Fabel Serigala, Anak Kambing, dan Seruling Gembala
Berikut ini dongeng yang disadur / diadaptasi dari fabel berjudul The Kid and the Wolf Playing the Flute karya Aesop. Fabel asli berada pada domain publik.
Kisah Serigala, Anak Kambing, dan Seruling Gembala
Hari menjelang senja. Seekor anak kambing yang terlalu asyik merumput tidak menyadari bahwa kawanannya telah pergi jauh meninggalkannya. Kini, ia sendirian di padang rumput.
Seekor serigala muncul dari balik semak. Anak kambing yang ketakutan langsung melompat dan berlari menyelamatkan diri, hingga kaki kecilnya terasa lelah dan napasnya terengah-engah.
Sadar tak bisa lari lebih jauh, anak kambing pun berhenti. Ia mencoba tetap tenang dan mencari cara untuk bertahan sedikit lebih lama, berharap ibunya atau sang gembala akan segera menemukannya.
Sementara itu, serigala terus mendekat dengan langkah perlahan hingga berdiri tepat di hadapannya.
"Aku tahu kau akan memakanku," kata anak kambing dengan suara gemetar.
Serigala menyeringai. "Tepat sekali."
Dalam kepasrahannya, mata anak kambing tanpa sengaja melihat seruling milik penggembala yang tertinggal di atas batu. Ia teringat bahwa setiap kali seruling itu berbunyi, anjing-anjing penjaga akan segera siaga. Saat itu, terbersit sebuah ide dalam benaknya.
"Kalau begitu, izinkan aku menari untuk terakhir kalinya," pinta anak kambing. Lalu ia menunjuk seruling itu. "Namun, aku tidak bisa menari tanpa musik. Tolong, mainkan seruling itu untukku."
Mendengar permintaan anak kambing, serigala berpikir bahwa memainkan musik dan melihat tarian akan menjadi pembuka yang cukup menyenangkan bagi santap malamnya. Karena merasa yakin mangsanya tidak bisa kabur ke mana-mana, ia pun setuju dan mulai meniup seruling tersebut.
Suara seruling itu terdengar sampai jauh dan mengusik kewaspadaan anjing-anjing penjaga. Mengenali nada seruling milik tuannya, kawanan anjing itu langsung siaga dan berlari kencang menuju sumber suara. Setibanya di lokasi, kawanan anjing langsung menggonggong nyaring dan mengepung serigala.
Serigala yang terperanjat segera menjatuhkan serulingnya dan lari tunggang-langgang menyelamatkan diri. Sambil berlari kencang, ia menggeram kesal atas kebodohannya sendiri karena telah kehilangan mangsa yang sudah berada di depan mata.
"Aku pantas menerima ini," gerutu serigala. "Seharusnya aku fokus menjadi pemangsa, bukan malah sibuk bermain seruling untuk menyenangkan anak kambing."
(Selesai)
Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Cerita
Serigala sebenarnya sudah menemukan mangsanya dan merasa bahwa ia hampir berhasil mendapatkannya. Namun, sebelum melakukan apa yang menjadi tujuannya, ia justru berhenti untuk meniup seruling demi memenuhi permintaan anak kambing. Keputusan itu justru mengubah keadaan. Kesempatan yang sudah berada di depan mata pun hilang begitu saja.
Melalui kisah ini, kita diingatkan bahwa kesempatan tidak selalu hilang karena kurangnya kemampuan. Ada kalanya kita sendiri yang melepaskannya karena perhatian beralih kepada hal-hal yang bukan menjadi prioritas. Apa yang seharusnya didahulukan justru tertunda oleh sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dilakukan saat itu.
Anak kambing juga menunjukkan bahwa ketenangan dapat menjadi kekuatan ketika menghadapi keadaan yang sulit. Saat tidak mungkin lagi melarikan diri, ia tidak menyerah begitu saja. Ia tetap berpikir jernih hingga menemukan cara untuk memperbesar peluangnya bertahan hidup. Pikiran yang tenang membantunya melihat jalan keluar yang tidak terpikirkan sebelumnya.
Refleksi: Ketika Keberhasilan Belum Benar-Benar Diraih
Serigala mengira mangsanya sudah tidak mungkin lolos. Karena merasa semuanya berada dalam kendalinya, ia justru tidak segera melakukan apa yang menjadi tujuannya. Ia memilih menikmati keadaan lebih dulu, padahal keberhasilannya sendiri belum benar-benar ia miliki.
Hal seperti itu ternyata tidak hanya terjadi dalam cerita. Membayangkan keberhasilan sebelum benar-benar mencapainya adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Ketika tujuan mulai tampak dekat, kita ikut merasakan kegembiraan seolah-olah semuanya sudah selesai. Perasaan itu memang menyenangkan, tetapi juga dapat membuat kita lengah.
Saat itulah perhatian kita mulai beralih. Kita merasa semuanya sudah aman, padahal masih ada langkah yang harus diselesaikan. Selama sebuah urusan belum benar-benar tuntas, keadaan masih bisa berubah. Tetap memberi perhatian penuh sampai semuanya selesai sering menjadi cara terbaik untuk menjaga hasil yang hampir kita raih.
Setiap hal memiliki waktunya sendiri. Ada saat untuk bekerja dengan sepenuh hati, dan ada saat untuk menikmati hasilnya. Ketika semua usaha telah benar-benar selesai, kita pun dapat merayakan keberhasilan dengan rasa syukur dan kegembiraan.
Baca juga:
Posting Komentar untuk "Fabel Serigala, Anak Kambing, dan Seruling Gembala"