Fabel Rubah, Penebang Kayu, dan Pemburu

Daftar Isi
Fabel Rubah, Penebang Kayu, dan Pemburu, Kisah Tentang Pertolongan yang Tidak Tulus

Fabel Rubah, Penebang Kayu, dan Pemburu adalah salah satu dongeng klasik karya Aesop yang penuh hikmah. Fabel ini sangat menarik karena membahas tentang kemunafikan, yaitu ketika kata-kata manis tidak sejalan dengan tindakan nyata.

Narasi Fabel Rubah, Penebang Kayu, dan Pemburu

Suasana di dalam hutan terasa sangat tegang pada siang itu. Seekor rubah terlihat berlari sangat kencang menembus semak belukar dengan napas yang terengah-engah. Ia sedang dikejar oleh sekelompok pemburu yang membawa senjata lengkap.

Rubah itu sadar bahwa tenaganya sudah hampir habis karena berlari terlalu jauh. Jika ia tidak segera menemukan tempat bersembunyi yang aman, ia pasti akan tertangkap oleh para pemburu itu. Matanya yang tajam menyapu sekeliling hutan mencari pertolongan.

Di tepi hutan, rubah melihat seorang penebang kayu yang sedang sibuk memotong batang pohon besar. Dengan langkah kaki yang mulai lemas, rubah itu menghampiri sang penebang kayu. Ia memohon belas kasihan agar disembunyikan dari kejaran orang-orang yang memburunya.

Penebang kayu itu menghentikan pekerjaannya sejenak dan menatap rubah yang ketakutan. Dengan wajah yang tampak ramah, ia menunjuk ke arah gubuk kecil miliknya di dekat pohon. "Cepatlah masuk ke dalam gubuk itu dan jangan bersuara," bisiknya pelan.

Rubah merasa sangat lega mendengar tawaran bantuan itu. Tanpa membuang waktu, ia segera menyelinap masuk dan bersembunyi di sudut gubuk yang gelap. Di sana, ia meringkuk diam sambil berusaha menahan napas agar tidak terdengar.

Tak berselang lama, rombongan pemburu tiba di lokasi penebang kayu tersebut bekerja. Mereka tampak lelah namun penasaran mencari jejak buruannya yang mendadak hilang. Salah satu pemburu bertanya dengan lantang, "Hai penebang kayu, apakah kau melihat seekor rubah lari ke arah sini?"

Penebang kayu itu menjawab dengan suara yang tegas dan meyakinkan, "Tidak, aku sama sekali tidak melihat rubah lewat sini." Namun, ada yang aneh dan licik dengan tingkah lakunya saat berbicara. Sambil mulutnya berkata "tidak", ibu jarinya justru menunjuk lurus ke arah gubuk tempat rubah bersembunyi.

Untunglah, para pemburu itu sedang terburu-buru dan tidak memperhatikan isyarat jari si penebang kayu. Mereka hanya mendengarkan ucapan penyangkalan yang keluar dari mulutnya dengan jelas. Karena percaya pada ucapannya, mereka pun segera berlari melanjutkan pengejaran ke arah yang berbeda.

Setelah suasana di luar terdengar sepi dan aman, rubah perlahan memberanikan diri keluar dari persembunyian. Ia menatap penebang kayu itu sebentar dengan tatapan dingin dan kecewa. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, rubah itu berbalik badan dan mulai berjalan pergi.

Penebang kayu yang melihat hal itu merasa tersinggung dan marah. Ia segera memanggil rubah itu agar berhenti. "Hei Rubah, sungguh tidak sopan dirimu! Aku sudah menyelamatkan nyawamu, tapi kau pergi begitu saja tanpa berterima kasih," serunya kesal.

Mendengar teriakan itu, rubah berhenti dan menoleh ke belakang. Dengan tenang ia menjawab, "Tentu aku akan berterima kasih padamu, seandainya gerakan tanganmu sejalan dengan ucapanmu." Setelah mengatakan sindiran tajam itu, rubah pun menghilang ke dalam hutan yang rimbun.

Nilai Moral Fabel Rubah, Penebang Kayu, dan Pemburu

1. Jujur dalam Ucapan dan Perbuatan

Kejujuran bukan hanya soal apa yang kita ucapkan, tapi juga apa yang kita lakukan secara nyata. Penebang kayu dalam cerita ini gagal menjadi orang jujur karena mulut dan tangannya tidak kompak. Ia berbohong dengan gerakan tangannya meskipun mulutnya berkata hal yang benar.

