Sang Guru Sekolah

Fyodor Lukitch Sysoev adalah seorang guru di sekolah milik perusahaan Kulikin. Setiap tahun, setelah ujian sekolah selesai, para pengurus perusahaan mengadakan jamuan makan malam. Acara ini dihadiri oleh pengawas sekolah, para guru yang terlibat dalam ujian, serta para pengurus dan mandor pabrik. Para tamu biasanya makan, minum, berbincang-bincang, dan bernyanyi hingga larut malam. Sysoev telah mengikuti jamuan ini selama tiga belas tahun.

Kini, ia bersiap menghadiri jamuan yang keempat belas. Ia ingin tampil rapi dengan jas hitam baru dan kemeja yang bagus. Namun, tubuhnya sangat lemah hingga ia tidak sanggup mengenakan sepatu sendiri. Istrinya menyarankan agar ia tidak pergi karena sedang sakit, tetapi Sysoev marah dan menolak nasihatnya.

Sysoev sedang kesal karena hasil ujian sekolah tidak sesuai dengan harapannya. Padahal, semua murid di kelas tertinggi berhasil mendapatkan sertifikat dan hadiah. Para pengurus perusahaan dan pejabat pemerintah juga puas dengan hasil ujian itu. Namun, Sysoev tetap kecewa. Babkin, murid yang biasanya tidak pernah salah menulis, membuat tiga kesalahan dalam ujian dikte. Dalam ujian ini, murid mendengarkan bacaan yang diucapkan seseorang, lalu menuliskannya. Sergeyev juga gagal mengingat hasil perkalian tujuh belas dengan tiga belas karena terlalu gugup. Sysoev menyalahkan pengawas sekolah yang memilih bacaan terlalu sulit dan Lyapunov, guru dari sekolah lain yang membacakan teks itu. Menurutnya, Lyapunov mengucapkan kata-kata terlalu cepat dan tidak jelas sehingga menyulitkan murid-muridnya.

Meskipun lemah, Sysoev tetap berangkat ke rumah Adolf Andreyitch Bruni, pengurus pabrik yang menjadi tuan rumah jamuan. Sesampainya di sana, ia mengalami batuk hebat hingga topinya terlepas dan tongkatnya jatuh. Tubuhnya dipenuhi keringat, dan ia harus duduk di anak tangga. Pengawas sekolah yang melihatnya menyarankan agar ia pulang dan beristirahat. Sysoev tersinggung karena mengira kehadirannya tidak diinginkan. Pengawas itu segera menjelaskan bahwa mereka justru senang ia datang.

Di dalam rumah, para tamu sudah mulai menikmati makanan pembuka. Sysoev kesal karena mereka makan tanpa menunggunya. Ia lalu menghampiri Lyapunov dan kembali menuduhnya sengaja mempersulit murid-muridnya saat ujian. Lyapunov marah karena Sysoev terus mengungkit masalah itu. Pengawas sekolah berusaha mendamaikan mereka, tetapi Sysoev tetap bersikeras bahwa Babkin tidak seharusnya melakukan kesalahan. Ketika guru agama mengatakan bahwa ia seharusnya bersyukur karena kesehatannya mulai pulih, Sysoev justru mengkritik pertanyaan-pertanyaan yang diberikan saat ujian karena dianggap membingungkan.

Setelah ditenangkan, Sysoev duduk di meja makan. Namun, ia masih mengeluhkan makanan dan minuman yang disajikan. Ia merasa minumannya tidak enak dan pai yang dimakannya kurang garam. Setelah menambahkan garam, ia justru menganggap pai itu terlalu asin.

Seusai hidangan pertama, para tamu mulai bersulang untuk menghormati orang-orang yang berjasa. Pengawas sekolah mengangkat gelas untuk para pengurus perusahaan yang membiayai sekolah. Setelah itu, Bruni mengajak semua orang bersulang untuk menghormati sang pengawas.

Giliran berikutnya menjadi milik Sysoev, seperti kebiasaan setiap tahun. Dalam pidatonya, ia mengeluhkan berbagai perlakuan buruk yang menurutnya ia alami selama empat belas tahun mengajar. Ia mengaku mengetahui siapa saja yang diam-diam melaporkannya kepada pihak berwenang, tetapi tidak mau menyebutkan nama mereka agar tidak merusak selera makan para tamu.

