Fabel Gagak Ingin Menjadi Elang (Dongeng Pentingnya Menjadi Diri Sendiri)

Daftar Isi

Fabel Gagak Ingin Menjadi Elang merupakan cerita dongeng anak karya Aesop yang populer. Fabel ini memberikan peringatan yang sangat tajam tentang bahaya kesombongan dan keinginan untuk meniru orang lain tanpa mengukur kemampuan diri sendiri.

Narasi Cerita Gagak Ingin Menjadi Elang

Di sebuah lembah yang subur, seekor Elang perkasa melayang anggun di angkasa. Dengan sorot mata tajam, ia melihat seekor anak domba yang sedang bermain sendirian di tengah padang rumput. Tanpa ragu, Elang itu menukik cepat dan menyambar mangsanya dengan cengkeraman yang kuat.

Kejadian menakjubkan itu disaksikan oleh seekor Gagak yang sedang bertengger di dahan pohon. Awalnya, ia merasa kagum melihat kekuatan dan kecepatan sang Elang dalam berburu mangsa. Namun, rasa kagum itu perlahan berubah menjadi rasa iri hati yang membakar dadanya.

"Sepertinya itu hal yang mudah dilakukan," gumam si Gagak dengan nada meremehkan. Ia membentangkan sayap hitamnya lebar-lebar, mencoba mengukur kekuatannya sendiri yang dirasa setara. "Aku pun memiliki sayap dan cakar, pasti aku bisa melakukan hal yang sama, bahkan lebih hebat."

Dengan ambisi yang besar, Gagak itu mulai mencari mangsa untuk membuktikan kehebatannya. Ia tidak memilih anak domba kecil, melainkan seekor domba jantan yang paling besar dan gemuk di kawanan itu. Ia berpikir bahwa tangkapan besar akan membuatnya lebih disegani daripada sang Elang.

Gagak itu pun terbang tinggi, lalu menukik turun meniru gaya sang Elang saat menyergap. Ia menghantam punggung domba jantan itu dengan keras, berharap bisa segera membawanya terbang ke angkasa. Namun, kenyataan tidak seindah bayangan yang ada di kepalanya.

Ketika ia mencoba mengangkat mangsanya, domba besar itu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Cakar Gagak yang kecil justru terbelit erat di dalam bulu domba yang tebal dan keriting. Semakin ia berusaha mengepakkan sayap untuk terbang, semakin kuat bulu itu menjerat kakinya.

Si Gagak mulai panik dan meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari punggung domba yang berat itu. Domba jantan itu hanya menoleh sebentar, merasa sedikit terganggu, lalu kembali makan dengan tenang. Ia tidak menyadari bahwa ada seekor burung yang sedang terjebak tak berdaya di punggungnya.

Seorang Gembala yang sedang beristirahat melihat kejadian menggelikan itu dari kejauhan. Ia tersenyum geli melihat seekor burung hitam kecil yang berusaha mengangkat dombanya. Dengan langkah santai, Gembala itu menghampiri si Gagak yang sudah kehabisan tenaga karena meronta.

Gembala itu menangkap Gagak tersebut dengan mudah, lalu memotong sedikit ujung sayapnya agar tidak bisa terbang jauh. Ia membawa burung itu pulang sebagai hadiah untuk anak-anaknya di rumah. Anak-anaknya pun menyambut kedatangan ayah mereka dengan sorak-sorai gembira.

"Ayah, burung apakah ini? Dia terlihat lucu sekali saat mencoba berjalan!" tanya salah satu anaknya dengan penuh rasa ingin tahu. Anak-anak yang lain pun ikut berkumpul mengelilingi ayah mereka untuk melihat burung hitam itu. Sang Gembala tersenyum bijak sambil membelai kepala anaknya dengan lembut.

"Bagi kita yang melihatnya, ini hanyalah seekor Gagak biasa," jawab sang Gembala dengan suara lembut. Ia mengangkat burung itu sedikit lebih tinggi agar anak-anaknya bisa melihat lebih jelas. "Tetapi jika kau bertanya padanya, dia pasti akan bersikeras bahwa dirinya adalah seekor Elang yang gagah perkasa."

