Belajar Pentingnya Empati dari Kisah Anak yang Tenggelam: Tolong Dulu, Marahnya Nanti

Daftar Isi

Halo sobat Wifqimedia. Dalam kesempatan kali ini, akan disajikan sebuah cerita yang menarik tentang pentingnya melihat situasi dan kondisi saat memberikan nasihat.

ilustrasi anak tenggelam

Tolong Dulu, Marahnya Nanti

Matahari bersinar dengan terik. Tak urung, siapa pun ingin mencari kesejukan untuk mengusir rasa panas dan gerah.

Seorang anak laki-laki berdiri di tepian sungai. Berbinar matanya menatap air sungai yang jernih. "Pasti sangat segar kalau berendam di dalam air," pikirnya.

Kemudian ia masuk ke sungai dan berendam di sana. Sambil bermain air, ia berjalan semakin ke tengah. Malang tak dapat ditolak, tiba-tiba dasar sungai itu menurun tajam sehingga anak itu kehilangan pijakan.

Anak itu kaget dan kehilangan keseimbangan. Meskipun ia bisa berenang, kemampuan berenangnya biasa saja. 

Anak itu pun meronta-ronta. Tangannya menggapai-gapai di udara. Akan tetapi, semakin ia berusaha, malahan ia semakin tenggelam.

Dalam kepanikannya, anak itu berteriak sekuat tenaga, "Tolong, tolong, tolong!"

Untungnya, saat itu ada seorang pria yang sedang berada di dekat sungai.

Saat pria itu mendengar suara teriakan, ia bergegas menuju sumber suara.

Tak dinyana, saat pria itu berada di tepian sungai, ia hanya berdiri terpaku dan tampak kesal.

"Anak bodoh!" teriak pria itu dengan sinis. "Kenapa kamu mandi di sini? Sungai ini dalam. Kamu menyusahkan orang saja."

Sementara itu, tenaga si anak semakin lemah. Tubuhnya timbul tenggelam diterjang arus sungai. Saat ia melihat pria itu tidak segera menolongnya, malahan sibuk mengomel, anak itu pun berseru dengan sisa-sisa kekuatannya, "Pak, tolong aku dulu, marahnya nanti saja!"

Kalimat itu seketika menyadarkan sang pria. Anak yang hampir tenggelam itu perlu segera mendapatkan pertolongan.

Lalu, pria itu segera melompat dan berenang ke arah anak kecil itu. Alhasil, ia berhasil menolong anak itu dan membawanya ke daratan dengan selamat.

Nasihat dan peringatan menjadi tak berharga bagi orang yang berada dalam bahaya.

Pelajaran dari Kisah "Tolong Dulu, Marahnya Nanti"

1. Prioritas dalam Bertindak

Apapun tindakan yang kita lakukan, hendaknya melihat pada situasi dan kondisi.

Dalam situasi kritis, tindakan yang cepat dan sigap perlu dilakukan. Seperti dalam kisah di atas, tindakan menolong anak kecil yang tenggelam menjadi prioritas yang segera harus dilakukan. Terlambat sedikit saja dapat berakibat fatal.

2. Menyampaikan peringatan sesuai waktu, tempat, dan situasi

Seberharga apa pun nasihat atau peringatan, jika disampaikan di waktu, tempat, dan situasi yang salah, nasihat atau peringatan itu akan kehilangan makna. Bukannya menjadi sesuatu yang baik, nasihat atau peringatan itu malahan akan berakibat buruk. 

Seperti kisah di atas, peringatan dari sang pria menjadi tidak berguna karena si anak dalam kondisi yang berbahaya. Waktu yang ia gunakan untuk memberi peringatan hanya membuat kesempatan untuk melakukan penyelamatan.

3. Empati Sebelum Menghakimi

Peringatan yang diberikan oleh sang pria bernada sangat menghakimi. Dia sibuk mencari kesalahan sang anak dan menyalahkan keadaannya.

Apa yang dilakukan oleh sang pria menunjukkan kurang empati. Bayangkan saja dia berada dalam situasi serupa, lalu ada orang yang menghakiminya, apakah dia akan merasa nyaman dengan penghakiman orang lain itu?

Banyak orang yang terbiasa menghakimi orang lain dengan menggunakan sudut pandangnya sendiri. Yang ia lakukan adalah mengkondisikan orang lain sesuai ideal dalam pikirannya. Bahkan, lebih jauh lagi, bisa jadi ia hanya ingin memuaskan nafsu atau egonya sendiri untuk merasa lebih benar dibandingkan orang lain.

