Cerita Rakyat Kalimantan Barat: Legenda Batu Menangis


Legenda Batu Menangis adalah salah satu cerita rakyat Kalimantan Barat yang paling populer. Kisah ini mengajarkan tentang pentingnya berbakti kepada orang tua dan akibat fatal dari sifat durhaka. Bagaimana kisah lengkap gadis cantik yang berubah menjadi batu ini? Simak dongeng lengkapnya berikut ini.

Awal Mula Kisah Gadis Cantik yang Pemalas

Jauh di pedalaman Kalimantan Barat, di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan lebat, hiduplah seorang gadis bernama Darmi. Ia tinggal di sebuah rumah tua hanya bersama ibunya yang telah lama menjanda. Ayah Darmi sudah meninggal dunia ketika Darmi masih seorang balita mungil.

Waktu berjalan, dan Darmi tumbuh menjadi gadis yang luar biasa cantik. Kulitnya kuning langsat, bersih tanpa cela, dan tubuhnya tinggi semampai. Kecantikannya sering menjadi buah bibir di desa.

Kecantikan itu ia warisi dari sang ibu. Dulu, ibunya juga seorang wanita yang cantik. Namun, kecantikan itu kini telah hilang, tergerus oleh kerasnya kehidupan.

Setiap hari, sang ibu membanting tulang untuk menghidupi Darmi. Pagi buta, ia sudah berjalan ke sawah orang untuk menjadi buruh tani. Siang hari, ia masuk ke hutan mencari kayu bakar. Sorenya, ia masih harus mencuci tumpukan baju kotor.

Kerja keras di bawah terik matahari membuat kulit ibunya gelap terbakar. Tubuhnya menjadi kurus kering, hanya menyisakan sorot mata yang selalu terlihat lelah.

Sementara ibunya bergelut dengan lumpur dan peluh, Darmi tidak melakukan apa-apa. Ia sama sekali tidak mau bekerja.

Pekerjaan Darmi sehari-hari hanyalah duduk di depan cermin tua mereka yang retak. Ia akan bersolek berjam-jam, mengagumi pantulan wajahnya sendiri, dan menghabiskan uang ibunya yang tak seberapa untuk membeli bedak dan wewangian.

Setiap kali ibunya pulang dengan tubuh letih dan memintanya membantu, Darmi selalu menolak mentah-mentah. "Ah, tidak mau! Nanti tanganku kasar!" jawab Darmi ketus. "Lagi pula, aku tidak mau bau keringat seperti Ibu!"

Sikap Durhaka Kepada Sang Ibu

Bukan hanya pemalas, Darmi juga sering marah-marah dan menyalahkan ibunya atas nasib mereka. "Kenapa kita hidup miskin begini?" teriaknya suatu sore. "Ini semua salah Ibu! Ibu tidak bisa mencari uang yang banyak! Aku malu hidup miskin!"

Hati ibunya terasa perih setiap kali mendengar ucapan itu. Namun, ia hanya bisa diam, menelan kesedihannya sendiri.

Suatu pagi, Darmi menjerit histeris dari dalam kamarnya. Ia melempar sebuah kotak kayu kecil ke lantai. "Ibu! Bedakku habis!" bentak Darmi. "Aku tidak mau tahu! Ibu harus membelikanku bedak baru hari ini juga! Beli di pasar kota!"

Ibunya datang dengan wajah letih. "Nak, pasar kota itu jauh. Lagi pula, Ibu tidak punya uang," katanya lirih. "Uang simpanan Ibu tinggal sedikit, itu untuk membeli beras..."

"Aku tidak peduli!" potong Darmi. "Aku tidak mau keluar rumah kalau tidak pakai bedak! Aku malu wajahku jelek! Pokoknya Ibu harus beli!"

