Fabel Singa, Beruang, dan Rubah: Pertarungan yang Sia-Sia

Daftar Isi

Kisah klasik karya Aesop tentang Singa dan Beruang ini memberikan pelajaran berharga mengenai dampak buruk dari keserakahan.

Ketika dua pihak yang kuat menolak untuk berkompromi, mereka sering kali tidak menyadari adanya pihak ketiga yang siap mengambil keuntungan. Mari kita simak bagaimana pertikaian ini justru berakhir dengan tangan hampa bagi para penguasa hutan.


Narasi Cerita Singa, Beruang, dan Rubah

Di sebuah hutan rimba yang lebat, seekor anak kambing yang malang tersesat jauh dari kawanannya. Nasibnya kian memburuk ketika dua penguasa hutan, seekor Singa yang gagah dan seekor Beruang yang besar, melihatnya secara bersamaan.

Didorong rasa lapar, keduanya menerkam anak kambing itu dalam waktu yang nyaris serentak. Mereka berhenti sejenak dan saling mencengkeram mangsa itu dengan sangat kuat.

Singa mengaum keras dengan mata yang menyala penuh amarah. "Lepaskan! Ini adalah buruanku karena aku adalah raja hutan ini!" teriaknya dengan lantang.

Namun, Beruang yang bertubuh kokoh tidak gentar sedikit pun. Ia membusungkan dadanya dan membalas, "Enak saja! Aku yang melihatnya lebih dulu, maka mangsa ini adalah hakku!"

Tak ada yang mau mengalah atau membagi hasil buruan tersebut. Perdebatan singkat itu segera berubah menjadi pertarungan yang sangat dahsyat di tengah hutan.

Mereka saling mencakar dan menggigit dengan kekuatan penuh hingga matahari mulai tergelincir ke arah barat. Perlahan namun pasti, tenaga kedua hewan buas tersebut terkuras habis.

Luka-luka di tubuh membuat gerakan mereka melambat hingga akhirnya mereka ambruk ke tanah. Mereka terkapar dengan napas yang memburu, bahkan terlalu lemah untuk sekadar mengangkat kepala.

Saat itulah, seekor Rubah yang cerdik mengamati mereka dari kejauhan. Melihat kesempatan emas, sang Rubah berjalan mendekat dengan langkah yang sangat ringan dan tenang.

Rubah dengan mudah mengambil anak kambing tersebut tepat di depan hidung mereka. Singa dan Beruang ingin sekali bertindak, namun otot-otot mereka seolah sudah mati rasa.

Mereka benar-benar tak berdaya dan hanya bisa menatap nanar. Rubah itu melenggang pergi membawa mangsa yang mereka perebutkan dengan susah payah.

Sepeninggal Rubah, suasana menjadi sangat hening. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, timbul penyesalan yang mendalam di hati Singa dan Beruang.

"Betapa bodohnya kita," keluh Singa dengan suara parau. Beruang pun mengangguk lemah, mengakui kebodohan yang telah mereka lakukan karena menuruti ego.

Andai saja tadi mereka mau berbagi, tentu perut mereka sudah terisi saat ini. Kini, mereka tidak mendapatkan apa-apa selain luka perih dan penyesalan yang sudah terlambat.


Pesan Moral Dongeng Singa, Beruang, dan Rubah

1. Lebih Baik Berbagi daripada Kehilangan Semuanya

Seandainya Singa dan Beruang mau sedikit mengalah dan berbagi, mereka berdua pasti akan kenyang hari itu. Namun, karena keduanya ingin menguasai seluruh mangsa sendirian, mereka justru berakhir dengan perut kosong.

Keserakahan sering kali membuat kita menjadi buta terhadap jalan keluar yang paling sederhana. Kita terlalu sibuk mengejar keuntungan penuh, sampai lupa bahwa mendapatkan separuh jauh lebih baik daripada tidak mendapatkan apa-apa.

Belajarlah untuk berkompromi dan menekan ego demi kebaikan bersama. Dalam banyak situasi, berbagi bukan berarti kita kalah, melainkan cara cerdas untuk memastikan semua pihak tetap mendapatkan manfaat.

2. Ego yang Berlebihan Hanya Akan Merugikan Diri Sendiri

Singa merasa dirinya raja dan Beruang merasa dirinya paling kuat, sehingga tidak ada yang mau merendahkan hati. Akibat rasa sombong tersebut, mereka justru terkapar tak berdaya dan terlihat menyedihkan di depan hewan lain.

Amarah yang meledak-ledak hanya akan menguras energi dan menutup kemampuan kita untuk berpikir logis. Saat kita terlalu fokus ingin membuktikan siapa yang paling hebat, kita sering melupakan apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Kendalikanlah ego Anda sebelum ego tersebut yang mengendalikan dan menghancurkan peluang yang ada di depan mata. Kebijaksanaan selalu lahir dari hati yang tenang, bukan dari kesombongan yang dipaksakan.

3. Waspada terhadap Pihak Ketiga dalam Pertikaian

Ketika dua orang sedang sibuk bertikai, biasanya akan selalu ada pihak ketiga yang mengawasi dari kejauhan. Mereka hanya perlu menunggu saat Anda sudah lelah dan lengah untuk mengambil keuntungan dengan sangat mudah.

Rubah dalam cerita ini melambangkan ancaman luar yang muncul akibat perpecahan internal. Tanpa perlu mengeluarkan keringat atau darah, ia justru menikmati hasil yang diperjuangkan orang lain secara mati-matian.

Jangan biarkan perselisihan membuat posisi Anda menjadi rapuh dan mudah dimanfaatkan oleh orang lain. Persatuan dan komunikasi yang baik adalah perisai terbaik untuk menjaga jerih payah kita dari incaran pihak luar.

********

Kisah di atas merupakan adaptasi dari cerita berbahasa Inggris berjudul "The Lion, the Bear, and the Fox" karya Aesop, yang terjemahannya adalah di bawah ini.

Fabel Aesop dari Sumber Klasik Domain Publik

Singa, Beruang, dan Rubah (Versi Townsend)

Seekor Singa dan seekor Beruang menangkap seekor anak kambing pada saat yang bersamaan, lalu bertarung dengan sengit untuk memperebutkannya. Setelah mereka saling mencabik dengan mengerikan dan menjadi lemah akibat pertarungan yang panjang, mereka pun rebah, benar-benar kehabisan tenaga.

Seekor Rubah, yang telah mengitari mereka dari kejauhan beberapa kali, melihat keduanya terkapar di atas tanah dengan anak kambing itu tergeletak tak tersentuh di tengah-tengah mereka. Ia segera berlari ke tengah-tengah mereka, menyambar anak kambing itu, lalu lari terbirit-birit secepat yang ia bisa.

Singa dan Beruang melihatnya, namun karena tidak mampu bangkit, mereka berkata, “Celakalah kita, karena kita telah bertarung dan saling menghajar hanya untuk menguntungkan seekor Rubah.”

Sering terjadi, satu orang menanggung seluruh kerja keras, sementara orang lain menikmati seluruh hasilnya.

(Diterjemahkan secara bebas dari buku Three Hundred Æsop’s Fables Literally Translated from the Greek. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh George Fyler Townsend)


.

Posting Komentar