Kisah Hikmah: Rahasia Akhir Kehidupan

Kisah Hikmah, Rahasia Akhir Kehidupan

Dahulu kala, di sebuah kota yang sibuk dan padat penduduk, hiduplah dua laki-laki dengan jalan hidup yang sangat bertolak belakang. Mereka adalah Zaid dan Amir, dua sosok yang namanya dikenal di seluruh penjuru kota namun karena alasan yang sangat berbeda.

Zaid adalah seorang pemabuk berat yang menghabiskan hari-harinya dalam kesia-siaan dan tawa yang kosong. Ia dikenal suka berbuat onar, mengabaikan norma, dan menertawakan siapa saja yang hidup teratur. Baginya, hidup hanya untuk kesenangan sesaat tanpa mempedulikan hari esok.

Sebaliknya, Amir adalah seorang ahli ibadah yang sangat dihormati dan dipuja oleh warga kota. Hari-harinya dihabiskan dengan membaca kitab suci, berpuasa, dan memberikan nasihat kepada orang lain. Namun, di balik ketaatannya, tumbuh benih kesombongan halus yang membuatnya merasa lebih suci daripada orang lain.

Suatu hari yang terik, takdir mempertemukan mereka di tengah pasar yang ramai dan sesak. Zaid yang sedang sempoyongan dikelilingi teman-teman pemabuknya, sementara Amir berjalan tegak diikuti oleh para murid setianya.

Pertemuan itu memicu ketegangan yang tak terelakkan di antara kedua kubu yang berseberangan ini. Zaid, dengan botol di tangan, mulai mencemooh hidup Amir yang dianggapnya kaku, membosankan, dan penuh kepalsuan. Ia berteriak tentang kebebasan yang tidak pernah dirasakan oleh Amir.

Amir yang merasa terhina tidak tinggal diam, ia membalas dengan menghardik dosa-dosa Zaid yang menjijikkan. Dengan suara lantang, ia mengingatkan Zaid tentang siksa neraka dan betapa kotor jiwanya dibandingkan dengan dirinya yang suci.

Berjam-jam lamanya mereka saling mencaci dan beradu pandangan di bawah terik matahari hingga senja tiba. Tidak ada yang mau mengalah, namun kata-kata lawan bicara mereka diam-diam menancap tajam di hati masing-masing. Mereka akhirnya berpisah dengan hati yang bimbang dan pikiran yang sangat kacau.

Malam pun tiba, membawa keheningan yang memaksa mereka merenungi pertengkaran siang tadi. Tanpa disangka, ucapan lawan bicara justru mulai merasuki dan meracuni pikiran mereka masing-masing dalam kesendirian.

Zaid sang pemabuk duduk sendirian di kamarnya yang gelap dan berantakan. Tiba-tiba, ia dilanda ketakutan yang hebat akan dosa-dosanya dan bayangan siksa api neraka yang diteriakkan Amir. Rasa takut itu begitu nyata hingga membuatnya menggigil.

Merasa hidupnya selama ini sia-sia, kotor, dan tanpa arah, ia berlari keluar rumah menuju tempat ibadah secara diam-diam. Di sana, di bawah cahaya remang-remang, Zaid bersujud dan menangis sejadi-jadinya. Ia memohon ampun dengan tulus, bertekad meninggalkan botol minumannya selamanya.

Di sisi lain kota, Amir yang taat duduk menatap kitab-kitab sucinya dengan tatapan kosong. Ia justru merasa lelah, jenuh, dan muak dengan kekangan aturan yang selama ini ia patuhi mati-matian demi pujian orang.

Tergoda oleh teriakan "kebebasan" yang dilontarkan Zaid, sisi gelap hatinya memberontak. Ia nekat mengambil sisa minuman keras milik Zaid yang ia temukan dan menyiramkannya ke tumpukan kitab suci di hadapannya. Dengan penuh amarah dan keputusasaan, ia menyalakan api untuk membakar segalanya sebagai tanda pemberontakan kepada Tuhan.

Saat itulah takdir bekerja dengan cara yang sangat mengejutkan dan tak terduga.

Tanpa peringatan, suara gemuruh yang mengerikan terdengar dari dalam perut bumi, memecah kesunyian malam. Gempa bumi dahsyat mengguncang kota itu dengan kekuatan luar biasa, merobohkan dinding-dinding kokoh dan atap bangunan dalam sekejap mata.

Reruntuhan bangunan tempat ibadah menimpa Zaid yang sedang bersujud dalam tobatnya yang tulus dan penuh air mata. Di tempat lain, atap rumah yang megah ambruk menimpa Amir yang sedang berdiri menantang Tuhan di depan api yang membara.

Keduanya tewas seketika. Tidak ada kesempatan kedua. Tidak ada waktu untuk berubah kembali.

Zaid, seorang mantan pemabuk, mati dalam keadaan tobat yang murni. Sementara itu, Amir yang merupakan mantan ahli ibadah mati dalam keadaan berpaling dari Tuhan.

Pelajaran dari Kisah Hikmah: Rahasia Akhir Kehidupan

1. Senantiasa Memohon Husnul Khotimah

Kisah ini adalah nasihat keras agar kita senantiasa memohon kepada Allah agar diberikan akhir kehidupan yang baik (Husnul Khotimah). Hati manusia itu lemah dan mudah berbolak-balik. Kita tidak boleh merasa aman dengan amal kita, melainkan harus terus berdoa agar ditetapkan iman hingga akhir hayat.

2. Hidayah Allah Bisa Datang Kapan Saja

Hidayah dari Allah adalah rahasia mutlak yang bisa datang kapan saja kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Seorang pendosa seperti Zaid bisa mendapatkan cahaya petunjuk di detik-detik terakhir hidupnya. Kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, karena pintu tobat selalu terbuka sebelum nyawa sampai di tenggorokan.

3. Jangan Menilai Akhir Sesesorang dari Keadaannya Saat ini.

Nasib akhir kehidupan seseorang adalah sebuah misteri. 

Ada seseorang yang mengerjakan amalan ahli surga, namun di akhir hayatnya ia mengerjakan amalan ahli neraka yang membuatnya masuk ke dalam neraka.

Demikian pula, ada pula orang yang sepanjang hidupnya terlihat mengerjakan amalan ahli neraka. Namun, menjelang ajalnya, Allah memberinya taufik untuk mengerjakan amalan ahli surga, lalu ia pun masuk ke dalamnya.

Komentar