Di sebuah desa kecil yang asri, hidup seorang peternak yang dikenal penyabar dan sangat menyayangi hewan-hewan peliharaannya. Namun, kedamaiannya terganggu ketika seekor serigala gunung yang ganas mulai turun dan mengintai kandang dombanya.
Setelah berminggu-minggu waspada, sang peternak akhirnya berhasil menangkap pemangsa itu hidup-hidup menggunakan jebakan lubang. Ia memutuskan untuk tidak langsung membunuhnya, melainkan menunggu petugas berwenang yang dijadwalkan datang dua minggu lagi untuk memindahkan hewan buas tersebut.
Serigala itu kini dikurung dalam kerangkeng besi yang sangat kokoh di halaman belakang rumah. Pada saat bersamaan, peternak itu memisahkan dua ekor domba muda untuk diberi perawatan khusus agar tumbuh lebih optimal.
Ia menempatkan mereka di dua kandang kecil terpisah di halaman yang sama dengan si serigala. Tujuannya sederhana, ia ingin memastikan kedua domba itu mendapatkan porsi makan terbaik tanpa gangguan dari kawanan lainnya.
Namun, posisi penempatan kandang tersebut ternyata membawa nasib yang bertolak belakang bagi kedua hewan itu. Domba pertama ditempatkan tepat berhadapan dengan kerangkeng serigala, hanya berjarak beberapa langkah saja.
Jeruji besi memang menghalangi serangan fisik, namun tidak menghalangi pandangan mata yang mengerikan. Domba ini dipaksa menatap musuh alaminya sepanjang waktu tanpa bisa lari ke mana pun.
Domba kedua ditempatkan di sisi lain halaman, terlindung sepenuhnya di balik tembok gudang pakan yang tinggi. Domba ini sama sekali tidak bisa melihat serigala itu, bahkan tidak menyadari bahwa ada bahaya yang mengintai di dekatnya.
Sang peternak merawat kedua domba itu dengan kasih sayang yang setara dan adil. Setiap pagi dan sore, ia membawakan rumput segar yang paling hijau dan air minum yang jernih agar mereka tumbuh sehat.
Hari demi hari berlalu, domba yang berada di balik tembok menjalani hidupnya dengan penuh ketenangan. Ia makan dengan lahap, menikmati setiap kunyahan, dan tidur nyenyak saat malam tiba tanpa gangguan.
Rasa aman yang dirasakannya membuat tubuhnya merespons dengan baik terhadap nutrisi yang diberikan. Bulunya semakin tebal dan berkilau, sementara tubuhnya tumbuh semakin berisi dari hari ke hari.
Sebaliknya, domba yang berhadapan langsung dengan serigala mengalami penderitaan batin yang luar biasa. Sejak pertama kali melihat pemangsa itu, naluri alamiahnya langsung mengirimkan sinyal bahaya yang tak henti-henti.
Ia berdiri kaku di pojok kandang, matanya terpaku menatap sosok buas yang juga menatapnya dari balik jeruji besi. Meskipun serigala itu terkurung kuat, bagi si domba, ancaman kematian terasa begitu nyata di depan mata.
Jantungnya berpacu kencang setiap saat, memompa darah karena rasa takut, bukan karena aktivitas fisik. Ia lupa bagaimana caranya istirahat, takut jika memejamkan mata, pemangsa itu akan lolos dan menerkamnya.
Makanan lezat yang disajikan sang peternak dibiarkan menumpuk hingga layu dan mengering tak tersentuh. Perutnya terasa melilit karena stres, mematikan segala nafsu makan yang seharusnya ia miliki.
Tubuhnya terus-menerus dalam kondisi siaga penuh, membakar energi yang ada hanya untuk bertahan dalam ketakutan. Perlahan namun pasti, kondisi fisiknya merosot tajam meski tidak ada penyakit yang menyerangnya.
Menjelang akhir minggu kedua, tepat sebelum petugas datang mengambil serigala itu, sang peternak menemukan kenyataan yang memilukan. Domba yang terlindung tembok tampak segar bugar dan menyambutnya riang.
Namun, domba yang melihat serigala ditemukan tergeletak kaku tak bernyawa di sudut kandangnya. Tubuhnya kurus kering, mati di tengah kelimpahan makanan yang tersedia di hadapannya.
Sang peternak terduduk lemas di samping bangkai domba itu, merenungi kejadian tragis yang baru saja terjadi. Ia tidak menemukan satu pun luka fisik pada tubuh hewan malang tersebut.
Ia akhirnya memahami sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga tentang kesehatan makhluk hidup. Bahwa rasa aman dan ketenangan jiwa adalah kebutuhan pokok yang tak bisa digantikan oleh makanan semata.
Domba itu tidak mati karena gigitan taring serigala yang tajam atau kelaparan karena tiada makanan. Ia mati karena rasa takutnya sendiri yang menggerogoti nyawanya dari dalam, perlahan dan menyakitkan.
Nilai Moral: Kesehatan mental adalah fondasi utama kehidupan manusia; seberlimpah apa pun nutrisi dan materi yang kita miliki, tubuh tidak akan bisa bertahan jika batin terus-menerus didera kecemasan (anxiety) dan hilangnya rasa aman.

Komentar
Posting Komentar