Sysoev kemudian membanggakan sekolahnya yang menurutnya terbaik di seluruh provinsi. Ia menyebutkan bahwa gajinya mencapai lima ratus rubel setahun, lebih tinggi daripada gaji guru di sekolah lain yang biasanya hanya dua atau tiga ratus rubel. Rumahnya juga telah diperbaiki dan dilengkapi perabot dengan biaya perusahaan. Ia mengatakan bahwa kemajuan sekolah bukan semata-mata berkat para pemilik perusahaan yang tinggal di luar negeri dan hampir tidak mengetahui keadaan sekolah, melainkan berkat Bruni, yang menurutnya memiliki hati seorang Rusia meskipun berasal dari Jerman dan beragama Lutheran.

Pidato Sysoev berlangsung lama, berulang-ulang, dan sulit diikuti. Ia beberapa kali berhenti untuk mengambil napas dan batuk. Akhirnya, ia mengajak semua orang bersulang untuk Bruni.

Bruni berterima kasih dan mengatakan bahwa keberhasilan sekolah sebenarnya berkat kerja keras Sysoev. Pengawas sekolah lalu ikut memuji Sysoev. Menurutnya, murid-murid di sekolah itu cerdas, berani menjawab pertanyaan, dan menyayangi guru mereka. Ia juga mengatakan bahwa Sysoev memiliki bakat mengajar, pengalaman, dan kecintaan terhadap pekerjaannya.

Para tamu lain ikut memuji Sysoev. Bahkan, guru-guru muda yang biasanya pendiam turut berbicara dengan penuh semangat. Semua orang mengakui kemampuannya sebagai guru. Namun, Sysoev mendengarkan pujian itu dengan biasa saja karena sudah terbiasa menerimanya selama bertahun-tahun. Sebaliknya, Bruni tampak sangat gembira mendengar semua pujian tersebut, seolah-olah pujian itu ditujukan kepadanya.

Akhirnya, Bruni berdiri dan mengumumkan bahwa perusahaan tidak akan melupakan jasa Sysoev. Ia kemudian mengatakan bahwa keluarga Sysoev akan mendapat jaminan keuangan. Sebulan sebelumnya, sejumlah uang telah disimpan di bank untuk keperluan itu.

Sysoev kebingungan. Ia tidak mengerti mengapa yang akan mendapat jaminan justru keluarganya, bukan dirinya sendiri. Ketika melihat wajah para tamu, ia menangkap sesuatu yang membuatnya ketakutan. Ia menyadari bahwa mereka mungkin menganggap hidupnya tidak akan lama lagi. Wajahnya pucat. Ia berdiri sambil memegangi kepala, lalu duduk kembali dan menangis.

Para tamu berusaha menenangkannya dengan memberikan air. Namun, suasana jamuan berubah muram. Tidak ada lagi kegembiraan seperti sebelumnya, dan acara berakhir lebih cepat daripada tahun-tahun lalu.

Sesampainya di rumah, Sysoev bercermin dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak seharusnya menangis di depan orang banyak. Ia merasa wajahnya tampak lebih baik daripada hari sebelumnya. Ia juga meyakinkan diri bahwa dirinya hanya menderita anemia dan radang lambung, sedangkan batuknya hanyalah akibat gangguan lambung.

Setelah merasa tenang, Sysoev melepas jas hitamnya, menyikatnya dengan hati-hati, lalu melipat dan menyimpannya di lemari. Kemudian, ia duduk di meja yang dipenuhi buku latihan murid-muridnya. Ia mengambil buku Babkin dan mengamati tulisan tangan murid itu yang indah.

Sementara Sysoev memandangi buku latihan tersebut, dokter distrik berada di ruangan sebelah dan berbicara pelan kepada istrinya. Dokter itu mengatakan bahwa Sysoev seharusnya tidak diizinkan pergi ke jamuan karena kemungkinan besar ia hanya memiliki waktu hidup sekitar satu minggu lagi.

Posting Komentar untuk "Sang Guru Sekolah"