LC9gBUg7QN0V3hwrLd8lmNtvyApY7ArMY1rVEPEw

Fabel Aesop: Gembala dan Kambing Liar (Dongeng Tentang Pengkhianatan dan Keserakahan)

Ilustrasi Dongeng Gembala dan Kambing Liar, Pengkhianatan dan Keserakahan yang Membawa Kehancuran

Fabel Gembala dan Kambing Liar merupakan cerita dongeng anak karya Aesop yang populer. Fabel ini mengajarkan pesan moral bahwa pengkhianatan dan keserakahan akan membawa kepada kehancuran dan kerugian.

Narasi Fabel Gembala dan Kambing Liar

Badai salju musim itu datang lebih awal dan jauh lebih ganas dari perkiraan, memaksa seorang gembala bergegas menggiring kawanan kambingnya masuk ke dalam kandang. Di antara kawanan setianya, terdapat sekelompok kambing liar yang ikut masuk untuk berlindung dari cuaca buruk.

Melihat kambing-kambing liar itu, mata sang gembala berbinar penuh ketamakan. Ia berpikir bahwa ini adalah rejeki nomplok yang akan menggandakan jumlah ternaknya di musim semi tanpa modal sedikit pun.

Pintu kandang segera dikunci rapat, namun masalah baru muncul karena persediaan jerami ternyata sangat terbatas. Di tengah badai yang menimbun jalan keluar, sang gembala harus mengambil keputusan berat membagi pakan. Sayangnya, keputusannya didasarkan pada sifat tamak dan keserakahan.

Ia memandang remeh kawanan kambing lamanya yang telah setia mendampinginya mengembara selama bertahun-tahun. Ia berdalih bahwa mereka sudah terbiasa hidup susah bersamanya dan pasti bisa bertahan dengan sedikit makanan.

Maka, setiap hari sang gembala menumpuk jerami segar yang harum di hadapan para kambing liar untuk memanjakan mereka layaknya raja. Sementara itu, kambing-kambing lamanya hanya diberi sisa-sisa remah jerami berdebu, bahkan terkadang dibiarkan berpuasa seharian.

Hari demi hari berlalu tanpa tanda badai akan reda, membuat kondisi di sudut kandang yang gelap semakin memprihatinkan. Tulang rusuk kambing lama makin menonjol dan mata mereka meredup, mengembik pelan memohon belas kasihan. Namun, sang gembala menutup telinga dan hanya fokus memastikan kambing liar tetap gemuk.

Kesunyian yang mencekam akhirnya melanda kandang itu ketika satu per satu kambing setia itu tumbang tak bernyawa. Tubuh kurus mereka tak mampu menahan dingin dan lapar, mati dalam diam karena dikhianati tuan sendiri.

Ketika badai berhenti dan matahari muncul, gembala menemukan pemandangan mengerikan berupa kaku mayat ternak lamanya. Ia sempat merasa bersalah sejenak, namun segera menghibur diri bahwa ia masih memiliki kambing liar yang gagah sebagai ganti keuntungan yang hilang.

Dengan penuh harap, ia membuka pintu kandang lebar-lebar dan membiarkan sinar matahari masuk menerangi ruangan. Namun, begitu pintu terbuka, para kambing liar yang kondisinya prima itu tidak menunggu sedetik pun untuk tinggal.

Mereka langsung melesat keluar, melompati bangkai kawanan lama yang malang, dan berlari kencang menuju pegunungan. Gembala itu berteriak panik dan berusaha mengejar, mengingatkan bahwa ia sudah memberi mereka makan enak.

Salah satu kambing liar yang paling besar berhenti sejenak di ambang bukit dan menoleh ke arah gembala. Ia menatap tajam ke arah pria yang kini berdiri sendirian di tengah kandang yang penuh kematian itu.

"Kami melihat bangkai ternak setiamu di pojok sana, Gembala," seru kambing liar itu dengan nada dingin. "Jika kau tega membiarkan kawan lamamu mati kelaparan demi kami yang asing, kami tahu nasib buruk apa yang akan menimpa kami nanti."

Dengan satu hentakan kaki, kambing itu berlari menghilang di balik bukit menyusul teman-temannya. Sang gembala jatuh terduduk, menyadari bahwa keserakahannya telah membunuh masa lalunya dan mengusir masa depannya.

