Fabel Rubah dan Gagak: Kisah tentang Bahaya Pujian Palsu
Fabel Rubah dan Burung Gagak merupakan dongeng hewan yang menggambarkan bahaya pujian palsu. Fabel ini bersumber dari karya Aesop, seorang penulis Yunani Kuno.
Artikel ini terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama merupakan adaptasi kisah rubah dan burung gagak dari Fabel Aesop versi Wifqimedia, sedangkan Bagian kedua adalah terjemahan berbagai versi Fabel Aesop dari sumber klasik.
1. Adaptasi Fabel Rubah dan Gagak Versi Wifqimedia
Suatu hari, seekor gagak sedang bertengger di atas dahan pohon. Paruhnya menjepit sepotong keju yang berwarna kuning keemasan. Keju itu terlihat tebal dan tampak begitu lezat.
Tak jauh dari situ, seekor rubah sedang berjalan dengan perut lapar. Langkahnya terhenti ketika ia mencium aroma gurih keju yang tajam terbawa angin. Ia mendongak ke arah dahan pohon dan matanya langsung berbinar melihat keju yang berada di paruh sang gagak.
"Keju itu kelihatannya enak. Aku harus berusaha mengambil keju itu dari paruh gagak," pikir si rubah.
Si rubah kemudian mendekat ke bawah pohon sambil menyapa sang gagak dengan suara yang lembut.
"Selamat siang, burung yang agung! Hari ini aku melihatmu dan merasa sangat takjub. Engkau begitu cantik. Rasa-rasanya tidak ada burung lain yang lebih unggul dibandingkan dirimu," seru rubah dengan nada memuja.
Mendengar pujian dari sang rubah, sang gagak merasa tersanjung. Hatinya berbunga-bunga. Ia mengepakkan sayapnya seolah ingin menunjukkan bahwa penampilannya memang istimewa.
Sang rubah pun melanjutkan siasatnya dengan melanjutkan pujiannya. "Lihatlah bulumu itu, berkilau indah dalam balutan sinar matahari. Sayapmu tampak begitu gagah, dan gerakanmu sungguh anggun. Dengan segala kelebihanmu, aku sangat yakin kamu pantas menjadi ratu dari semua burung di dunia ini."
Sang gagak semakin tersipu dan membusungkan dadanya. Akan tetapi, sang rubah belum selesai. Ia memberikan serangan terakhirnya.
"Sayangnya," lanjut si rubah sambil menghela napas pura-pura, "aku belum pernah mendengar suaramu. Tapi aku yakin, burung sesempurna dirimu pasti punya suara yang merdu."
Mendengar pujian itu, sang gagak benar-benar kehilangan kewaspadaannya. Ia ingin membuktikan bahwa ia memang pantas menjadi ratu burung yang cantik dan bersuara indah.
Tanpa berpikir panjang, sang gagak membuka paruhnya lebar-lebar untuk mulai bernyanyi. Tepat saat ia membuka mulut, keju di paruhnya langsung lepas dan jatuh ke bawah.
Dengan sigap, si rubah melompat dan menangkap keju itu tepat sebelum menyentuh tanah. Ia langsung melahapnya di depan mata sang gagak yang masih melongo di atas pohon.
Setelah menghabiskan kejunya, si rubah menatap ke atas dan menyeringai licik.
"Suaramu memang nyaring, wahai gagak," ejek si rubah sambil membersihkan sisa keju di mulutnya. "Tapi sayang, kamu tidak memiliki akal sehat. Terima kasih atas makan siangnya!"
Si rubah pun pergi melenggang meninggalkan tempat itu. Sementara di atas dahan, si burung gagak hanya bisa terdiam menyesali kebodohannya. Ia akhirnya sadar bahwa ia telah kehilangan makanan berharganya hanya karena terlalu terlena oleh pujian palsu.
Jangan lewatkan fabel inspiratif lainnya:
Pelajaran dari Kisah Rubah dan Gagak
Cerita rubah dan gagak adalah sebuah kisah tentang bagaimana sebuah pujian palsu dapat membuat kita kehilangan sesuatu yang berharga bagi diri kita.
Dalam cerita, gagak tidak kehilangan keju karena nasib buruk atau paksaan, tetapi karena ia tidak bisa menahan diri akibat terlena dengan rayuan sang rubah, bahkan jika isi dari pujian itu tidak sesuai kenyataan. Sang gagak lupa diri, ia tidak sadar bahwa apa yang diucapkan oleh rubah hanyalah kata-kata manis untuk membesarkan hati.
Kisah ini mengingatkan kita agar tidak terlalu lugu dan naif dalam menyikapi pujian. Di dunia ini, banyak orang yang bertindak atas dasar kepentingan. Ketika mereka memiliki suatu maksud, mereka akan mendekat dengan wajah ramah dan kata-kata manis untuk mencapai apa yang mereka maksudkan.