Melihat putrinya merajuk, sang ibu akhirnya luluh. Dengan tangan gemetar, ia mengambil kantung kain kecil berisi sisa uang simpanannya dari bawah tikar. "Baiklah, Nak. Kita ke kota," katanya pasrah. "Tapi Ibu tidak tahu bedak seperti apa yang kamu mau. Kamu harus ikut untuk menunjukkannya."

Darmi seketika cemberut. Ia sangat malu jika orang-orang di kota melihatnya berjalan dengan wanita tua yang berpakaian lusuh itu. "Hhh, merepotkan!" gerutu Darmi. "Baik, aku ikut! Tapi ada syaratnya!"

"Apa syaratnya, Nak?"

"Aku akan berjalan di depan. Ibu harus berjalan jauh di belakangku. Aku tidak mau orang-orang tahu kalau perempuan miskin seperti Ibu adalah ibuku!"

Bagai disambar petir, hati sang ibu hancur mendengarnya. Namun, demi menuruti keinginan anak satu-satunya, ia mengangguk pelan.

Perjalanan ke Kota dan Hukuman Tuhan

Maka, berangkatlah mereka. Darmi memakai baju terbaik yang ia miliki, satu-satunya baju bagusnya. Ia berjalan dengan dagu terangkat, melenggang anggun di depan. Jauh di belakangnya, sang ibu berjalan tertatih-tatih. Ia memakai kebaya lamanya yang sudah pudar warnanya dan kain jarik yang penuh tambalan.

Perjalanan ke kota memakan waktu berjam-jam. Di tengah perjalanan, saat melewati lapangan desa tetangga, seorang pemuda tampan yang sedang beristirahat di bawah pohon rindang melihat Darmi. Pemuda itu adalah idola para gadis, dan Darmi diam-diam sangat mengaguminya.

Melihat Darmi lewat, pemuda itu tersenyum ramah. "Halo, Darmi. Sungguh cantik kau hari ini," sapanya. Jantung Darmi berdebar kencang. Wajahnya bersemu merah karena senang dipuji pemuda itu.

"Mau ke pasar, ya?" tanya pemuda itu lagi.

"Iya, benar," jawab Darmi malu-malu.

Pemuda itu mengangguk, lalu matanya beralih ke sosok wanita tua kurus kering di belakang Darmi. "Pergi dengan ibumu, ya? Kasihan sekali beliau, terlihat sangat kelelahan."

Seketika, wajah Darmi yang tadi bersemu merah berubah padam karena marah dan malu. Harga dirinya terasa runtuh. Ia tidak mau pemuda tampan ini berpikir ia adalah anak dari perempuan miskin. "Bukan!" jawabnya dengan suara keras, hampir berteriak.

Pemuda itu terkejut. "Bukan? Lalu, siapa dia?"

Darmi menatap ibunya dengan tatapan jijik. "Dia itu pembantuku! Babu rendahan yang bekerja di rumahku." Untuk lebih meyakinkan pemuda itu, Darmi menambahkan, "Lihat saja pakaiannya. Seperti pengemis, bukan? Makanya kusuruh dia jalan di belakang, biar tidak memalukan!"

Hinaan itu adalah puncaknya. Hati sang ibu hancur lebur. Ia sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang ditimpakan oleh anaknya sendiri, apalagi di depan orang banyak. Kakinya terasa lemas seketika. Ia tak sanggup lagi melangkah. Sang ibu terduduk di pinggir jalan yang berdebu.

Ia tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia menangis sesenggukan, membiarkan air matanya membasahi pipi tuanya yang keriput, sambil melantunkan doa dan ratapan.

"Ya Tuhan..." rintihnya di sela isak tangis. "Ampunilah dosa hamba-Mu ini. Hamba telah gagal, hamba tidak bisa mendidik anak hamba dengan baik." Dadanya terasa sesak oleh kesedihan. "Hamba sudah tidak sanggup lagi, Ya Tuhan. Hamba tidak tahu lagi harus bagaimana. Hamba mohon...sadarkanlah dia dengan cara-Mu, Ya Tuhan. Tunjukkanlah padanya kekuasaan-Mu."

