Fabel Rubah dan Gagak: Kisah tentang Bahaya Pujian Palsu
Fabel tentang rubah dan burung gagak merupakan dongeng yang menggambarkan akibat dari mempercayai pujian palsu. Burung gagak kehilangan keju yang dimilikinya karena terlena oleh tipu muslihat sang rubah.
Berikut ini cerita lengkapnya, dengan judul Kisah Siasat Rubah dan Jatuhnya Keju Gagak.
Kisah Siasat Rubah dan Jatuhnya Keju Gagak
Suatu hari, seekor gagak sedang bertengger di atas dahan pohon. Paruhnya menjepit sepotong keju yang berwarna kuning keemasan. Keju itu terlihat tebal dan tampak begitu lezat.
Tak jauh dari situ, seekor rubah sedang berjalan dengan perut lapar. Langkahnya terhenti ketika ia mencium aroma gurih keju yang tajam terbawa angin. Ia mendongak ke arah dahan pohon dan matanya langsung berbinar melihat keju yang berada di paruh sang gagak.
"Keju itu kelihatannya enak. Aku harus berusaha mengambil keju itu dari paruh gagak," pikir si rubah.
Si rubah kemudian mendekat ke bawah pohon sambil menyapa sang gagak dengan suara yang lembut.
"Selamat siang, burung yang agung! Hari ini aku melihatmu dan merasa sangat takjub. Engkau begitu cantik. Rasa-rasanya tidak ada burung lain yang lebih unggul dibandingkan dirimu," seru rubah dengan nada memuja.
Mendengar pujian dari sang rubah, sang gagak merasa tersanjung. Hatinya berbunga-bunga. Ia mengepakkan sayapnya seolah ingin menunjukkan bahwa penampilannya memang istimewa.
Sang rubah pun melanjutkan pujiannya. "Lihatlah bulumu itu, berkilau indah dalam balutan sinar matahari. Sayapmu tampak begitu gagah, dan gerakanmu sungguh anggun. Dengan segala kelebihanmu, aku sangat yakin kamu pantas menjadi ratu dari semua burung di dunia ini."
Sang gagak semakin tersipu dan membusungkan dadanya. Akan tetapi, sang rubah belum selesai. Ia memberikan serangan terakhirnya.
"Sayangnya," lanjut si rubah sambil menghela napas pura-pura, "aku belum pernah mendengar suaramu. Tapi aku yakin, burung sesempurna dirimu pasti punya suara yang merdu."
Mendengar pujian itu, sang gagak benar-benar kehilangan kewaspadaannya. Ia ingin membuktikan bahwa ia memang pantas menjadi ratu burung yang cantik dan bersuara indah.
Tanpa berpikir panjang, sang gagak membuka paruhnya lebar-lebar untuk mulai bernyanyi. Tepat saat ia membuka mulut, keju di paruhnya langsung lepas dan jatuh ke bawah.
Dengan sigap, si rubah melompat dan menangkap keju itu tepat sebelum menyentuh tanah. Ia langsung melahapnya di depan mata sang gagak yang masih melongo di atas pohon.
Setelah menghabiskan kejunya, si rubah menatap ke atas dan menyeringai licik.
"Suaramu memang nyaring, wahai gagak," ejek si rubah sambil membersihkan sisa keju di mulutnya. "Tapi sayang, kamu tidak memiliki akal sehat. Terima kasih atas makan siangnya!"
Pelajaran dari Kisah Rubah dan Gagak
Cerita rubah dan gagak adalah sebuah kisah tentang bagaimana sebuah pujian palsu dapat membuat kita kehilangan sesuatu yang berharga bagi diri kita.
Dalam cerita, gagak tidak kehilangan keju karena nasib buruk atau paksaan, tetapi karena ia tidak bisa menahan diri akibat terlena dengan rayuan sang rubah, bahkan jika isi dari pujian itu tidak sesuai kenyataan. Sang gagak lupa diri, ia tidak sadar bahwa apa yang diucapkan oleh rubah hanyalah kata-kata manis untuk membesarkan hati.
Kisah ini mengingatkan kita agar tidak terlalu lugu dan naif dalam menyikapi pujian. Di dunia ini, banyak orang yang bertindak atas dasar kepentingan. Ketika mereka memiliki suatu maksud, mereka akan mendekat dengan wajah ramah dan kata-kata manis untuk mencapai apa yang mereka maksudkan.