Mari kita melihat satu contoh pada keadaan atau fenomena saat ini, yaitu maraknya pinjaman online (pinjol). Banyak orang mengambil pinjol karena tergiur dengan kata-kata manis dan angan-angan mendapat uang. Pujian dilancarkan bahwa kita punya potensi berkembang jika punya uang banyak. Disampaikan pula bahwa pembayaran angsuran mudah dan kita memiliki kemampuan untuk membayar kembali. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Pertama, bunga pinjol relatif tinggi. Kedua, potensi gagal bayar yang tinggi. Dan juga yang terpenting, banyak orang meminjam tanpa tahu apakah punya kemampuan untuk membayar kembali.
Untuk menyikapi hal ini, kita perlu memiliki pikiran yang jernih ketika menghadapi pujian. Ketika ada orang yang mendekat dan memuji kita, tanyalah pada diri kita apakah benar memang kualitas itu ada pada diri kita. Jangan seperti gagak yang tidak sadar diri dengan suaranya yang hanya keras namun sumbang, tetapi karena terlena malah merasa berbangga dengan suaranya itu. Terlebih jika yang memuji kita adalah orang yang belum kita kenal sepenuhnya, maka kewaspadaan itu perlu ditingkatkan.
Namun demikian, bersikap waspada bukan berarti kita harus selalu berburuk sangka. Dunia tidak sekejam itu. Tidak semua pujian itu buruk, bahkan jika pujian itu dibuat-buat. Sebagai contoh, pujian karena kesopanan dalam pergaulan bertetangga, atau pujian karena rasa sayang kepada anak atau pasangan kita.
Jangan pula lupakan bahwa juga ada pujian yang benar-benar tulus sesuai apa yang menjadi kualitas diri kita. Menerima pujian semacam itu tentu saja sah karena merupakan capaian atau penghargaan atas apa yang ada pada diri kita dan sesuai dengan kualitas kita. Bahkan pujian seperti itu juga bisa membuat kita lebih termotivasi untuk meningkatkan kualitas diri kita.
Pada akhirnya, pujian tidak pernah berbahaya karena kata-katanya, melainkan karena kita tidak bersikap jernih dalam menimbangnya.
2. Fabel Aesop dari Sumber Klasik Domain Publik
Kisah rubah dan gagak telah lama diceritakan ulang dalam berbagai versi. Berikut ini beberapa terjemahan bebas dari Kisah Rubah dan Gagak dalam berbagai versi klasik. Meskipun alurnya serupa, tiap versi menampilkan penekanan yang berbeda.
Jika Anda ingin membaca cepat, cukup pilih satu atau dua versi. Semua versi pada dasarnya menyampaikan gagasan yang sama tentang bahaya dari pujian palsu.
Rubah dan Gagak (Versi Townsend)
Seekor gagak yang telah mencuri sekerat daging bertengger di sebatang pohon sambil menjepit daging itu di paruhnya. Seekor rubah melihatnya dan sangat ingin memiliki daging tersebut. Dengan siasat yang licik, ia pun berhasil memperdaya si gagak.
“Betapa rupawannya dirimu, wahai Gagak,” seru si rubah, “Indah bentuk tubuhmu dan elok kilau bulumu! Ah, seandainya saja suaramu sepadan dengan kecantikanmu, pastilah engkau layak disebut ratu segala Burung!”
Semua pujian itu diucapkannya dengan tipu daya. Namun si gagak, yang ingin membantah sindiran terhadap suaranya, membuka paruhnya dan mengeluarkan suara “kaak” yang keras. Seketika itu pula dagingnya terjatuh.
Rubah segera menyambar daging tersebut, lalu berkata kepada si gagak, “Wahai gagakku yang baik, suaramu memang cukup merdu, tetapi kecerdikanmu masih kurang.”
(Diterjemahkan secara bebas dari buku Three Hundred Æsop’s Fables Literally Translated from the Greek. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh George Fyler Townsend)
Rubah dan Gagak (Versi Joseph Jacobs)
Seekor rubah suatu ketika melihat seekor gagak terbang membawa sepotong keju di paruhnya dan bertengger di dahan pohon. “Itu untukku, karena aku ini seekor rubah,” kata Tuan Reynard, lalu ia berjalan ke bawah pohon tersebut.
“Selamat siang, Nyonya Gagak,” serunya. “Betapa cantiknya penampilanmu hari ini. Betapa berkilau bulu-bulumu. Betapa cerah matamu. Aku yakin suaramu pasti mengalahkan burung-burung lainnya, sama seperti indahnya bentuk tubuhmu. Biarkan aku mendengar satu saja nyanyian darimu agar aku bisa menyapamu sebagai Ratu segala Burung.”