Nilai Moral Fabel Gagak Ingin Menjadi Elang

1. Mengenali Kemampuan Diri Sendiri

Setiap individu memiliki keunikan, bakat, dan kapasitas yang berbeda-beda dalam menjalani kehidupan, layaknya Elang dan Gagak yang punya peran masing-masing. Sang Elang diciptakan dengan tubuh kuat untuk berburu, sedangkan Gagak memiliki keahlian tersendiri yang tak kalah penting di alam bebas. Masalah baru akan muncul ketika kita, seperti si Gagak, memaksakan diri melakukan hal di luar kapasitas hanya demi mengejar gengsi semata.

Penting bagi kita untuk jujur mengenali bakat dan batasan yang kita miliki agar tidak salah melangkah. Mengetahui batasan bukan berarti kita lemah atau menyerah pada keadaan yang ada. Justru, pemahaman tersebut adalah bentuk kebijaksanaan agar kita bisa fokus mengembangkan apa yang benar-benar menjadi kekuatan kita.

2. Bahaya Sifat Iri Hati dan Sombong

Kemalangan sang Gagak bermula dari rasa iri hati yang mendalam saat melihat keberhasilan sang Elang. Rasa iri tersebut perlahan menutupi akal sehatnya, sehingga membuatnya mengambil keputusan yang gegabah dan berbahaya. Ia tidak lagi mampu berpikir rasional mengenai ukuran tubuhnya sendiri karena sudah dikuasai oleh nafsu untuk pamer.

Sikap sombong yang menyertai rasa iri hanya akan menyebabkan pelakunya terjebak ke dalam situasi yang memalukan dan merugikan. Bukannya mendapatkan pujian atau penghormatan yang didambakan, Gagak justru berakhir dengan kehilangan kebebasannya yang berharga. Hal ini menjadi pengingat bahwa ambisi yang tidak terukur sering kali membawa petaka bagi diri sendiri.

3. Menjadi Diri Sendiri Lebih Berharga

Cerita ini mengajarkan kita untuk bangga menjadi diri sendiri tanpa perlu meniru orang lain. Menjadi Gagak yang baik jauh lebih mulia daripada menjadi Elang tiruan yang gagal. Kita tidak perlu memakai topeng atau berpura-pura menjadi orang lain hanya untuk mendapatkan pengakuan sosial sesaat.

Kebahagiaan sejati akan datang menghampiri ketika kita bisa menerima kondisi diri kita apa adanya dengan lapang dada. Kita tidak perlu merasa cemas atau terancam saat melihat pencapaian orang lain yang tampak lebih bersinar. Fokuslah pada jalan hidup kita sendiri, syukuri apa yang kita punya, dan berkaryalah sesuai dengan kemampuan terbaik kita.

********

Kisah di atas merupakan adaptasi dari cerita berbahasa Inggris berjudul "The Eagle and the Jackdaw" karya Aesop, yang terjemahannya adalah di bawah ini.

Fabel Aesop dari Sumber Klasik Domain Publik

Elang dan Burung Jackdaw (Versi Townsend)

Seekor Elang terbang menukik dari tempatnya bertengger di sebuah batu yang tinggi, lalu menyambar seekor anak domba dan membawanya terbang tinggi dengan cakar-cakarnya. Seekor burung Jackdaw (gagak kecil) yang menyaksikan kejadian itu dirundung rasa iri, lalu bertekad untuk menyamai kekuatan serta kehebatan terbang sang Elang.

Jackdaw terbang berputar-putar dengan kepakan sayap yang menderu, lalu hinggap di atas seekor domba jantan yang besar dengan niat untuk membawanya terbang. Namun, cakar-cakarnya tersangkut pada bulu domba yang lebat itu dan ia tidak mampu melepaskan diri, meskipun telah mengepakkan sayapnya sekuat tenaga.

Sang Gembala, yang melihat apa yang terjadi, segera berlari dan menangkapnya. Ia memotong sayap Jackdaw itu, lalu membawanya pulang pada malam hari untuk diberikan kepada anak-anaknya. Ketika anak-anaknya bertanya, “Ayah, burung jenis apakah ini?” sang Gembala menjawab:

“Setahuku, ia hanyalah seekor Jackdaw, tetapi ia ingin kalian menganggapnya sebagai seekor Elang.”

(Diterjemahkan secara bebas dari buku Three Hundred Æsop’s Fables Literally Translated from the Greek. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh George Fyler Townsend)


.


Posting Komentar