Fabel Keledai dan Belalang

Daftar Isi

 Ilustrasi Fabel Keledai dan Belalang

Kisah di bawah ini merupakan terjemahan dari cerita berbahasa Inggris berjudul "The Ass And The Grasshopper" dan "The Mule and the Grasshoppers" karya Aesop.

Fabel Aesop dari Sumber Klasik Domain Publik

Keledai dan Belalang (Versi Townsend)

Seekor Keledai, setelah mendengar beberapa ekor Belalang yang sedang bernyanyi, merasa sangat terpesona; dan karena ingin memiliki kemerduan melodi yang sama, ia bertanya makanan jenis apa yang mereka makan sehingga bisa memberikan suara yang begitu indah.

Mereka menjawab, “Embun.”

Keledai itu pun memutuskan bahwa ia hanya akan hidup dari embun saja, dan dalam waktu singkat, ia mati kelaparan.

(Diterjemahkan secara bebas dari buku Three Hundred Æsop’s Fables Literally Translated from the Greek. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh George Fyler Townsend)


Keledai dan Belalang (Versi Milo Winter)

Suatu hari, ketika seekor Keledai sedang berjalan di padang rumput, ia menemukan beberapa Belalang yang sedang berderik riang di sebuah sudut lapangan.

Ia mendengarkan nyanyian para Belalang itu dengan penuh kekaguman. Nyanyian itu begitu ceria sehingga hatinya yang menyukai kesenangan dipenuhi keinginan untuk bisa bernyanyi seperti mereka.

“Apa gerangan,” tanyanya dengan sangat sopan, “yang telah memberikan kalian suara seindah itu? Apakah ada makanan khusus yang kalian makan, ataukah ada nektar ilahi yang membuat kalian bernyanyi dengan begitu hebat?”

“Ya,” jawab para Belalang yang sangat suka bercanda, “itu adalah embun yang kami minum. Cobalah sendiri dan lihatlah hasilnya.”

Maka setelah itu, sang Keledai tidak mau makan atau minum apa pun selain embun. Tentu saja, Keledai yang malang dan bodoh itu segera mati.

Hukum alam tidak dapat diubah.

(Diterjemahkan secara bebas dari buku The Æsop For Children With Pictures By Milo Winter).


Bagal dan Belalang (Versi J. H. Stickney)

Seekor Bagal mendengar beberapa Belalang yang sedang berderik. Ia sangat terpesona oleh bunyi itu dan pun berharap dapat menghasilkan musik semerdu mereka.

“Makanan jenis apa yang kalian makan,” tanya si Bagal kepada para Belalang, “sehingga suara kalian begitu menawan?”

Para Belalang menjawab, “Kami hidup dari embun.”

Si Bagal pun memutuskan bahwa ia juga akan hidup hanya dari embun. Tak lama kemudian, ia mati kelaparan hanya karena mencoba meniru apa yang dilihatnya dilakukan orang lain, tanpa terlebih dahulu mempelajari alasan di baliknya.

(Diterjemahkan secara bebas dari buku Æsop’s Fables, A Version for Young Readers by J. H. Stickney)


Untuk menikmati lebih banyak cerita penuh pesan dan makna, silakan kunjungi laman Daftar Isi website ini.

Posting Komentar