Fabel Ayam Jantan dan Permata: Mengapa Hal Berharga Bisa Dianggap Tak Berarti?
Kisah ayam jantan dan permata merupakan fabel klasik karya Aesop yang menggunakan tokoh hewan untuk menyampaikan pesan tentang cara manusia memandang nilai suatu benda. Melalui alur sederhana, cerita ini mengajak pembaca merenungkan kembali prioritas dan kebutuhan sejati dalam hidup.
Narasi Dongeng Ayam Jantan dan Permata
Di bawah siraman cahaya fajar yang masih hangat, seekor ayam jantan tampak sibuk di sudut peternakan. Kakinya yang kuat mengais tumpukan tanah kering, sementara matanya yang tajam mencari sisa biji jagung atau gandum yang mungkin tertinggal. Perutnya mulai berkeroncong, mengirimkan sinyal lapar yang mendesak.
Tiba-tiba, paruhnya membentur sesuatu yang keras. Bukan kayu, bukan pula batu biasa.
Ia berhenti sejenak, lalu kembali mengais lebih dalam. Dari balik debu tanah, muncul sebutir permata yang luar biasa indah. Ketika terkena sinar matahari, batu itu memantulkan cahaya warna-warni yang mempesona—sebuah benda yang, bagi manusia, mungkin bernilai sangat tinggi.
Sang ayam jantan memiringkan kepala, menatap permata itu dengan rasa ingin tahu. Ia mematuknya sekali, hanya untuk memastikan apakah benda itu bisa dikunyah.
“Indah sekali,” gumamnya dalam hati. “Bagi manusia, mungkin ini harta yang disimpan rapat-rapat dan dijaga seumur hidup.”
Namun, rasa perih di perutnya kembali mengingatkan. Ayam itu terdiam, menatap permata lalu menatap tanah di sekelilingnya. Ia sadar, seindah apa pun kilau batu itu, ia tak bisa mengenyangkan. Cahaya warnanya tak akan memberinya tenaga untuk berkokok keesokan pagi.
“Bagiku,” pikirnya sambil berpaling, “kilau yang tak bisa mengenyangkan tak berarti apa-apa. Satu biji jagung yang sederhana jauh lebih berharga.”
Tanpa rasa sesal, ayam jantan itu meninggalkan permata tersebut, membiarkannya kembali terkubur di dalam debu. Ia melangkah pergi, melanjutkan pencariannya akan sesuatu yang benar-benar ia butuhkan.
![]() |
| Ayam jantan dan permata (via Google Gemini) |
Nilai Moral Cerita Ayam Jantan dan Permata
1. Kebijaksanaan dalam Mengenali Kebutuhan
Menjadi bijaksana berarti memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang merupakan keinginan semu dan mana yang merupakan kebutuhan nyata.
Ayam jantan dalam cerita ini memberikan contoh kesadaran diri yang sangat tinggi; ia tahu permata itu berharga bagi manusia, namun ia tetap menolaknya. Ia tidak membiarkan dirinya tergoda oleh kemewahan yang tampak menarik tetapi tidak memberikan manfaat praktis bagi kelangsungan hidupnya.
Di dunia yang penuh dengan godaan materi, kita sering kali terjebak dalam keinginan untuk memiliki sesuatu hanya karena benda tersebut dianggap mewah atau sedang populer.
Padahal, jika kita bersedia jujur pada diri sendiri, tidak semua hal yang berkilau itu benar-benar menunjang kebahagiaan atau perkembangan karakter kita secara mendalam.
Ketika kita mampu mengenali apa yang benar-benar kita butuhkan, hidup akan terasa jauh lebih sederhana, ringan, dan juga tenang.
Kita tidak akan lagi merasa iri atau terbebani saat melihat orang lain memiliki hal-hal mewah yang sebenarnya tidak menambah nilai manfaat dalam hidup kita sendiri.
Fokus pada hal-hal yang fungsional membantu kita untuk selalu merasa cukup dan terhindar dari rasa serakah yang sering kali justru melelahkan hati.
Yang memberi hidup lebih berharga daripada yang sekadar memantulkan cahaya.
2. Nilai Sebuah Benda Bersifat Subjektif
Pelajaran penting dari kisah ini adalah bahwa nilai sebuah benda tidak pernah bersifat mutlak, melainkan sangat bergantung pada siapa yang memegangnya.
Sesuatu yang dianggap sebagai harta karun oleh dunia luar bisa jadi tidak memiliki arti apa pun bagi kita karena perbedaan situasi dan kebutuhan hidup yang sedang kita jalani.
Bagi seorang manusia, sebutir permata adalah simbol kekayaan yang luar biasa. Namun, ayam jantan dalam cerita ini memberikan pelajaran besar: ia tidak membiarkan standar nilai manusia mendikte hidupnya.
Ia sadar bahwa meskipun permata itu "mahal" menurut pandangan umum, benda tersebut tidak dapat memberikan solusi nyata bagi perutnya yang sedang lapar. Ia menolak untuk "menelan" mentah-mentah definisi kesuksesan atau kemewahan milik orang lain.