Si gagak mengangkat kepalanya dan mulai bersuara sekuat tenaga, tetapi saat ia membuka mulutnya, potongan keju itu jatuh ke tanah dan langsung disambar oleh si rubah.
“Cukup sudah,” kata si rubah. “Hanya itu yang kuinginkan. Sebagai ganti kejumu, aku akan memberimu sebuah nasihat untuk masa depan, 'Jangan pernah memercayai para penjilat'.”
Penjilat merampok dengan muslihat tersembunyi
merampas akal budi serta harta korbannya.
(Diterjemahkan secara bebas dari buku The Fables of Aesop, Selected, Told Anew and Their History Traced by Joseph Jacobs)
Rubah dan Gagak (Versi Vernon Jones)
Seekor gagak sedang duduk di dahan sebuah pohon dengan sepotong keju di paruhnya, ketika seekor rubah melihatnya dan mulai memutar otak untuk mencari cara mendapatkan keju itu. Ia mendekat dan berdiri di bawah pohon, lalu menengadah seraya berkata,
“Betapa agungnya burung yang kulihat di atasku! Kecantikannya tiada banding, dan eloknya warna bulunya sungguh memikat. Andai saja suaranya semerdu penampilannya, tanpa ragu ia pantas menjadi Ratu segala Burung.”
Si gagak merasa sangat tersanjung mendengar pujian itu. Demi membuktikan kepada si rubah bahwa ia mampu bernyanyi, ia pun membuka paruhnya dan mengeluarkan suara “kaak” yang nyaring.
Tentu saja, keju itu langsung terjatuh ke tanah, dan si rubah, sambil menyambarnya, berkata, “Aku tahu kau memang memiliki suara, Nyonya, tetapi yang masih kurang darimu adalah kecerdikan.”
(Diterjemahkan secara bebas dari buku Aesop's Fables, A New Translation by V. S. Vernon Jones)
Rubah dan Gagak (Versi Milo Winter)
Suatu pagi yang cerah, seekor rubah sedang menyusuri hutan, mengandalkan penciumannya yang tajam untuk mencari sesuap makanan. Saat itulah ia melihat seekor gagak bertengger di dahan pohon di atas kepalanya.
Ini bukanlah pertama kali si rubah melihat seekor gagak. Namun, yang menarik perhatiannya kali ini dan membuatnya berhenti untuk melihat kembali adalah karena gagak yang beruntung itu menjepit sekerat keju di paruhnya.
“Tak perlu mencari lebih jauh lagi,” pikir si rubah yang licik. “Inilah hidangan lezat untuk sarapanku.”
Ia berlari-lari kecil menuju bawah pohon tempat si gagak bertengger, dan sambil menengadah dengan penuh kekaguman, ia berseru, “Selamat pagi, makhluk yang cantik!”
Si gagak, dengan kepala miring ke satu sisi, mengamati rubah itu dengan penuh curiga. Namun, ia tetap menutup paruhnya rapat-rapat pada keju itu dan tidak membalas sapaannya.
“Betapa menawannya makhluk ini!” kata si rubah. “Lihatlah betapa bulu-bulunya bersinar! Betapa indah bentuk tubuhnya dan betapa megah sayap-sayapnya! Burung sehebat ini seharusnya memiliki suara yang sangat merdu, karena segala hal pada dirinya begitu sempurna. Andai saja ia mau menyanyikan satu lagu saja, aku tahu aku pasti akan menyambutnya sebagai ratu segala burung.”
Mendengar kata-kata sanjungan itu, si gagak melupakan semua kecurigaannya, bahkan juga lupa pada makanannya. Ia sangat ingin dipanggil sebagai ratu segala burung. Maka ia pun membuka paruhnya lebar-lebar untuk mengeluarkan suara “kaak” yang paling keras, dan jatuhlah keju itu tepat ke dalam mulut rubah yang terbuka.
“Terima kasih,” kata Tuan rubah dengan manis sembari melangkah pergi. “Meskipun suaramu sumbang, kau memang benar-benar punya suara. Namun, di manakah kecerdikanmu?”
Penjilat hidup dengan mengorbankan mereka yang mau mendengarkan kata-katanya.
(Diterjemahkan secara bebas dari The Æsop for Children with Pictures by Milo Winter)
Rubah dan Gagak (Versi Samuel Croxall)
Seekor gagak yang telah mengambil sepotong keju dari jendela sebuah pondok terbang naik ke sebuah pohon yang tinggi untuk memakannya. Seekor rubah yang memperhatikan hal itu datang dan duduk di bawah pohon, lalu mulai memuji gagak tersebut atas kecantikannya.