Mari kita melihat satu contoh pada keadaan atau fenomena saat ini, yaitu maraknya pinjaman online (pinjol). Banyak orang mengambil pinjol karena tergiur dengan kata-kata manis dan angan-angan mendapat uang. Pujian dilancarkan bahwa kita punya potensi berkembang jika punya uang banyak. Disampaikan pula bahwa pembayaran angsuran mudah dan kita memiliki kemampuan untuk membayar kembali. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Pertama, bunga pinjol relatif tinggi. Kedua, potensi gagal bayar yang tinggi. Dan juga yang terpenting, banyak orang meminjam tanpa tahu apakah punya kemampuan untuk membayar kembali.
Untuk menyikapi hal ini, kita perlu memiliki pikiran yang jernih ketika menghadapi pujian. Ketika ada orang yang mendekat dan memuji kita, tanyalah pada diri kita apakah benar memang kualitas itu ada pada diri kita. Jangan seperti gagak yang tidak sadar diri dengan suaranya yang hanya keras namun sumbang, tetapi karena terlena malah merasa berbangga dengan suaranya itu. Terlebih jika yang memuji kita adalah orang yang belum kita kenal sepenuhnya, maka kewaspadaan itu perlu ditingkatkan.
Namun demikian, bersikap waspada bukan berarti kita harus selalu berburuk sangka. Dunia tidak sekejam itu. Tidak semua pujian itu buruk, bahkan jika pujian itu dibuat-buat. Sebagai contoh, pujian karena kesopanan dalam pergaulan bertetangga, atau pujian karena rasa sayang kepada anak atau pasangan kita.
Jangan pula lupakan bahwa juga ada pujian yang benar-benar tulus sesuai apa yang menjadi kualitas diri kita. Menerima pujian semacam itu tentu saja sah karena merupakan capaian atau penghargaan atas apa yang ada pada diri kita dan sesuai dengan kualitas kita. Bahkan pujian seperti itu juga bisa membuat kita lebih termotivasi untuk meningkatkan kualitas diri kita.
Pada akhirnya, pujian tidak pernah berbahaya karena kata-katanya, melainkan karena kita tidak bersikap jernih dalam menimbangnya.
Kisah di atas merupakan adaptasi dari cerita berbahasa Inggris berjudul The Fox and the Crow karya Aesop.
Berikut adalah terjemahan kisah tersebut dari berbagai sumber klasik, yang secara umum memiliki isi serupa, tetapi menyajikan narasi dan detail yang berbeda.
Catatan: Untuk versi asli dalam Bahasa Inggris, silakan klik pada tautan ini.
Fabel Aesop dari Sumber Klasik Domain Publik
Rubah dan Gagak (Versi Alfred Caldecott)
Seekor gagak mencuri sepotong keju dan hinggap di dahan pohon sambil menjepitnya dengan paruhnya. Seekor rubah mengawasinya, dan karena bermaksud menguasai keju itu, ia berdiri di bawah pohon lalu mulai menyanjung bentuk tubuh serta kecantikan si gagak.
Ia bahkan melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa si gagak paling pantas dinobatkan sebagai ratu para burung, dan niscaya gelar itu sudah ia sandang seandainya ia memiliki suara.
Si gagak, yang begitu menggebu-gebu untuk membuktikan bahwa ia memang memiliki suara, mulai berkaok lantang, yang tentu saja membuat kejunya terjatuh. Rubah segera menyambar keju itu dan membawanya pergi, seraya berkata saat ia berlalu, “Sahabatku gagak, engkau memiliki segala kualitas yang baik; kini, cobalah miliki sedikit akal sehat.”
(Diterjemahkan secara bebas dari buku Some of Æsop's Fables with Modern Instances, Shewn in Designs by Randolph Caldecott, from New Translations by Alfred Caldecott, M.A., The Engravings by J. D. Cooper. — Domain Publik)
Rubah dan Gagak (Versi Joseph Jacobs)
Seekor rubah suatu ketika melihat seekor gagak terbang sambil membawa sepotong keju di paruhnya dan hinggap di dahan pohon. “Itu milikku, sebab aku ini seekor rubah,” kata Tuan Reynard, lalu ia berjalan ke kaki pohon tersebut.
“Selamat siang, Nyonya Gagak,” serunya. “Betapa elok penampilanmu hari ini. Betapa berkilau bulu-bulumu; betapa cerah matamu. Aku yakin suaramu pasti mengungguli burung-burung lainnya, sebagaimana bentuk tubuhmu pun demikian; perdengarkanlah satu saja nyanyianmu agar aku dapat menyapamu sebagai Ratu Burung.”
Si gagak mengangkat kepalanya dan mulai berkaok sebaik-baiknya, tetapi saat ia membuka mulutnya, potongan keju itu jatuh ke tanah dan langsung disambar oleh Tuan Rubah.