4. Dalam situasi tertentu, tindakan lebih utama daripada kata-kata

Suatu kecenderungan yang dimiliki banyak orang adalah memberikan nasihat, peringatan, cercaan, atau hinaan kepada orang lain. Dalam posisi ini, akan ada kepuasan dalam ego seseorang ketika memberikan kata-kata tersebut karena ada semacam rasa lebih tinggi dibandingkan orang lain.

Namun, bahkan kata-kata yang mulia akan kehilangan makna dalam situasi yang tidak semestinya.

Kita bayangkan dalam kondisi nyata. Ada orang miskin yang sangat kelaparan, lalu seorang yang terkenal bijak memberinya nasihat agar orang itu bekerja keras. Apakah berguna nasihat itu? Nasihat tidak bisa mengenyangkan, bahkan hanya menyakiti orang miskin itu. Beri saja roti atau sebungkus nasi, maka hal itu akan lebih berharga dan menyenangkan orang miskin itu.

5. Tanggung Jawab terhadap Sesama

Dalam cerita itu, sang pria menjumpai anak yang hampir tenggelam. Jika dia tidak peduli, tentu saja dia tidak akan menolong anak itu.

Setiap manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk saling membantu. Namun, dalam perjalanan hidup terkadang seseorang mengembangkan kecenderungan untuk acuh tak acuh terhadap suatu keadaan.

Dalam hal ini, perlu bagi kita untuk selalu merawat nurani kita sehingga ketika kita menjumpai orang yang kesulitan, apalagi dalam bahaya, kita memiliki kepedulian untuk turut menolong dan membantu sesuai dengan apa yang kita mampu dan bisa.

********

Kisah di atas merupakan adaptasi dari cerita berbahasa Inggris berjudul "The Boy Bathing" karya Aesop, yang terjemahannya adalah di bawah ini.

Fabel Aesop dari Sumber Klasik Domain Publik

Anak Laki-Laki yang Sedang Mandi (Versi Townsend)

Seorang anak laki-laki yang sedang mandi di sungai berada dalam bahaya tenggelam. Ia berteriak meminta tolong kepada seorang pengelana yang kebetulan melintas.

Namun, alih-alih mengulurkan tangan bantuan, pria itu hanya berdiri tanpa peduli. Malahan ia memarahi si anak karena kecerobohannya.

“Oh, Tuan!” seru si anak, “tolonglah aku sekarang, dan marahilah aku nanti.”

Nasihat tanpa bantuan tidaklah berguna.

(Diterjemahkan secara bebas dari buku Three Hundred Æsop’s Fables Literally Translated from the Greek. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh George Fyler Townsend)


Anak Laki-Laki yang Sedang Mandi (Versi Vernon Jones)

Seorang anak laki-laki sedang mandi di sungai, masuk ke bagian yang terlalu dalam, dan berada dalam bahaya besar untuk tenggelam. Seorang pria yang sedang melintas di jalan mendengar teriakan minta tolongnya.

Pria itu segera menghampiri tepi sungai. Namun, bukannya menolong, ia justru mulai memarahi si anak karena begitu ceroboh hingga masuk ke air yang dalam. Pria tersebut sama sekali tidak melakukan upaya apa pun untuk memberikan bantuan.

“Oh, Tuan!” seru si anak, “tolonglah aku terlebih dahulu, dan marahilah aku nanti.”

Berikanlah bantuan, bukan nasihat, di saat krisis.

(Diterjemahkan secara bebas dari buku Aesop's Fables, A New Translation by V. S. Vernon Jones)


Anak Laki-Laki yang Sedang Mandi (Versi Stickney)

Suatu kali, seorang anak laki-laki pergi mandi di tempat yang airnya terlalu dalam baginya. Ketika menyadari dirinya mulai tenggelam, ia berteriak kepada seorang pria yang sedang melintas agar datang menolongnya.

“Apakah kau tidak bisa berenang?” tanya pria itu.

“Tidak,” jawab si anak, “aku tidak tahu caranya.”

“Betapa bodohnya kau kalau begitu,” kata pria itu, “masuk ke air yang dalam! Tidakkah kau tahu lebih baik dari itu?”

“Oh, Tuan yang baik, tolonglah aku sekarang, atau aku akan tenggelam!” seru si anak. “Tuan bisa memarahiku lagi nanti setelah aku kembali ke darat dengan selamat.”

(Diterjemahkan secara bebas dari buku  Ã†sop’s Fables, A Version for Young Readers by J. H. Stickney)

Posting Komentar