Sifat yang Penuh Teka-Teki
Di sebuah gerbong kereta kelas satu, seorang perempuan cantik duduk bersandar di kursi beludru merah. Ia tampak sangat gelisah. Kipas mahal di tangannya bergetar, kaca mata berlensa tunggal yang dikenakannya terus merosot dari hidung, sementara bros di dadanya naik turun mengikuti gerak tubuhnya.
Di kursi seberangnya duduk seorang sekretaris provinsi yang menangani urusan khusus. Ia adalah penulis muda yang sesekali menerbitkan cerita panjang tentang kehidupan kalangan atas di surat kabar terkemuka di provinsinya. Lelaki bernama Voldemar itu mengamati wajah perempuan tersebut dengan saksama. Ia merasa mampu memahami watak dan isi hati perempuan itu hingga ke kedalaman jiwanya.
Sambil mencium tangan perempuan itu di dekat gelangnya, Voldemar menyatakan bahwa ia memahami pergulatan batin yang sedang dialaminya. Perempuan tersebut kemudian meminta agar Voldemar menuliskan kisah hidupnya. Ia merasa kehidupannya penuh pengalaman, perubahan, dan penderitaan. Ia ingin dunia mengetahui jiwanya yang malang, sebab ia menganggap Voldemar sebagai seorang ahli psikologi yang mampu memahami dirinya meskipun mereka belum genap satu jam berada di kereta yang sama.
Perempuan itu mulai menceritakan masa lalunya. Ayahnya adalah seorang pegawai negeri miskin yang sebenarnya berhati baik dan cukup cerdas, tetapi terjerumus dalam kebiasaan minum-minum, berjudi, dan menerima suap akibat pengaruh lingkungan zamannya. Ia tidak ingin menyalahkan ayahnya, tetapi kehidupan keluarganya diwarnai kemiskinan dan perjuangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Perasaan bahwa dirinya tidak berarti membuat masa mudanya terasa menyakitkan.
Ia juga mengenang pendidikan di sekolah berasrama, kebiasaannya membaca novel-novel yang dianggapnya bodoh, kesalahan pada masa muda, dan pengalaman cinta pertamanya. Semua itu, menurutnya, disertai kebimbangan serta penderitaan ketika ia kehilangan kepercayaan terhadap kehidupan dan dirinya sendiri. Ia mengaku memiliki watak yang penuh gejolak dan selalu mencari kebahagiaan dengan membebaskan jiwanya dari keadaan yang membelenggu.
Mendengar kisah tersebut, Voldemar menyebutnya makhluk yang luar biasa. Ia mengatakan bahwa ciumannya bukan ditujukan kepada perempuan itu semata, melainkan kepada penderitaan umat manusia. Ia bahkan mengaitkan tindakannya dengan Raskolnikov, tokoh dalam karya Dostoevsky.
Perempuan itu kemudian mengungkapkan bahwa ia mendambakan kemasyhuran, keberhasilan, dan kehidupan yang berbeda dari kebanyakan perempuan. Dalam perjalanan hidupnya, ia bertemu dengan seorang jenderal tua yang kaya raya. Ia memutuskan untuk hidup bersama lelaki tersebut, yang menurut pengakuannya merupakan bentuk pengorbanan demi keluarganya. Berkat hubungan itu, ia dapat memulihkan keadaan ekonomi keluarganya, bepergian, dan melakukan kebaikan.
Namun, ia mengaku sangat menderita karena tidak tahan terhadap pelukan jenderal tersebut. Ia berusaha bertahan dengan harapan bahwa lelaki tua itu suatu hari akan meninggal, sehingga ia dapat menjalani kehidupan sesuai keinginannya dan bersatu dengan lelaki yang benar-benar dicintainya. Ia menegaskan kepada Voldemar bahwa lelaki yang dicintainya itu memang ada.
Akhirnya, jenderal tua tersebut meninggal dan meninggalkan sejumlah harta untuknya. Perempuan itu merasa dirinya kini bebas dan seharusnya dapat menemukan kebahagiaan. Ia membayangkan bahwa saatnya telah tiba untuk hidup bersama lelaki yang dicintainya, mendukung cita-citanya, dan memperoleh ketenangan.
Akan tetapi, harapan itu kembali terhalang. Perempuan tersebut mengeluhkan betapa buruk, menjijikkan, dan tidak masuk akalnya kehidupan yang dijalaninya. Ia merasa kebahagiaan kembali menjauh dan dirinya sekali lagi terjebak dalam penderitaan. Ketika Voldemar mendesaknya untuk menjelaskan apa yang menghalangi kebahagiaannya, perempuan itu akhirnya menjawab, ada seorang jenderal tua lainnya yang juga sangat kaya raya.
Perempuan itu menyembunyikan wajahnya di balik kipas yang telah patah. Sementara itu, Voldemar menopang dahinya dengan tangan dan merenung seperti seorang ahli psikologi yang sedang memikirkan persoalan mendalam. Di luar, lokomotif mendesis dan bersiul, sedangkan tirai jendela memerah diterpa cahaya matahari terbenam.
Tema Cerita
Tema utama cerita Sifat yang Penuh Teka-Teki (An Enigmatic Nature) karya Anton Chekhov adalah kepura-puraan dalam memandang penderitaan diri sendiri dan keinginan memperoleh kehidupan yang lebih baik tanpa melepaskan kepentingan pribadi.
Cerita ini menggambarkan seorang perempuan yang menceritakan masa lalunya kepada Voldemar seolah-olah hidupnya merupakan rangkaian pengorbanan dan penderitaan yang mendalam. Ia mengaku menjalin hubungan dengan seorang jenderal tua demi menyelamatkan keadaan ekonomi keluarganya, meskipun hubungan itu membuatnya tidak bahagia. Setelah jenderal tersebut meninggal dan meninggalkan harta, ia berharap dapat hidup bersama lelaki yang dicintainya. Namun, harapan itu kembali terhalang karena hadirnya jenderal tua lain yang kaya raya.
Akhir cerita menghadirkan ironi yang memperlihatkan bahwa pengakuan penuh kesedihan perempuan tersebut tidak sesederhana yang dibayangkan Voldemar. Keinginannya untuk menemukan kebahagiaan terus berbenturan dengan ketertarikannya pada kekayaan dan kenyamanan. Sementara itu, Voldemar terlalu terpikat oleh kisahnya hingga menganggapnya sebagai persoalan psikologis yang mendalam, tanpa menyadari sisi ironis di balik pengakuan tersebut.
Posting Komentar untuk "Sifat yang Penuh Teka-Teki"