Sikap seperti ini sangat berbahaya karena bisa merusak nama baik kita. Orang lain akan menganggap kita sebagai pembohong atau orang munafik jika ketahuan berbuat demikian. Sekali saja kita berlaku tidak jujur, orang akan sulit percaya kepada kita lagi di masa depan.

2. Menolong Harus dengan Tulus Hati

Jika kita berniat membantu teman yang sedang susah, lakukanlah dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Jangan berpura-pura menjadi pahlawan padahal sebenarnya ingin menjerumuskan orang tersebut. Bantuan yang palsu atau setengah hati justru lebih menyakitkan daripada tidak membantu sama sekali.

Lebih baik kita menolak memberikan bantuan sejak awal jika memang tidak sanggup atau tidak mau. Jangan memberikan harapan palsu kepada orang yang sedang dalam bahaya. Ketulusan hati adalah kunci utama dalam memberikan pertolongan kepada pihak lain.

3. Tindakan Lebih Penting daripada Kata-kata

Kebaikan seseorang dinilai dari tindakan nyatanya di lapangan, bukan sekadar janji manis di bibir. Penebang kayu bisa saja berteriak lantang membela rubah, tetapi gerakan jarinya membocorkan niat jahatnya. Ingatlah, perbuatan nyata tidak pernah bisa berbohong.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemui orang yang pandai bicara tetapi malas bertindak. Jangan sampai kita menjadi orang seperti itu. Jadilah orang yang lebih banyak melakukan tindakan kebaikan secara nyata.

4. Bijak dalam Memberi Terima Kasih

Kita memang diajarkan untuk selalu berterima kasih kepada penolong, namun hanya jika pertolongan itu murni. Rubah mengajarkan kita untuk berani bersikap tegas terhadap kemunafikan orang lain. Ia menolak berterima kasih karena tahu bahwa keselamatan dirinya hanyalah keberuntungan, bukan karena kebaikan penebang kayu.

Kita tidak perlu merasa berutang budi kepada orang yang sebenarnya berniat mencelakakan kita. Menghargai orang lain itu penting, tetapi menjaga harga diri juga tak kalah pentingnya. Berikanlah rasa hormat hanya kepada mereka yang benar-benar tulus menyayangi kita.

********

Kisah di atas merupakan adaptasi dari cerita berbahasa Inggris berjudul "The Fox and the Woodcutter" karya Aesop, yang terjemahannya adalah di bawah ini.

Fabel Aesop dari Sumber Klasik Domain Publik

Rubah dan Penebang Kayu (Versi Townsend)

Seekor Rubah, yang sedang melarikan diri dari kejaran anjing-anjing pemburu, berpapasan dengan seorang Penebang Kayu yang sedang menebang sebatang pohon ek dan memohon kepadanya untuk menunjukkan tempat persembunyian yang aman. Penebang Kayu itu menyarankannya untuk berlindung di dalam gubuk miliknya, maka sang Rubah menyelinap masuk dan bersembunyi di salah satu sudut.

Tak lama kemudian, sang pemburu datang bersama anjing-anjing pelacaknya dan bertanya kepada Penebang Kayu apakah ia melihat sang Rubah. Penebang Kayu itu menyatakan bahwa ia tidak melihatnya, namun sepanjang ia berbicara, tangannya terus menunjuk ke arah gubuk tempat sang Rubah bersembunyi. Sang pemburu tidak memperhatikan isyarat tersebut, melainkan percaya pada perkataan si Penebang Kayu dan segera bergegas melanjutkan pengejaran.

Segera setelah mereka pergi jauh, sang Rubah keluar dan pergi begitu saja tanpa mengindahkan Penebang Kayu tersebut. Penebang Kayu itu pun memanggil dan mencacinya, “Dasar kau makhluk tidak tahu balas budi! Engkau berutang nyawa kepadaku, namun engkau pergi tanpa mengucapkan sepatah kata terima kasih pun.”

Sang Rubah menjawab, “Tentu saja, aku akan berterima kasih kepadamu dengan sepenuh hati seandainya perbuatanmu sebaik perkataanmu, dan seandainya tanganmu tidak mengkhianati ucapanmu.”

(Diterjemahkan secara bebas dari buku Three Hundred Æsop’s Fables Literally Translated from the Greek. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh George Fyler Townsend)


.

Posting Komentar