Doa ibu yang terluka itu langsung dijawab oleh langit. Dalam sekejap, langit yang tadinya biru cerah berubah menjadi gelap pekat. Awan hitam menggulung dengan cepat. DUAARR! Petir menyambar-nyambar dengan suara yang menggelegar. Angin kencang bertiup, dan hujan deras turun tiba-tiba seolah ditumpahkan dari langit.

Darmi menjerit ketakutan. "Ibu! Ibu!" teriaknya. Ia hendak berlari, tetapi ia merasakan sesuatu yang aneh. Kakinya terasa sangat berat dan kaku. Ia tidak bisa menggerakkannya. Darmi melihat ke bawah dan berteriak sejadi-jadinya.

Kakinya yang mulus perlahan berubah menjadi batu kelabu!

Rasa dingin dan kaku itu menjalar dengan cepat ke lututnya, lalu ke pinggangnya. Darmi dilanda ketakutan dan penyesalan yang luar biasa. Ia sadar, ini adalah hukuman atas perbuatannya.

"Ibu! Maafkan Darmi, Ibu! Ampun!" ia menangis histeris. Ia berusaha merangkak di tanah, ingin meraih kaki ibunya dan memohon ampun. "Ampun, Ibu! Darmi janji akan jadi anak baik! Darmi akan bantu Ibu! Tolong Darmi, Ibu...!"

Tapi semuanya sudah terlambat. Tepat ketika jari-jarinya hampir menyentuh ujung kain ibunya, seluruh tubuh Darmi telah berubah menjadi batu, dan wajahnya membatu dalam ekspresi ketakutan dan penyesalan yang abadi.

Seketika itu juga, hujan deras dan petir berhenti. Langit kembali cerah. Di pinggir jalan, tinggallah sang ibu yang menangis sambil memeluk batu yang dingin itu. Doanya telah terkabul dengan cara yang paling menyakitkan.

Anehnya, meskipun hujan telah reda, dari kedua mata batu itu terus mengalir air. Tetes demi tetes, air mata itu mengalir tiada henti, seolah sang batu menangisi dosanya. Masyarakat yang melihat kejadian itu pun menamakan batu tersebut "Batu Menangis", sebagai pengingat abadi agar seorang anak tidak pernah menyakiti hati ibunya.


Pesan Moral Legenda Batu Menangis

Kisah Batu Menangis dari Kalimantan Barat ini memiliki amanat atau pesan moral yang sangat mendalam bagi pembacanya, antara lain:

  • Hormati Orang Tua: Surga ada di telapak kaki ibu. Menyakiti hati orang tua adalah dosa besar yang dapat mendatangkan murka Tuhan.
  • Jangan Menilai dari Penampilan: Penampilan luar bukanlah segalanya. Darmi cantik wajahnya, namun hatinya buruk. Sang Ibu terlihat lusuh, namun kasih sayangnya tulus.
  • Penyesalan Selalu Datang Terlambat: Jangan menunggu tertimpa musibah baru ingin meminta maaf. Hargai orang tua selagi mereka masih ada.
  • Syukuri Apa yang Dimiliki: Sifat tidak bersyukur membuat Darmi selalu merasa kurang dan menyalahkan keadaan, yang akhirnya membawanya pada kehancuran.

Unsur Intrinsik Cerita

  • Tokoh Utama: Darmi (Antagonis/Jahat) dan Ibu Darmi (Protagonis/Baik).
  • Latar Tempat: Desa terpencil di Kalimantan Barat, hutan, dan jalan menuju pasar kota.
  • Tema: Anak durhaka dan balasan atas perbuatannya.

Tertarik membaca cerita rakyat lainnya? Silakan kunjungi Kumpulan Dongeng Nusantara dan Cerita Rakyat Indonesia di blog ini.

Komentar