Nilai Moral Cerita Gembala dan Kambing Liar

1. Jangan korbankan kesetiaan demi keuntungan sesaat

Jangan pernah menyia-nyiakan teman yang sudah terbukti setia hanya demi mengejar orang baru yang belum jelas sifatnya. 

Sang gembala melakukan kesalahan besar karena menelantarkan kambing lamanya yang berjasa demi berharap pada kambing liar. Akibat keputusan yang buruk itu, ia justru kehilangan harta paling berharga karena salah dalam memprioritaskan sesuatu.

Seringkali seseorang tergoda oleh keuntungan instan yang ada di depan mata, hingga lupa merawat apa yang sudah dimilikinya dengan baik. Penyesalan biasanya datang terlambat ketika hal yang berharga tersebut sudah pergi selamanya.

2. Karakter asli seseorang terlihat dari cara ia memperlakukan yang lemah

Sifat asli seseorang bukan dinilai dari keramahannya saat ada maunya, melainkan bagaimana ia memperlakukan mereka yang tak berdaya.

Kambing liar menyadari bahwa kebaikan gembala kepada mereka hanyalah pancingan semata, sedangkan kekejamannya pada kambing lama adalah watak aslinya yang serakah.

Orang baru tidak akan percaya pada kebaikan seseorang jika melihat orang tersebut menindas teman lamanya yang sedang kesusahan. Mereka akan berpikir logis bahwa jika suatu saat nanti mereka tidak lagi berguna, mereka pasti akan dibuang juga.

Reputasi buruk dalam memperlakukan orang lain akan menjadi peringatan bagi siapa saja yang ingin mendekat.

3. Keserakahan adalah jalan menuju kehilangan total

Nafsu serakah seringkali menutupi akal sehat.

Gembala itu tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah dimilikinya, sehingga ia ingin menguasai semuanya sekaligus tanpa berpikir panjang. Karena terlalu bernafsu mengejar keuntungan baru yang terlihat menggiurkan, ia justru mengabaikan keselamatan harta yang sudah ada di tangannya. 

Sikap serakah dan kurang bersyukur ini pada akhirnya justru membawa petaka bagi dirinya sendiri. Bukannya bertambah kaya raya, ia malah kehilangan harta yang sudah ada dan gagal mendapatkan keuntungan baru yang diharapkan. Ia berakhir dengan tangan hampa tanpa memiliki apa-apa.

4. Kepercayaan itu sulit dibangun, namun mudah dihancurkan

Pengkhianatan adalah noda yang sulit dihapus.

Tindakan gembala membiarkan kambing lamanya mati kelaparan adalah bukti nyata bahwa ia telah merusak amanah yang seharusnya dijaga. Perbuatan buruk itu menjadi bukti tak terbantahkan bagi siapa saja bahwa ia bukanlah sosok pemimpin yang pantas untuk dipercaya.

Sekali saja seseorang menghancurkan kepercayaan orang lain, nama baiknya akan tercoreng dan sangat sulit untuk diperbaiki kembali seperti semula. Orang lain akan merasa takut dan ragu untuk bekerja sama karena tahu ia memiliki riwayat buruk dalam mengkhianati teman sendiri. 

Penutup

Kisah tragis ini memberikan pelajaran berharga bahwa keserakahan hanya akan berujung pada kehancuran total di masa depan. Kita diingatkan untuk selalu menjaga kepercayaan dan menghargai mereka yang telah setia mendampingi dalam suka maupun duka. Jangan sampai pengejaran terhadap keuntungan semu membuat kita kehilangan segala hal yang benar-benar berharga.

Kesetiaan yang telah diuji oleh waktu merupakan aset yang jauh lebih mahal daripada janji keuntungan dari pihak asing. Ketika kita memilih untuk menindas yang lemah demi ambisi pribadi, pada saat itulah reputasi dan masa depan kita ikut hancur. Mari kita jadikan kegagalan sang gembala sebagai pengingat untuk tetap bersyukur dan bijaksana dalam setiap keputusan.

********

Untuk menikmati lebih banyak cerita penuh pesan dan makna, silakan kunjungi laman Daftar Isi website ini.

Posting Komentar