di padang milikku ini.”
“Itu juga mustahil,” sanggah anak domba. “Aku baru pertama kali datang ke tempat ini. Tidak mungkin aku telah memakan rumput di padang milik Anda.”
Serigala yang mulai kesal kembali berteriak, “Kau pasti telah mengeruhkan air sungai yang sedang kuminum saat kau minum tadi!”
Dengan memelas, anak domba itu menjawab, “Sungai ini mengalir dari tempat Anda berdiri menuju ke arahku, jadi tidak mungkin aku mengeruhkan air yang Anda minum.”
Serigala pun kehabisan kesabaran karena semua argumennya berhasil dipatahkan. Ia akhirnya membentak, “Ah, cukup dengan semua alasan itu! Aku lapar, dan aku tidak akan melewatkan makan siangku.”
Tanpa membuang waktu lagi, sang serigala segera menerkam dan melahap anak domba yang tak berdaya itu.
Pelajaran dari Kisah Serigala dan Anak Domba
Dari cerita Fabel Serigala dan Anak Domba, ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita renungkan tentang keadilan dan sikap manusia.
1. Orang yang Berniat Jahat Tidak Pernah Benar-Benar Membutuhkan Alasan
Sikap serigala dalam dongeng ini mencerminkan perilaku manusia yang kerap mencari dalih untuk membenarkan perbuatan jahat. Alasan palsu digunakan agar tindakan salah tampak wajar dan sah, terutama ketika pelakunya memiliki kekuasaan. Pembenaran tersebut bukan lahir dari kebenaran, melainkan dari kehendak untuk berbuat jahat tanpa rasa bersalah.
Sejak awal cerita, serigala telah menjadikan anak domba sebagai targetnya. Tuduhan yang dilontarkan bukan untuk mencari kebenaran, melainkan sekadar alasan agar kejahatan yang telah direncanakan tampak beralasan. Dengan demikian, alasan hanya berfungsi sebagai topeng bagi niat yang sudah ditetapkan.
Setiap tuduhan dijawab anak domba dengan penjelasan yang logis dan masuk akal. Namun, kebenaran itu sama sekali tidak memengaruhi sikap serigala. Hal ini menegaskan bahwa bagi pelaku kejahatan, kebenaran sering kali tidak memiliki makna.
2. Kebenaran Bisa Kalah Ketika Berhadapan dengan Kekuasaan
Anak domba selalu mampu menjawab setiap tuduhan serigala dengan penjelasan yang jujur dan selaras dengan fakta. Tidak satu pun argumennya mengandung kebohongan atau kesalahan logika. Namun, kebenaran tersebut tetap tidak mampu menyelamatkannya karena ketimpangan kekuatan yang sangat besar.
Kisah ini menegaskan bahwa kebenaran tidak selalu cukup untuk melindungi seseorang dari ketidakadilan. Meskipun berada di pihak yang benar, anak domba tetap menjadi korban karena tidak memiliki kekuasaan untuk membela diri. Dalam kondisi seperti ini, kebenaran kerap dikalahkan oleh kekuatan yang sewenang-wenang.
Peristiwa tersebut mencerminkan realitas “hukum rimba” yang masih sering terjadi dalam kehidupan manusia. Pihak yang kuat kerap menindas yang lemah tanpa mempertimbangkan keadilan. Secara tersirat, pesan moral cerita ini mengingatkan bahwa kebenaran membutuhkan perlindungan agar tidak mudah diinjak oleh kekuasaan.
3. Pihak yang Lemah Membutuhkan Perlindungan
Anak domba menjadi korban karena berada sendirian dan terpisah dari kawanannya. Kondisi keterasingan ini menempatkannya dalam posisi yang sangat rentan terhadap ancaman. Kisah ini menunjukkan bahwa pihak yang lemah lebih mudah diserang ketika tidak memiliki perlindungan.
Nilai moral ini menekankan pentingnya kewaspadaan serta keberadaan pihak pelindung bagi mereka yang rentan. Anak domba menjadi mangsa empuk karena tidak berada dalam lingkungan yang mampu mencegah tindakan sewenang-wenang. Secara tersirat, cerita ini menunjukkan bahwa ketiadaan perlindungan membuka jalan bagi ketidakadilan.
Dalam kehidupan sosial, perlindungan terhadap pihak lemah tidak cukup mengandalkan kekuatan individu. Diperlukan solidaritas keluarga dan masyarakat, serta peran pemerintah sebagai pihak yang bertanggung jawab menjaga ketertiban dan keadilan. Tanpa perlindungan bersama, kekuasaan mudah disalahgunakan terhadap mereka yang tidak berdaya.
4. Hidup Tidak Selalu Adil, Maka Kita Harus Tangguh dan Waspada
Dongeng ini menyiratkan bahwa dunia tidak selalu berjalan adil. Anak domba yang jujur dan tidak bersalah tetap menjadi korban kekuasaan yang sewenang-wenang. Kebenaran tidak selalu mampu menang ketika berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar.
Kesadaran akan kenyataan tersebut bukan untuk menumbuhkan keputusasaan, melainkan kewaspadaan. Melalui nasib anak domba, cerita ini mengingatkan pentingnya kesiapan menghadapi pihak yang berniat jahat dan memiliki kekuasaan lebih besar.
Nilai moral terakhir menegaskan bahwa kebaikan saja tidak selalu cukup. Tanpa keteguhan dan kecerdikan, kebaikan mudah dikalahkan oleh kekuatan yang sewenang-wenang. Oleh karena itu, dongeng ini mendorong pembaca untuk menjadi pribadi yang bermoral sekaligus tangguh dalam menghadapi kenyataan hidup.
********
Kisah di atas merupakan adaptasi dari cerita berbahasa Inggris berjudul "The Wolf And The Lamb" karya Aesop, yang terjemahannya adalah di bawah ini.
Fabel Aesop dari Sumber Klasik Domain Publik
Serigala dan Anak Domba (Versi Townsend)
Seekor Serigala, ketika bertemu dengan seekor Anak Domba yang tersesat dan terpisah dari kawanannya, memutuskan untuk tidak langsung menggunakan kekerasan terhadapnya. Ia lebih memilih mencari-cari alasan untuk membenarkan haknya untuk memakan Anak Domba itu.
Ia pun berkata, “Hei bocah, tahun lalu engkau telah menghina aku dengan kasar.”
“Tidak mungkin,” embik Anak Domba dengan suara sedih, “pada waktu itu aku bahkan belum lahir.”
Serigala lalu berkata lagi, “Engkau makan di padang rumputku.”
“Tidak, Tuan yang baik,” jawab Anak Domba, “aku bahkan belum pernah mencicipi rumput.”
Serigala kembali berkata, “Engkau minum dari sumurku.”
“Tidak,” seru Anak Domba, “aku belum pernah minum air, sebab hingga kini susu ibuku adalah makanan sekaligus minumanku.”
Maka Serigala pun menerkam Anak Domba itu dan memakannya habis sambil berkata, “Baiklah! Aku tidak akan membiarkan diriku tanpa santapan, meskipun engkau membantah setiap tuduhanku.”
Seorang tiran akan selalu menemukan dalih bagi tindak tiraninya.
(Diterjemahkan secara bebas dari buku Three Hundred Æsop’s Fables Literally Translated from the Greek. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh George Fyler Townsend)
Posting Komentar