“Cukup sudah,” kata si rubah. “Hanya itu yang kuinginkan. Sebagai ganti kejumu, aku akan memberimu sebuah nasihat untuk masa depan: jangan percaya pada para penjilat.”
Si penjilat merampas dengan tipu daya tersembunyi,
Menguras akal budi serta harta korbannya.
(Diterjemahkan secara bebas dari buku The Fables of Aesop, Selected, Told Anew and Their History Traced by Joseph Jacobs. — Domain Publik)
Rubah dan Gagak (Versi George Fyler Townsend)
Seekor gagak yang telah mencuri sekerat daging bertengger di dahan pohon sambil menjepit daging itu dengan paruhnya. Seekor rubah melihatnya dan tergiur untuk memiliki daging tersebut. Dengan muslihat yang licik, ia pun berhasil memperdaya gagak itu.
“Betapa rupawannya dirimu, wahai gagak,” seru si rubah. “Elok perawakanmu dan indah kilau bulumu! Ah, seandainya saja suaramu sepadan dengan kecantikanmu, pastilah engkau pantas disebut ratu para burung!”
Semua pujian itu diucapkannya dengan tipu daya. Namun si gagak, yang ingin membantah anggapan buruk tentang suaranya, berkaok keras dan menjatuhkan dagingnya. Seketika itu pula, rubah menyambar daging tersebut, lalu berkata kepada si gagak, “Wahai gagakku yang baik, suaramu memang tiada cela, tetapi akalmu sungguh kurang.”
(Diterjemahkan secara bebas dari buku Three Hundred Æsop’s Fables Literally Translated from the Greek. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh George Fyler Townsend. — Domain Publik)
Rubah dan Gagak (Versi V.S. Vernon Jones)
Seekor gagak sedang bertengger di dahan pohon dengan sepotong keju di paruhnya, ketika seekor rubah melihatnya dan mulai memutar akalnya untuk menemukan cara mendapatkan keju itu. Ia mendekat dan berdiri di bawah pohon, lalu menengadah seraya berkata,
“Betapa mulia sosok burung yang kulihat di atasku! Kecantikannya tiada banding, dan warna bulu-bulunya pun sungguh memesona. Andai saja suaranya semerdu keelokan rupanya, tanpa ragu ia pantas dinobatkan sebagai Ratu Burung.”
Si gagak merasa amat tersanjung mendengar pujian itu. Demi membuktikan kepada si rubah bahwa ia mampu bernyanyi, ia pun berkaok nyaring. Tentu saja, keju itu langsung terjatuh, dan si rubah, sambil menyambarnya, berkata, “Aku tahu kau memang memiliki suara, Nyonya; yang kau butuhkan adalah akal.”
(Diterjemahkan secara bebas dari buku Aesop's Fables, A New Translation by V. S. Vernon Jones. — Domain Publik)
Rubah dan Gagak (Versi Milo Winter)
Suatu pagi yang cerah, seekor rubah sedang menyusuri hutan, mengikuti hidungnya yang tajam untuk mencari sesuap makanan. Saat itulah ia melihat seekor gagak bertengger di dahan pohon di atas kepalanya.
Ini bukanlah pertama kali si rubah melihat seekor gagak. Namun, yang menarik perhatiannya kali ini dan membuatnya berhenti untuk melihat kembali adalah karena gagak yang beruntung itu memegang sepotong keju di paruhnya.
“Tak perlu mencari lebih jauh lagi,” pikir si rubah yang licik. “Inilah santapan lezat untuk sarapanku.”
Ia berjalan cepat menuju kaki pohon tempat si gagak bertengger, dan sambil menengadah dengan penuh kekaguman, ia berseru, “Selamat pagi, makhluk jelita!”
Si gagak, dengan kepala yang dimiringkan, mengamati rubah itu dengan penuh curiga. Namun, ia tetap menjepit keju itu erat-erat di paruhnya dan tidak membalas sapaan si rubah.
“Betapa menawannya makhluk ini!” kata si rubah. “Lihatlah betapa bulu-bulunya bersinar! Betapa indah bentuk tubuhnya dan betapa megah sayap-sayapnya! Burung sehebat ini seharusnya memiliki suara yang sangat merdu, karena segala hal pada dirinya begitu sempurna. Andai saja ia mau menyanyikan satu lagu saja, aku tahu aku pasti akan menyambutnya sebagai Ratu Burung.”
Mendengar kata-kata sanjungan itu, si gagak melupakan segala kecurigaannya, bahkan juga lupa pada makanannya. Ia sangat ingin dipanggil sebagai Ratu Burung. Maka ia pun membuka paruhnya lebar-lebar untuk mengeluarkan suara kaok yang paling keras, dan keju itu jatuh tepat ke dalam mulut rubah yang terbuka.