Sering kali, kita merasa terbebani untuk mengejar sesuatu hanya karena hal itu dianggap sebagai pencapaian besar oleh lingkungan atau masyarakat, padahal hal tersebut belum tentu menunjang kebahagiaan atau kelangsungan hidup kita yang sebenarnya.
Kita perlu memiliki keberanian untuk mengakui bahwa apa yang dianggap orang lain sebagai "permata" mungkin bagi kita hanyalah "batu biasa" yang tidak menambah nilai manfaat dalam keseharian kita.
Lebih jauh lagi, memiliki filter (penyaring) terhadap standar nilai luar adalah bentuk kedaulatan diri. Di dunia yang terus-menerus mendikte apa yang harus kita miliki agar terlihat sukses, kemampuan untuk tetap berpegang pada apa yang benar-benar kita butuhkan adalah sebuah kekuatan karakter.
Dengan tidak memaksakan standar nilai orang lain ke dalam hidup kita, kita terhindar dari rasa cemas yang tidak perlu dan bisa lebih fokus mengalokasikan energi untuk hal-hal yang benar-benar berharga bagi diri kita.
Jangan memaksakan standar nilai orang lain ke dalam hidup kita. Milikilah skala prioritas sendiri berdasarkan apa yang benar-benar kita butuhkan.
3. Kebermaknaan Bergantung pada Kapasitas Penerimanya
Pesan penting lainnya dari fabel ini adalah bahwa sesuatu yang secara objektif sangat berharga tetap akan kehilangan maknanya jika berada di tangan subjek yang tidak memiliki kapasitas untuk menghargainya.
Kita harus mengakui bahwa sebutir permata adalah benda yang luar biasa indah dan bernilai tinggi dalam peradaban manusia. Namun, karena ia ditemukan oleh seekor ayam jantan yang merupakan unggas dengan insting bertahan hidup yang praktis, nilai kemewahan tersebut menjadi tidak relevan.
Permata itu tetap berharga, tetapi nilainya "mati" karena subjeknya tidak mampu merasakan manfaatnya.
Hal ini memberikan refleksi mendalam bahwa tidak semua hal baik atau bernilai tinggi dapat diterima dengan baik oleh setiap orang.
Terkadang, kita memberikan nasihat yang bijak, ilmu yang tinggi, atau bahkan kasih sayang yang tulus kepada orang yang salah—yaitu mereka yang belum memiliki kapasitas atau kedewasaan untuk mengapresiasinya.
Seperti permata di hadapan ayam jantan, sesuatu yang sangat istimewa akan dianggap sebagai benda biasa jika diberikan kepada mereka yang tidak memahami kegunaan atau keindahannya.
Lebih jauh lagi, cerita ini mengajarkan kita tentang pentingnya menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat.
Kemuliaan sebuah benda atau nilai sering kali hanya akan terpancar jika berada di tangan yang tepat.
Ayam jantan tersebut tidak salah karena lebih memilih jagung, namun permata tersebut pun tidak kehilangan nilai intrinsiknya; hanya saja, terjadi ketidaksesuaian antara objek yang mulia dengan kapasitas penerimanya yang terbatas pada kebutuhan fisik semata.
Sesuatu yang sangat berharga hanya akan memiliki makna yang utuh jika berada di tangan mereka yang memiliki kapasitas dan kesadaran untuk menghargainya.
********
Kisah di atas merupakan adaptasi dari cerita berbahasa Inggris berjudul "The Cock and The Jewel" karya Aesop, yang terjemahannya adalah di bawah ini.
Fabel Aesop dari Sumber Klasik Domain Publik
Ayam Jantan dan Permata (Versi Townsend)
Seekor Ayam Jantan, yang sedang mengais makanan untuk dirinya sendiri dan untuk ayam-ayam betinanya, menemukan sebuah batu berharga dan berseru, “Seandainya pemilikmu yang menemukanmu, dan bukan aku, tentu ia akan memungutmu dan mengembalikanmu ke kedudukanmu yang semestinya; tetapi aku menemukanmu tanpa guna apa pun. Aku lebih memilih sebutir biji jelai daripada seluruh permata di dunia.”
(Diterjemahkan secara bebas dari buku Three Hundred Æsop’s Fables Literally Translated from the Greek. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh George Fyler Townsend)
Ayam Jantan dan Permata (Versi Caldecott)
Seekor Ayam Jantan menemukan sebuah permata saat sedang mengais tumpukan kotoran.
“Oh, mengapa,” katanya, “aku harus menemukan benda berkilau ini? Seandainya seorang ahli permata menemukannya, ia pasti akan sangat bersukacita memikirkan nilainya. Namun bagiku, benda ini sama sekali tidak ada gunanya, dan aku tidak peduli sedikit pun padanya. Aku lebih suka memiliki sebutir jelai daripada semua permata di dunia.”
(Diterjemahkan secara bebas dari buku Some of Æsop's Fables with Modern Instances, Shewn in Designs by Randolph Caldecott, from New Translations by Alfred Caldecott, M.A., The Engravings by J. D. Cooper)
.jpg)
Posting Komentar