Fabel Burung Gagak dan Merpati

Daftar Isi

Fabel tentang burung gagak dan merpati memiliki pesan moral yang sangat dalam tentang identitas dan keserakahan. Berikut ini cerita lengkapnya dengan judul Penyamaran Gagak Tengkuk Kelabu.

Ilustrasi Fabel Burung Gagak dan Merpati

Penyamaran Gagak Tengkuk Kelabu

Di sebuah dahan pohon tua, seekor gagak tengkuk kelabu sering memperhatikan sebuah rumah kayu yang hangat di halaman peternakan. Di sana, sekelompok merpati dengan bulu berwarna putih hidup dengan sangat damai. Setiap pagi, mereka mendapatkan jatah biji jagung yang melimpah dan air minum yang bersih tanpa perlu bersusah payah mencarinya di hutan yang luas.

Keinginan untuk menikmati kemudahan itu membuat si gagak memiliki sebuah ide licik. Ia menemukan sisa cat putih di dekat gudang dan melumuri seluruh bulu hitam serta bagian tengkuk kelabunya hingga memutih sempurna. Setelah penampilannya berubah, gagak terbang perlahan dan mendarat di ambang pintu rumah merpati tepat saat senja tiba.

Kedatangan burung itu sebenarnya disadari oleh para merpati yang ada di sana. Mereka sempat memperhatikannya sejenak dengan penuh rasa ingin tahu. Namun, karena bulunya terlihat putih bersih, para merpati mengira bahwa ia hanyalah seekor merpati baru yang datang untuk bergabung dengan kelompok mereka. Tanpa rasa curiga, mereka membiarkannya masuk dan berbagi tempat tidur yang hangat.

Selama beberapa hari, rencana si gagak berjalan sangat mulus. Ia menikmati makanan enak dan kenyamanan yang selama ini ia idamkan. Satu-satunya beban yang ia rasakan hanyalah keharusan untuk tetap diam. Ia tahu betul bahwa suaranya yang parau bisa membongkar segalanya, jadi ia selalu menjaga paruhnya tetap tertutup rapat saat berada di sekitar merpati lainnya.

Namun, kenyamanan yang berlebihan sering kali membuat seseorang lupa diri. Suatu sore, setelah perutnya kenyang oleh jagung berkualitas tinggi, si gagak merasa sangat gembira. Ia begitu menikmati suasana sore yang indah itu hingga secara tidak sadar membuka mulutnya. Bukannya mengeluarkan suara dengkuran lembut khas merpati, ia justru mengeluarkan teriakan aslinya yang sangat kasar, serak, dan memekakkan telinga.

Seketika, seluruh merpati di dalam kandang terperanjat. Mereka menyadari bahwa burung yang mereka kira merpati baru itu ternyata adalah seekor penyusup yang menyamar. Para merpati itu segera menyadari tipu daya tersebut. Dengan marah, mereka mulai mematuk dan mengejar si gagak hingga ia terpaksa terbang melarikan diri dari rumah kayu tersebut.

Dengan bulu yang berantakan dan hati yang sedih, si gagak mencoba kembali ke kelompok asalnya, yaitu kawanan gagak di hutan. Namun, nasib sial belum berakhir. Anggota kawanan lamanya sama sekali tidak mengenalinya karena bulunya masih tertutup cat putih yang kusam. Mereka menganggapnya sebagai burung asing yang aneh dan berbahaya, sehingga kawanan gagak itu pun mengusirnya pergi.

Gagak itu akhirnya bertengger sendirian di sebuah dahan yang sepi. Ia menyadari bahwa karena terlalu ingin menjadi pihak lain demi keuntungan pribadi, ia justru kehilangan jati dirinya. Kini, ia tidak lagi diterima di dunia merpati, dan tidak lagi dikenali oleh kawanan asalnya sendiri.

Pelajaran Penting / Moral Cerita

Kisah tentang gagak dan merpati ini mengandung pesan yang sangat mendalam bagi kita semua. Berikut adalah beberapa pelajaran penting yang bisa dipetik.

1. Kehilangan Jati Diri

Berpura-pura menjadi orang lain demi mendapatkan keuntungan atau fasilitas hanya akan membuat kita kehilangan diri sendiri. Pada akhirnya, si gagak tidak hanya gagal menjadi merpati, tetapi ia juga tidak lagi dikenali sebagai bagian dari kawanannya sendiri.

2. Kepalsuan Tidak Akan Bertahan Lama

Sehebat apa pun seseorang menyembunyikan sifat aslinya di balik penyamaran, suatu saat "suara asli" atau karakter aslinya akan muncul juga. Kebohongan biasanya akan terbongkar pada saat-saat yang tidak terduga, seperti saat si gagak lupa diri karena merasa terlalu nyaman.