“Terima kasih,” kata Tuan Rubah dengan manis sembari melangkah pergi. “Meski suaramu serak, kau memang benar-benar punya suara. Namun, di manakah akal sehatmu?”
Seorang penjilat hidup dengan mengorbankan mereka yang mau mendengarkannya.
(Diterjemahkan secara bebas dari The Æsop for Children with Pictures by Milo Winter. — Domain Publik)
Rubah dan Gagak (Versi J.H. Stickney)
Suatu hari, seekor gagak mencuri sepotong keju, lalu terbang membawanya ke dahan pohon agar dapat memakannya dengan leluasa.
Saat ia sedang bertengger di sana dengan sepotong keju di paruhnya, kebetulan lewatlah seekor rubah. Begitu menengadah, rubah itu pun melihat si gagak. “Betapa sedap aroma keju itu!” pikir si rubah; “Aku ini rubah, aku pasti akan mendapatkannya.”
Ia pun mendekati pohon itu dan berkata, “Nyonya yang terhormat, betapa jelita dirimu! Baru kali ini aku menyadari betapa luar biasanya kecantikan yang dimiliki kaummu. Betapa indah matamu! Betapa berkilau bulu-bulumu! Betapa anggun bentuk tubuhmu! Apakah suaramu semerdu penampilanmu? Jika demikian, sungguh pantas bila engkau disebut Ratu Burung. Maukah engkau berbaik hati menyanyi untukku?”
Bukan rahasia lagi bahwa suara “kaak! kaak!” dari keluarga gagak tidaklah merdu. Ia seharusnya tetap waspada, tetapi karena begitu terbuai oleh sanjungan si rubah, ia pun menjadi lengah. Ia membuka paruhnya untuk memperlihatkan kepada rubah betapa merdu suaranya—saat itulah, potongan keju itu jatuh ke bawah, tepat seperti yang telah diharapkan.
Rubah pun memakan keju itu dalam sekali suap, lalu berhenti sejenak untuk berkata, “Terima kasih, nyonya. Aku sudah sangat puas. Tak kuragukan lagi suaramu cukup baik; sayang sekali, kau begitu kekurangan akal!”
——
Sang gagak pun belajar bahwa kita sebaiknya selalu waspada ketika orang menyanjung kita.
(Diterjemahkan secara bebas dari Æsop's Fables: A Version for Young Readers by J. H. Stickney. — Domain Publik)
Rubah dan Gagak (Versi Samuel Croxall)
Seekor gagak yang telah mengambil sekerat keju dari jendela sebuah pondok, terbang ke atas pohon yang tinggi untuk memakannya. Seekor rubah yang memperhatikan hal itu datang dan duduk di bawahnya, lalu mulai menyanjung si gagak atas kecantikannya.
“Aku bersumpah,” kata si rubah, “aku tidak pernah menyadarinya sebelumnya, tetapi bulu-bulumu memiliki warna putih yang lebih halus daripada apa pun yang pernah kulihat seumur hidupku! Ah, betapa elok bentuk tubuhmu dan betapa anggun lekuk tubuhmu! Dan aku sama sekali tidak meragukan bahwa kau memiliki suara yang cukup baik. Jika suaramu seindah parasmu, aku tidak tahu burung mana yang bisa menandingi dirimu.”
Si gagak sangat tersanjung oleh kata-kata manis itu. Ia menjadi salah tingkah dan seolah lupa daratan. Namun karena mengira si rubah masih meragukan suaranya, dan ingin meluruskan hal itu, ia pun mulai bernyanyi, dan pada saat yang sama keju itu jatuh dari mulutnya. Inilah yang diinginkan si rubah. Ia segera melahap keju itu dalam sekejap, lalu berlari pergi sambil tertawa sendiri atas mudahnya gagak itu diperdaya.
Penerapan
Mereka yang menyukai sanjungan (dan sayangnya ada terlalu banyak orang seperti itu) sedang menempuh jalan yang pada akhirnya akan membawa mereka pada penyesalan atas kelemahan diri mereka sendiri. Akan tetapi, betapa sedikitnya manusia yang benar-benar kebal terhadap serangan sanjungan.
Cara kasar yang dipraktikkan para penyanjung amatir cukup untuk membangkitkan kewaspadaan bahkan pada orang yang paling tumpul daya tangkapnya terhadap muslihat-muslihat remeh semacam ini. Akan tetapi, apabila siasat itu disusun dengan pertimbangan yang cermat, ia hampir tidak pernah gagal menjangkau hati yang paling waspada sekalipun.
