Fabel Serigala dan Burung Bangau: Kisah Janji yang Tak Ditepati

Daftar Isi
Fabel Serigala dan Burung Bangau: Kisah Janji yang Tak Ditepati

Fabel klasik tentang Serigala dan Bangau karya Aesop ini mengisahkan tentang janji manis yang berujung pada pengkhianatan. Cerita ini bermula saat seekor serigala ceroboh tersedak tulang dan memohon pertolongan kepada hewan lain dengan imbalan besar. Melalui kisah ini, kita akan belajar tentang pentingnya berhati-hati dalam memberikan bantuan kepada pihak yang tidak tahu berterima kasih.

Narasi Cerita Serigala dan Burung Bangau

Di sebuah hutan yang lebat, seekor serigala baru saja berhasil menangkap hewan buruannya. Karena rasa lapar yang begitu hebat, ia melahap daging itu dengan sangat rakus dan tergesa-gesa. Ia tidak lagi peduli untuk mengunyah makanannya dengan benar.

Akibat kecerobohannya, sebuah tulang tajam tiba-tiba tersangkut melintang jauh di dalam kerongkongannya. Rasa sakit yang luar biasa seketika menyergap, membuatnya tidak bisa makan ataupun berteriak dengan jelas.

Serigala itu panik bukan main, ia berlarian ke sana kemari sambil melolong tertahan mencari pertolongan. Ia berjanji akan memberikan imbalan harta yang sangat besar bagi siapa saja yang mampu mengeluarkan tulang itu.

Seekor bangau yang kebetulan sedang berada di dekat sana mendengar rintihan pilu tersebut. Ia mendekat, namun langkahnya terhenti karena rasa takut melihat taring tajam sang pemangsa.

Melihat keraguan itu, Serigala kembali meyakinkan Bangau dengan janji manis tentang hadiah yang melimpah. Tergiur oleh imbalan tersebut, Bangau akhirnya setuju, namun ia meminta Serigala bersumpah untuk menepati janjinya.

Setelah sumpah terucap, Serigala segera berbaring miring dan membuka rahangnya selebar mungkin agar Bangau bisa melihat ke dalam. Dengan hati berdebar, Bangau memasukkan leher panjangnya ke dalam mulut serigala yang berbahaya itu.

Dengan sangat hati-hati, Bangau menggunakan paruhnya yang panjang untuk melonggarkan posisi tulang yang tersangkut. Setelah usaha yang gigih, tulang itu akhirnya berhasil ditarik keluar dengan selamat.

Serigala seketika merasa lega dan bernapas panjang, rasa sakit yang menyiksanya kini telah hilang sepenuhnya. Melihat tugasnya selesai, Bangau dengan sopan menagih hadiah yang telah dijanjikan sebelumnya.

Namun, Serigala justru menyeringai licik dan menatap Bangau dengan tatapan meremehkan. Ia berkata bahwa ia tidak akan memberikan harta apa pun kepada unggas tersebut.

"Kau baru saja memasukkan kepalamu ke dalam mulut serigala dan berhasil menariknya keluar dengan selamat," ujar Serigala dengan angkuh. "Itu adalah hadiah terbesar yang bisa kau dapatkan, jadi pergilah sebelum aku berubah pikiran."

Pesan Moral Dongeng Serigala dan Burung Bangau

1. Jangan Mengharapkan Imbalan Saat Melayani Orang Jahat

Mengabdikan diri atau menolong seseorang yang memiliki tabiat buruk seringkali tidak akan membuahkan hasil manis. Janganlah kita berharap mendapat penghargaan atau balasan setimpal, karena bagi mereka, kebaikan orang lain hanyalah sarana untuk keuntungan pribadi sesaat.

2. Bijaksana dalam Memilih Sasaran Kebaikan

Sebelum bertindak, pertimbangkanlah matang-matang karakter orang yang akan kita bantu. Memberikan pertolongan atau kepercayaan kepada orang yang tidak terhormat berisiko tinggi; bukannya mendapat balasan budi, kita justru bisa dirugikan oleh sifat mereka yang tidak tahu terima kasih.

3. Keselamatan Adalah Keuntungan Terbesar

Dalam situasi di mana kita harus berinteraksi dengan orang jahat, janganlah kecewa jika janji imbalan diingkari. Bersyukurlah jika Anda bisa pergi tanpa kurang suatu apa pun, karena lolos dari bahaya tanpa cedera setelah melayani mereka sudah merupakan bayaran yang sangat berharga.

********

Kisah di atas merupakan adaptasi dari cerita berbahasa Inggris berjudul "The Wolf and the Crane" karya Aesop, yang terjemahannya adalah di bawah ini.

Fabel Aesop dari Sumber Klasik Domain Publik

Serigala dan Burung Bangau (Versi Townsend)

Seekor Serigala yang tenggorokannya tersangkut sepotong tulang mengupah seekor Burung Bangau dengan imbalan besar agar ia mau memasukkan kepalanya ke dalam mulut Serigala dan menarik keluar tulang tersebut.

Setelah Burung Bangau itu berhasil mengeluarkan tulangnya dan menagih imbalan yang telah dijanjikan, sang Serigala, sambil menyeringai dan mengertakkan giginya, berseru, “Ah, engkau telah menerima imbalan yang cukup, karena telah diizinkan menarik keluar kepalamu dengan selamat dari mulut dan rahang seekor serigala.”

Dalam melayani orang jahat, jangan berharap imbalan, dan bersyukurlah jika engkau luput dari bahaya.

(Diterjemahkan secara bebas dari buku Three Hundred Æsop’s Fables Literally Translated from the Greek. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh George Fyler Townsend)



Posting Komentar