3. Akibat dari Keserakahan

Karena ingin memiliki dua hal sekaligus (keamanan di kelompok asalnya dan kemewahan di kelompok merpati) si gagak justru berakhir dengan tangan hampa. Keserakahan yang dibarengi dengan cara yang tidak jujur sering kali berujung pada kerugian total.

4. Pentingnya Rasa Syukur

Kisah ini mengajarkan kita untuk menghargai apa yang kita miliki. Iri hati terhadap kehidupan orang lain (seperti si gagak yang iri pada makanan merpati) bisa membutakan kita terhadap keunikan dan kebebasan yang sebenarnya kita miliki sendiri.

********

Kisah di atas merupakan adaptasi dari cerita berbahasa Inggris berjudul "The Jackdaw And The Doves" dan "The Jackdaw And The Pigeons" karya Aesop, yang terjemahannya adalah di bawah ini.

Fabel Aesop dari Sumber Klasik Domain Publik

Burung Jackdaw dan Merpati (Versi Townsend)

Seekor Burung Jackdaw (gagak tengkuk-kelabu) melihat beberapa merpati di sebuah rumah merpati yang berlimpah makanan. Ia pun memutihkan bulunya dengan kapur dan bergabung dengan mereka demi mendapatkan jatah makanan yang melimpah di sana.

Selama ia tetap diam, para merpati menganggapnya sebagai salah satu dari mereka dan membiarkannya tinggal. Namun, suatu hari ia lupa diri dan mulai berkaok. Mereka segera mengenali jati dirinya dan mengusirnya keluar sambil mematuknya dengan paruh mereka.

Setelah gagal mendapatkan makanan di antara para merpati, ia kembali ke kawanannya sesama Jackdaw. Namun, mereka juga tidak mengenali dirinya karena warnanya yang putih, lalu mengusirnya dari kelompok tersebut. Akhirnya, karena ingin mengejar dua tujuan sekaligus, ia justru tidak mendapatkan satu pun.

(Diterjemahkan secara bebas dari buku Three Hundred Æsop’s Fables Literally Translated from the Greek. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh George Fyler Townsend)

Burung Jackdaw dan Merpati (Versi Caldecott)

Seekor burung jackdaw (gagak tengkuk-kelabu) memperhatikan betapa terawatnya burung-burung merpati di sebuah rumah merpati. Ia pun memutihkan bulunya dengan kapur dan pergi ke sana untuk hidup serupa mereka.

Para merpati awalnya bersikap ramah selama si jackdaw tetap diam, karena mereka mengira ia adalah bagian dari mereka. Namun, saat ia lupa diri dan mulai berkaok, mereka segera mengenali jati dirinya dan mengusirnya keluar.

Si jackdaw yang gagal mendapatkan kenikmatan di sana akhirnya kembali ke kawanannya sendiri. Namun, kawanannya tidak mengenali dia karena warnanya yang putih, sehingga mereka pun menolaknya. Akhirnya, karena serakah ingin mengejar dua keuntungan sekaligus, ia justru kehilangan keduanya.

(Diterjemahkan secara bebas dari buku Some of Æsop's Fables with Modern Instances, Shewn in Designs by Randolph Caldecott, from New Translations by Alfred Caldecott, M.A., The Engravings by J. D. Cooper)


Burung Jackdaw dan Merpati (Versi Vernon Jones)

Seekor Burung Jackdaw (gagak tengkuk-kelabu) memperhatikan beberapa merpati di sebuah halaman peternakan. Ia merasa sangat iri saat melihat betapa baiknya mereka diberi makan, lalu memutuskan untuk menyamar menjadi salah satu dari mereka demi mendapatkan kenikmatan yang mereka miliki.

Ia pun memutihkan bulunya dengan kapur dari kepala hingga kaki dan bergabung dengan kawanan tersebut. Selama ia tetap diam, para merpati tidak pernah curiga bahwa ia bukanlah merpati seperti mereka. Namun suatu hari, ia bertindak ceroboh dengan mulai berkaok.

Saat itulah para merpati segera mengenali jati dirinya dan mematuknya tanpa ampun, sehingga ia terpaksa melarikan diri untuk kembali ke kawanannya sendiri. Namun, burung-burung Jackdaw lainnya tidak mengenali dirinya karena warna putih tersebut dan tidak membiarkannya ikut makan. Mereka justru mengusirnya, sehingga ia menjadi pengembara malang yang tidak memiliki rumah.

(Diterjemahkan secara bebas dari buku Aesop's Fables, A New Translation by V. S. Vernon Jones)

Posting Komentar