Petchenyeg

Ivan Abramitch Zhmuhin adalah seorang pensiunan perwira Cossack yang tinggal di sebuah ladang terpencil. Ia sudah tua dan baru saja mengalami serangan ringan yang membuatnya memikirkan kematian. Dalam perjalanan pulang dari kota, ia bertemu seorang pengacara yang hendak pergi ke desa Dyuevka. Karena desa itu tidak jauh dari ladangnya dan sulit mendapatkan kuda di stasiun, Zhmuhin mengundang pengacara tersebut untuk bermalam di rumahnya.

Ladang Zhmuhin dikenal sebagai ladang Petchenyeg, sebutan yang muncul setelah seorang tamu dahulu menilai Zhmuhin seperti anggota suku pengembara yang dikenal sering menyerang wilayah Rusia. Julukan itu makin melekat karena kedua putranya kerap menyerbu kebun buah dan kebun sayur orang lain. Saat tiba di rumah, pengacara melihat kedua anak Zhmuhin sedang berlatih menembak burung: si adik melempar seekor ayam ke udara, lalu si kakak menembaknya hingga mati.

Rumah itu sederhana, pengap, dan berantakan. Istri Zhmuhin, Lyubov Osipovna, menyambut mereka dengan sikap malu-malu. Zhmuhin memperkenalkannya sebagai ibu dari kedua “anak serigala” mereka dan menyuruhnya menyiapkan makan malam. Ketika makanan disajikan, pengacara menolak daging karena ia seorang vegetarian dan tidak ingin membunuh hewan. Zhmuhin mengakui bahwa hewan juga merasakan sakit dan bahwa membunuh mereka adalah dosa. Namun, ia bingung membayangkan apa yang akan terjadi jika semua hewan ternak dibiarkan hidup bebas, terutama babi yang menurutnya bisa merusak kebun dan padang rumput.

Sepanjang malam, Zhmuhin terus berbicara tentang persoalan besar, moralitas, dan kehidupan. Karena mulai takut pada kematian, ia ingin menemukan pegangan hidup yang membuatnya merasa lebih tenang dan yakin. Ia mengagumi ketenangan pengacara yang tampak sederhana dan teguh pada prinsipnya. Namun, pikiran Zhmuhin mudah berputar-putar dan ia tidak berhasil menemukan jawaban yang memuaskannya.

Zhmuhin menceritakan berbagai kejadian untuk membuktikan bahwa manusia tidak banyak berubah meskipun zaman semakin maju. Ketika bertugas di Kaukasus, ia dan rekan-rekannya pernah memukuli seorang putri yang datang menangisi makam suaminya, seorang pangeran yang telah mereka bunuh, karena tangisannya mengganggu tidur mereka. Ia juga bercerita tentang seorang pemilik tambang yang menolak membayar pekerja. Pemilik itu menyuruh mandor membiarkan para pekerja memukulinya, lalu memberinya uang sepuluh rubel sebagai imbalan. Zhmuhin turut menceritakan bahwa kedua putranya pernah menggali kembali bangkai kudanya yang telah dikubur sesuai aturan untuk mencegah penyebaran penyakit, lalu menjual kulitnya.

Di tengah malam, Lyubov Osipovna memberanikan diri meminta nasihat kepada pengacara. Ia ingin mengajukan permohonan agar kedua putranya bisa bersekolah. Ia khawatir mereka tidak bisa membaca dan menulis, serta kelak hanya akan menjadi prajurit Cossack biasa. Namun, Zhmuhin memotong pembicaraan dan menyuruh istrinya pergi. Ia menganggap urusan itu bukan urusan istrinya. Setelah istrinya pergi, Zhmuhin malah membicarakannya dengan merendahkan. Ia berkata bahwa istrinya berasal dari keluarga miskin dan menikah dengannya ketika masih berusia tujuh belas tahun. Menurutnya, istrinya telah menangis sejak hari pernikahan mereka, dan ia bahkan tidak menganggap perempuan sebagai manusia yang setara.

