Kisah Nasruddin, Sang Putra, dan Seekor Keledai
Berikut ini anekdot lucu tentang Nasruddin Hoja yang terus mengubah keputusannya karena ingin memenuhi komentar setiap orang yang ditemuinya. Namun, semakin ia berusaha menyenangkan semua orang, semakin jauh ia dari keputusan yang sebenarnya sudah baik sejak awal.
Kisah Nasruddin Hoja, Sang Putra, dan Seekor Keledai
Suatu pagi, Nasruddin Hoja pergi ke pasar bersama putranya dengan membawa seekor keledai.
Karena merasa anaknya lebih membutuhkan tenaga, Nasruddin membiarkan putranya menunggangi keledai, sementara ia sendiri berjalan sambil memegang tali kekangnya.
Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan sekelompok orang.
"Lihat anak itu," kata salah seorang di antara mereka. "Enak sekali duduk di atas keledai, sementara ayahnya yang sudah tua harus berjalan kaki."
Mendengar ucapan itu, putra Nasruddin segera turun. Kini giliran Nasruddin yang menaiki keledai.
Belum jauh berjalan, mereka bertemu rombongan lain.
"Ayah macam apa itu?" ujar seseorang. "Ia duduk dengan nyaman, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki."
Nasruddin kembali turun. Kali ini ia mengajak putranya naik bersama ke atas keledai.
Namun, orang-orang berikutnya justru berkata, "Kasihan keledai itu. Tubuhnya kecil, tetapi harus membawa dua orang sekaligus."
Ayah dan anak itu pun turun, lalu berjalan kaki sambil menuntun keledainya.
Baru beberapa langkah, mereka kembali mendengar komentar.
"Aneh sekali. Punya keledai, tetapi tidak ada yang menungganginya."
Nasruddin menghela napas. Setelah berpikir sejenak, ia mengikat keempat kaki keledai pada sebatang kayu. Bersama putranya, ia memikul keledai itu menuju pasar.
Melihat pemandangan itu, orang-orang di pasar tertawa terbahak-bahak. Mereka belum pernah melihat ada orang yang memikul keledai.
Nasruddin akhirnya menurunkan keledai itu, lalu berkata kepada putranya, "Ingatlah, Nak. Selama kita sibuk mengikuti semua perkataan orang, kita justru akan melakukan hal yang paling tidak masuk akal."
(Selesai)
Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Cerita
1. Mustahil Memuaskan Semua Orang
Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Apa yang dianggap benar oleh seseorang belum tentu dianggap benar oleh orang lain. Karena itu, komentar yang kita terima sering kali saling bertentangan.
Jika kita terus berusaha memenuhi harapan semua orang, kita akan terus mengubah keputusan tanpa pernah merasa yakin. Pada akhirnya, bukan orang lain yang kelelahan, melainkan diri kita sendiri.
2. Pentingnya Memiliki Pendirian
Nasruddin berkali-kali mengubah caranya bepergian hanya karena mendengar komentar orang yang bahkan tidak mengenalnya. Ia tidak lagi bertindak berdasarkan pertimbangannya sendiri, melainkan mengikuti pendapat yang terus berubah.
Mendengarkan saran memang baik, tetapi tidak semua pendapat harus diikuti. Memiliki pendirian berarti mampu mempertimbangkan masukan orang lain tanpa kehilangan keyakinan terhadap keputusan yang memang sudah benar.
3. Belajar Menyaring Kritik
Tidak semua kritik bertujuan membantu. Ada kritik yang bermanfaat karena disampaikan dengan pertimbangan yang matang, tetapi ada pula yang hanya berupa komentar sepintas tanpa memahami keadaan yang sebenarnya.
Karena itu, kita perlu belajar membedakan mana masukan yang layak dipertimbangkan dan mana yang cukup didengar lalu dilepaskan. Dengan begitu, kita tidak mudah terombang-ambing oleh setiap pendapat yang datang.
4. Kitalah yang Menanggung Akibat dari Keputusan Kita
Orang-orang yang memberi komentar hanya lewat sesaat, sedangkan Nasruddin dan putranya harus menjalani akibat dari setiap keputusan yang mereka ubah. Semakin mereka mengikuti komentar orang lain, perjalanan mereka justru semakin merepotkan.
Dalam kehidupan sehari-hari juga demikian. Orang lain boleh memberikan pendapat, tetapi kitalah yang akan menanggung konsekuensi dari keputusan yang diambil. Oleh sebab itu, keputusan sebaiknya didasarkan pada akal sehat, bukan semata-mata demi memperoleh persetujuan semua orang.
Pertanyaan Reflektif
Pernahkah kamu mengubah keputusan hanya karena takut dinilai orang lain? Bagaimana hasil akhirnya?
Menurutmu, bagaimana cara membedakan kritik yang memang membangun dengan komentar yang sebaiknya tidak perlu dihiraukan?
Posting Komentar