Betapa banyak orang yang merasa sangat senang dengan kenikmatan sanjungan, bahkan saat sanjungan itu diberikan justru untuk memuji sikap mereka yang seolah-olah sangat membenci sanjungan! Tidak ada cara untuk menggagalkan kekuatan siasat ini selain dengan menilai diri sendiri secara jujur. Jika seseorang bersikap tulus, tidak ada yang lebih mengetahui daripada dirinya sendiri seberapa besar penghargaan yang layak atas tindakannya. Oleh sebab itu, ia seharusnya tidak terusik oleh pendapat orang lain di dunia ini.
Jika orang lain memberikan pujian yang berlebihan, mereka mungkin memiliki maksud tersembunyi atau sekadar salah menilai. Sebaliknya, jika mereka memberi penilaian yang lebih rendah, bisa jadi mereka sedang iri atau tetap saja keliru. Dalam kedua kondisi ini, pendapat mereka sebaiknya diabaikan saja. Sebab, orang yang menyanjung tanpa maksud mencari keuntungan adalah orang bodoh; sedangkan mereka yang menikmati sanjungan palsu yang jelas-jelas bohong adalah seorang yang sombong dan bebal.
(Diterjemahkan secara bebas dari Some of Æsop's Fables, Embellished with One Hundred and Eleven Emblematical Devices. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh Samuel Croxall. — Domain Publik)
Rubah dan Gagak (Versi Thomas Bewick)
Seekor gagak mengambil sepotong daging dari jendela sebuah pondok, lalu terbang ke atas pohon. Seekor rubah yang mengamati kejadian itu, mendekat dan mulai memuji kecantikan gagak tersebut.
“Aku bersumpah,” katanya, “bulumu memiliki warna putih yang lebih halus daripada yang pernah kulihat seumur hidupku! Ah! betapa indahnya bentuk tubuhmu dan betapa anggun lekuk tubuhmu! Dan aku tidak meragukan bahwa suaramu cukup baik; jika suaramu seindah penampilanmu, aku tidak tahu burung lain yang dapat menyaingimu.”
Gagak itu, merasa kegirangan oleh kata-kata yang begitu sopan itu, menggeliat-geliat dan hampir tidak tahu di mana ia berada; dan karena ingin meyakinkan rubah tentang suaranya, ia mencoba bernyanyi, dan pada saat yang sama menjatuhkan daging dari mulutnya. Itulah yang diinginkan rubah; ia segera menyambarnya lalu berlalu pergi, sambil tertawa melihat betapa mudahnya gagak itu diperdaya.
Penerapan
“Ada pepatah di sekolah-sekolah
Sanjungan adalah makanan bagi orang bodoh.”
Mereka yang menyukai sanjungan pada akhirnya akan menyesali kelemahan mereka; namun betapa sedikitnya manusia yang benar-benar kebal terhadap serangannya. Cara kasar yang digunakan oleh para penyanjung yang bodoh saja sudah cukup untuk membangkitkan kewaspadaan bahkan pada orang yang paling lambat daya tangkapnya; tetapi jika siasat itu diatur dengan cermat, hampir pasti akan menjerat hati yang paling waspada sekalipun.
Betapa banyak orang yang merasa sangat senang oleh sanjungan, bahkan ketika mereka dipuji karena kebencian mereka yang jujur terhadapnya. Tidak ada cara untuk menggagalkan kekuatan siasat ini selain dengan setiap orang menilai dirinya sendiri secara jujur dan tidak memihak. Jika ia bersikap tulus dalam hal ini, tidak ada yang lebih mengetahui daripada dirinya sendiri seberapa besar penghargaan yang layak atas setiap tindakannya; dan karena itu ia seharusnya tidak terusik oleh pendapat orang lain.
Jika orang lain memberikan pujian yang berlebihan, mereka mungkin memiliki maksud tersembunyi atau sekadar keliru; jika mereka memberi penilaian yang lebih rendah, bisa jadi mereka iri, atau mungkin tetap saja keliru. Dalam kedua hal itu, pendapat mereka patut diabaikan. Sebab, orang yang menyanjung tanpa maksud mengambil keuntungan adalah orang bodoh; dan siapa pun yang menikmati sanjungan yang ia sendiri tahu palsu adalah orang yang sombong dan bodoh.
(Diterjemahkan secara bebas dari The Fables of Æsop and Others with Design on Woods by Thomas Bewick. — Domain Publik)
Untuk menikmati lebih banyak cerita penuh pesan dan makna, silakan kunjungi laman Daftar Isi website ini.

Posting Komentar