Pengacara semakin tidak nyaman mendengar ucapan Zhmuhin dan akhirnya meminta keluar untuk menghirup udara. Malam itu terasa panjang, disertai udara gerah dan badai. Zhmuhin tetap terjaga, terus merenungkan kematian, kebaikan, dan keinginannya untuk melakukan sesuatu yang berarti sebelum meninggal. Ia kembali memikirkan hidup tanpa membunuh hewan, tetapi gagasannya selalu berakhir dalam kebingungan. Ia juga terus mengulang persoalannya tentang babi yang dibiarkan bebas.

Ketika pagi tiba, pengacara meminta agar kudanya segera disiapkan karena ia harus pergi. Zhmuhin berusaha menahannya sampai hujan reda, tetapi pengacara bersikeras. Saat hendak berangkat, pengacara melihat Lyubov Osipovna berdiri dengan mata sembap. Perempuan itu tampak iri pada kebebasannya dan seolah ingin kembali meminta bantuan tentang pendidikan anak-anaknya, tetapi tidak berani berbicara. Zhmuhin terus mengantar tamunya sambil mengundangnya untuk datang lagi. Pengacara akhirnya tak mampu menahan kejengkelannya dan berteriak bahwa Zhmuhin telah membuatnya sangat bosan, lalu pergi.

Ketika kereta kuda mulai pergi, kedua putra Zhmuhin kembali berlatih menembak burung. Si adik melempar seekor ayam jantan ke udara, lalu si kakak menembaknya hingga jatuh. Zhmuhin sendiri kembali ke rumah dengan bingung dan malu. Ia duduk dan meneruskan renungannya tentang kemerosotan moral manusia serta berbagai kemajuan zaman yang menurutnya tidak banyak berguna. Tak lama kemudian, ia makan, minum teh beberapa gelas, lalu berbaring untuk tidur siang.

Tema Cerita The Petchenyeg

Cerita The Petchenyeg menggambarkan manusia yang gemar memikirkan kebaikan dan persoalan moral, tetapi belum tentu mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terlihat pada Ivan Abramitch Zhmuhin, seorang pensiunan perwira yang mulai memikirkan kematian dan ingin menemukan pegangan hidup yang membuatnya merasa lebih tenang. Ia berbicara panjang lebar tentang moralitas, kekejaman manusia, dan pentingnya hidup damai dengan hewan. Namun, perkataannya tidak sejalan dengan sikapnya sendiri. Ia membiarkan kedua putranya bertindak kasar terhadap hewan, sementara di rumahnya sendiri ia memperlakukan istrinya dengan merendahkan dan mengabaikan keinginannya agar anak-anak mereka mendapat pendidikan.

Cerita ini juga memperlihatkan bagaimana kekuasaan dan kebiasaan dapat membuat seseorang menganggap perlakuan tidak adil sebagai sesuatu yang wajar. Zhmuhin menganggap dirinya berhak mengatur istrinya dan bahkan tidak mengakui perempuan sebagai manusia yang setara. Ia juga menceritakan kekerasan yang pernah dilakukannya di masa lalu seolah-olah tindakan itu hanya bagian biasa dari kehidupan. Sementara itu, keinginannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lebih banyak berhenti sebagai renungan, tanpa diikuti perubahan nyata.

Melalui tokoh Zhmuhin, cerita ini menunjukkan jarak antara memikirkan kebaikan dan benar-benar melakukannya. Pengetahuan, kemajuan zaman, dan pembicaraan tentang moral tidak otomatis membuat manusia menjadi lebih baik. Perubahan membutuhkan kesediaan untuk melihat kesalahan diri sendiri dan memperlakukan orang lain dengan lebih manusiawi. Ironisnya, Zhmuhin begitu sibuk memikirkan keburukan manusia secara umum, tetapi tidak sungguh-sungguh menyadari keburukan yang tampak dalam perilakunya sendiri.

(Artikel ini disusun dengan menggunakan bantuan ChatGPT dan Google Gemini).

Posting Komentar untuk "Petchenyeg"