Fabel Rubah dan Kambing di Sumur Tua (Dongeng Tentang Janji Manis Membawa Celaka)

Daftar Isi
Ilustrasi Dongeng Aesop Rubah dan Kambing di Sumur Tua

Fabel Aesop tentang Rubah dan Kambing di Sumur Tua merupakan cerita klasik yang sarat akan pelajaran hidup penting. Kisah ini menceritakan kelicikan seekor rubah yang berhasil menipu kambing polos yang tengah merasa kehausan. Mari kita simak cerita ini untuk belajar mengenai pentingnya sikap waspada sebelum mengambil sebuah keputusan.

Narasi Fabel Rubah dan Kambing

Seekor rubah sedang berjalan di hutan ketika ia tidak sengaja terperosok. Tanpa bisa menghindar, ia jatuh ke dalam sebuah sumur tua yang cukup dalam.

Rubah itu berusaha melompat sekuat tenaga untuk keluar. Namun sayang, dinding sumur itu terlalu tinggi untuk ia capai dan ia pun terjebak di sana.

Beberapa waktu kemudian, datanglah seekor kambing yang sedang kehausan. Kambing itu berjalan ke dekat sumur dan mengintip ke bawah, lalu terkejut melihat rubah di dasar sumur.

"Hai, mengapa kau ada di dalam sana?" tanya kambing dengan polos. Rubah yang licik segera mendapatkan ide jahat untuk meloloskan diri.

Ia tersenyum ramah dan berkata, "Air di sini sangat segar dan manis, kawan! Segeralah turun ke sini dan coba rasakan sendiri!"

Kambing itu benar-benar sangat haus dan percaya begitu saja pada perkataan manis rubah. Tanpa berpikir panjang dan tanpa curiga, kambing itu melompat masuk ke dalam sumur.

Ia langsung mendekati air dan mulai minum dengan gembira. Setelah puas minum, barulah kambing itu menyadari bahwa ia juga tidak bisa keluar dari sana.

Sumur itu terlalu dalam untuk ia naiki kembali. Rubah melihat kesempatan emas ini dan segera berbicara pada kambing.

"Aku punya ide bagus, kawan," kata rubah dengan meyakinkan. "Berdirilah tegak, lalu aku akan memanjat punggungmu, dan dari sana aku bisa melompat keluar untuk mencari bantuan."

Kambing yang sedang panik langsung menyetujui ide itu. Kambing pun berdiri tegak menempel pada dinding, dan rubah dengan cepat memanjat ke atas punggungnya.

Rubah menggunakan tanduk kambing sebagai pijakan terakhir dan berhasil melompat keluar dari sumur. Setelah sampai di permukaan dengan selamat, rubah itu segera berbalik pergi.

Ia tidak peduli lagi pada kambing yang kini terjebak di dasar sumur sendirian menggantikan posisinya. Kambing malang itu hanya bisa menyesali kebodohannya karena terlalu mudah percaya pada janji manis rubah.

Nilai Moral Cerita Rubah dan Kambing

1. Jangan Mudah Percaya pada Rayuan atau Janji Manis

Kita tidak boleh mudah terbuai oleh perkataan manis yang terdengar terlalu baik untuk menjadi kenyataan (too good to be true). Rayuan semacam ini sering kali digunakan oleh orang licik sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Dalam fabel di atas, kambing terlalu cepat percaya bahwa air di dasar sumur benar-benar istimewa sehingga langsung melompat masuk. Ia tidak mempertimbangkan keselamatannya sendiri saat mendengar rayuan Rubah yang meyakinkan.

Oleh karena itu, kita harus selalu menelusuri motif tersembunyi di balik janji-janji yang menggiurkan. Sebelum mengambil keputusan besar, utamakanlah akal sehat daripada keinginan sesaat.

2. Pikirkan Dampak Jangka Panjang Sebelum Bertindak

Tindakan terburu-buru yang didorong oleh keinginan sesaat sering kali membawa kerugian besar. Dalam fabel di atas, Kambing hanya berfokus pada rasa haus yang ingin segera ia puaskan, tanpa memikirkan bagaimana cara ia keluar dari sumur yang dalam itu nantinya.

