Legenda Asal Mula Nama Banyuwangi - Cerita Rakyat Jawa Timur


Banyuwangi, sebuah kabupaten yang terletak di ujung paling timur Provinsi Jawa Timur, dikenal tidak hanya karena lokasinya yang strategis sebagai gerbang menuju Pulau Bali, tetapi juga karena namanya yang unik dan puitis.

Nama "Banyuwangi" secara harfiah berarti "air yang harum". Di balik nama yang indah ini, tersimpan sebuah cerita rakyat yang melegenda dan diwariskan turun-temurun. Ini adalah kisah tragis tentang pembuktian kesetiaan seorang istri bernama Sri Tanjung, yang menjadi cikal bakal mengapa wilayah tersebut diberkahi dengan nama yang sarat makna itu.

Bagaimanakah kisah lengkap legenda asal usul Banyuwangi ini? Simak ceritanya berikut ini.


Awal Mula: Prabu Sulahkromo dan Patih Sidopekso

Pada zaman dahulu kala, di ujung timur Pulau Jawa, bertahtalah seorang raja bernama Prabu Sulahkromo. Dalam memimpin kerajaannya, ia dibantu oleh seorang patih yang gagah perkasa, berani, dan sangat setia bernama Patih Sidopekso.

Sang Patih memiliki seorang istri bernama Sri Tanjung. Tidak hanya parasnya yang elok luar biasa bak bidadari, Sri Tanjung juga dikenal memiliki budi pekerti yang halus dan tutur kata yang lembut. Keharmonisan rumah tangga Patih Sidopekso terdengar hingga ke telinga istana.

Siasat Licik Sang Raja

Sayangnya, kecantikan Sri Tanjung membawa petaka. Prabu Sulahkromo yang melihat paras istri patihnya itu langsung tergila-gila. Hawa nafsu menutup mata hatinya. Raja berniat merebut Sri Tanjung, meski ia tahu wanita itu adalah istri sah dari abdi setianya sendiri.

Untuk memuluskan niat jahatnya, Prabu Sulahkromo menyusun rencana licik. Ia memanggil Sidopekso menghadap dan memberinya titah yang mustahil untuk dijalankan. Misi itu sengaja dirancang sedemikian rupa agar Sang Patih binasa di tengah perjalanan atau setidaknya pergi dalam waktu yang sangat lama.

Tanpa menaruh curiga sedikit pun, Sidopekso yang memiliki loyalitas tinggi segera berangkat menjalankan tugas demi rajanya.

Fitnah Keji dan Kemarahan Sidopekso

Sepeninggal Sidopekso, Prabu Sulahkromo mulai melancarkan aksinya. Ia mendatangi Sri Tanjung dan merayunya dengan janji kemewahan, kekuasaan, dan posisi sebagai ratu. Namun, Sri Tanjung bergeming. Cintanya pada Sidopekso sekeras karang. Ia dengan tegas menolak cinta Sang Raja.

Penolakan itu membuat harga diri Prabu Sulahkromo terluka. Ia murka dan menyimpan dendam kesumat. Waktu berlalu, dan betapa terkejutnya Sang Raja ketika Patih Sidopekso ternyata berhasil kembali dengan selamat dari misinya yang mustahil.

Karena siasat awalnya gagal, Prabu Sulahkromo segera memutar otak untuk menutupi niat busuknya. Dengan licik, ia memfitnah Sri Tanjung di hadapan suaminya.

"Wahai Patihku, ketahuilah bahwa selama kau pergi, istrimu Sri Tanjung telah berbuat serong. Ia datang menggoda dan merayuku di istana," dusta Raja dengan wajah yang dibuat sedih.

Bagai disambar petir di siang bolong, hati Patih Sidopekso hancur. Rasa lelah setelah bertugas seketika berubah menjadi amarah yang membara. Ia termakan fitnah mentah-mentah tanpa berusaha mencari kebenaran atau bertanya pada saksi lain.

Sumpah Sri Tanjung dan Air yang Harum

Sidopekso segera pulang dan menemui istrinya dengan mata gelap karena cemburu. Sri Tanjung yang menyambut suaminya dengan rindu, justru menerima bentakan dan tuduhan keji.

Ia menangis tersedu-sedu, bersumpah demi Langit dan Bumi bahwa ia tidak pernah mengkhianati suaminya. "Kanda, itu fitnah! Aku tidak pernah melakukan hal nista itu!" jerit Sri Tanjung.

Namun, Patih Sidopekso sudah buta hatinya. Ia menyeret paksa Sri Tanjung ke tepi sebuah sungai yang airnya keruh dan kotor. Di sana, ia menghunus kerisnya, siap mencabut nyawa wanita yang dicintainya itu.

Di ambang kematiannya, Sri Tanjung memohon satu permintaan terakhir untuk membuktikan kesuciannya.

"Kanda Sidopekso, bunuhlah aku jika itu maumu. Hanyutkan jasadku ke sungai ini," ucap Sri Tanjung dengan suara bergetar namun tatapan mata yang tajam.

"Jika air sungai ini berbau busuk, maka aku memang bersalah. Namun jika air keruh ini berubah menjadi jernih dan berbau harum wangi, itu tandanya aku suci dan tidak berdosa."

Patih Sidopekso yang tak lagi mampu menahan emosinya segera menikam dada Sri Tanjung. Tubuh istrinya yang terkulai lemas segera dilemparkannya ke tengah sungai.

Sesaat kemudian, sebuah keajaiban besar terjadi. Perlahan, darah yang mengalir bercampur dengan air sungai yang keruh itu berubah menjadi jernih sebening kristal. Lebih ajaib lagi, bau anyir darah tidak tercium, melainkan berganti dengan bau harum wangi yang semerbak memenuhi udara di sekitar sungai.

Penyesalan dan Lahirnya Nama Banyuwangi

Melihat fenomena itu, Patih Sidopekso terhuyung-huyung. Keris di tangannya terjatuh. Alam telah membuktikan bahwa istrinya tidak bersalah. Fitnah rajanya telah membuatnya membunuh cinta sejatinya.

Penyesalan menghantam dirinya begitu keras. Tanpa sadar, ia menjerit putus asa di tepi sungai,

"Banyu... Wangi! Banyu... Wangi!"
(Air... Harum!)

Jeritan pilu dan keharuman sungai itulah yang akhirnya menjadi asal usul nama wilayah tersebut menjadi Banyuwangi, sebagai pengingat abadi akan cinta suci yang berakhir tragis karena fitnah.


Pesan Moral Legenda Banyuwangi

Cerita rakyat Banyuwangi ini mengandung nilai-nilai luhur yang bisa kita pelajari:

  • Bahaya Fitnah: Kisah ini mengajarkan betapa kejamnya fitnah. Tuduhan tanpa bukti dapat menghancurkan kepercayaan, hubungan, bahkan merenggut nyawa orang yang tidak bersalah.
  • Jangan Mengambil Keputusan Saat Marah: Patih Sidopekso adalah contoh nyata bahwa amarah dan kecemburuan dapat menutup akal sehat. Penyesalan selalu datang terlambat ketika keputusan diambil dengan emosi.
  • Kesetiaan dan Kebenaran: Kebenaran, meski ditutupi, pada akhirnya akan terungkap, seperti harumnya air sungai yang membuktikan kesucian Sri Tanjung.

Dinarasikan ulang dari berbagai sumber dan referensi sejarah daerah: Pemerintah Kabupaten Banyuwangi

Tertarik membaca kisah lainnya? Silakan kunjungi Kumpulan Dongeng Nusantara dan Cerita Rakyat Indonesia.

Komentar