Berkaca dari hal tersebut, sangat penting bagi kita untuk menimbang semua akibat sebelum melakukan sesuatu yang berisiko. Keselamatan diri harus menjadi prioritas utama dibandingkan kesenangan yang hanya sebentar. Pemikiran yang matang akan menyelamatkan kita dari masalah pelik di kemudian hari.

3. Hati-hati Ketika Hendak Menolong Orang Lain

Terkadang, orang yang sedang kesulitan akan memanfaatkan kita agar dirinya bisa selamat dari masalah. Hal ini terlihat saat Rubah dengan licik menggunakan tubuh Kambing sebagai tangga pijakan untuk melompat keluar dari sumur, lalu pergi begitu saja tanpa mempedulikan nasib penolongnya.

Maka dari itu, kita harus berhati-hati saat menawarkan bantuan kepada orang yang belum dikenal dengan baik. Kebaikan hati harus disertai dengan kewaspadaan agar tidak dimanfaatkan oleh orang yang berniat buruk. Jangan sampai niat baik justru membuat diri kita terjebak dalam kesulitan.

4. Kebodohan dan Ketidakhati-hatian Membawa Petaka

Cerita ini menunjukkan bahwa ketidakhati-hatian bisa menjadi penyebab utama penderitaan. Jika Kambing mau berpikir sebentar saja, ia pasti sadar bahwa sumur itu adalah jebakan yang sulit dinaiki. Padahal, Rubah sebenarnya sedang mencari cara untuk kabur, bukan sedang menikmati air.

Intinya, sikap waspada sangat diperlukan dalam menghadapi situasi apa pun. Menggunakan akal sehat sebelum bertindak akan menghindarkan kita dari bahaya yang tidak perlu, sebab penyesalan di akhir tidak akan berguna jika keputusan diambil tanpa pertimbangan matang.

********

Kisah di atas merupakan adaptasi dari cerita berbahasa Inggris berjudul "The Fox and the Goat" karya Aesop, yang terjemahannya adalah di bawah ini.

Fabel Aesop dari Sumber Klasik Domain Publik

Rubah dan Kambing (Versi Townsend)

Suatu hari, seekor Rubah terjatuh ke dalam sebuah sumur yang dalam dan tidak menemukan jalan untuk meloloskan diri. Seekor Kambing yang dilanda rasa haus datang ke sumur yang sama, dan ketika melihat Rubah di dasar sumur, ia bertanya apakah air di sana baik untuk diminum. Menyembunyikan kemalangan yang menimpanya di balik keceriaan yang dibuat-buat, sang Rubah memuji air itu setinggi langit, mengatakan bahwa kesegarannya sungguh luar biasa dan membujuk si Kambing agar ikut turun. Si Kambing, yang hanya memikirkan rasa hausnya, tanpa berpikir panjang melompat ke dalam sumur.

Begitu rasa hausnya terpuaskan, sang Rubah menjelaskan kesulitan yang kini mereka hadapi dan mengusulkan sebuah siasat agar mereka dapat keluar. “Jika engkau mau meletakkan kaki depanmu pada dinding sumur dan menundukkan kepalamu,” katanya, “aku akan memanjat punggungmu untuk keluar, lalu setelah itu aku akan membantumu naik.” Si Kambing pun menyetujui usul itu tanpa ragu. Sang Rubah melompat ke atas punggungnya dan, dengan bertumpu pada tanduk si Kambing, berhasil mencapai mulut sumur, lalu segera melarikan diri secepat mungkin.

Ketika si Kambing mencacinya karena melanggar janji, sang Rubah menoleh dan berseru, “Dasar tua bodoh! Seandainya otak di kepalamu sebanyak helai rambut di janggutmu, engkau tidak akan pernah turun sebelum memastikan bagaimana jalan keluarnya, dan tidak pula menjerumuskan dirimu ke dalam bahaya yang tak mungkin engkau hindari.”

Pikirkanlah baik-baik sebelum melangkah.

(Diterjemahkan secara bebas dari buku Three Hundred Æsop’s Fables Literally Translated from the Greek. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh George Fyler Townsend)


.

Posting Komentar