“Aku bersumpah,” kata si rubah, “aku tidak pernah menyadarinya sebelumnya, tetapi bulu-bulumu lebih putih dan lebih halus daripada apa pun yang pernah kulihat sepanjang hidupku! Ah, betapa elok bentuk tubuhmu dan betapa anggun gerak-gerikmu! Dan aku sama sekali tidak meragukan bahwa kau memiliki suara yang cukup baik. Jika suaramu seindah penampilanmu, aku tidak tahu burung mana yang bisa menandingi dirimu.”
Si gagak sangat tersanjung oleh kata-kata sopan itu. Ia menjadi salah tingkah dan hampir tidak menyadari di mana ia berada. Namun karena mengira si rubah masih meragukan kualitas suaranya, dan ingin meluruskan hal itu, ia pun mulai bernyanyi, dan pada saat yang sama keju itu jatuh dari mulutnya. Inilah yang diinginkan si rubah. Ia segera menyambar keju itu dalam sekejap, lalu berlari pergi sambil tertawa sendiri atas betapa mudahnya gagak itu percaya.
Penerapan
Mereka yang menyukai sanjungan (dan sayangnya ada terlalu banyak orang seperti itu) sedang menempuh jalan yang pada akhirnya akan membawa mereka pada penyesalan atas kelemahan diri mereka sendiri. Akan tetapi, betapa sedikitnya manusia yang benar-benar kebal terhadap serangan sanjungan.
Cara kasar yang dipraktikkan para penyanjung yang picik cukup untuk membangkitkan kewaspadaan bahkan pada orang yang paling tumpul daya tangkapnya terhadap muslihat-muslihat remeh semacam ini. Akan tetapi, apabila jebakan itu disusun dengan pertimbangan yang cermat, ia hampir tidak pernah gagal menjangkau hati yang paling waspada sekalipun.
Betapa banyak orang yang merasa sangat senang dengan kenikmatan sanjungan, bahkan saat sanjungan itu diberikan justru untuk memuji sikap mereka yang seolah-olah sangat membenci sanjungan! Tidak ada cara untuk menggagalkan kekuatan siasat ini selain dengan menilai diri sendiri secara jujur. Jika seseorang bersikap tulus dalam penilaian tersebut, tidak ada yang lebih mengetahui daripada dirinya sendiri seberapa besar penghargaan yang layak atas tindakannya. Oleh sebab itu, ia seharusnya tidak terusik oleh pendapat orang lain di dunia ini.
Jika orang lain memberikan pujian yang berlebihan, mereka mungkin memiliki maksud tersembunyi atau sekadar salah menilai. Sebaliknya, jika mereka memberi penilaian yang lebih rendah dari yang semestinya, bisa jadi mereka sedang iri atau tetap saja keliru. Dalam kedua kondisi ini, pendapat mereka sebaiknya diabaikan saja. Sebab, orang yang menyanjung tanpa maksud mencari keuntungan adalah orang bodoh; sedangkan mereka yang menikmati sanjungan palsu yang jelas-jelas bohong adalah orang yang sombong dan bebal.
(Diterjemahkan secara bebas dari Some of Æsop's Fables, Embellished with One Hundred and Eleven Emblematical Devices. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh Samuel Croxall)
Rubah dan Gagak (Versi Stickney)
Suatu hari seekor gagak mencuri sepotong keju, lalu terbang membawanya ke atas sebuah pohon agar dapat memakannya tanpa terburu-buru.
Saat ia sedang bertengger di sana dengan sepotong keju di paruhnya, kebetulan lewatlah seekor rubah. Begitu menengadah, rubah itu pun melihat sang gagak.
“Betapa harum bau keju itu!” pikir rubah, “Aku pasti akan mendapatkannya, karena aku seekor rubah.
Ia pun mendekati pohon itu dan berkata, “Nyonya yang terhormat, betapa cantiknya dirimu! Saat ini baru aku menyadari kecantikan langka yang dimiliki keluargamu. Mata yang menawan! Bulu yang berkilau! Bentuk tubuh yang anggun! Apakah suaramu semerdu penampilanmu? Jika demikian, sungguh pantas bila engkau disebut Ratu Burung. Maukah engkau berbaik hati menyanyi untukku?”
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa suara kaak! kaak! dari keluarga gagak tidaklah merdu. Ia seharusnya tetap waspada, tetapi karena terbuai oleh sanjungan si rubah, ia pun melupakan kewaspadaannya. Ia membuka paruhnya untuk memperlihatkan kepada rubah betapa merdu suaranya. Saat itulah jatuhlah potongan keju itu ke bawah, tepat seperti yang telah diharapkan.
Rubah pun memakan keju itu dalam sekali lahap, lalu berhenti sejenak untuk berkata, “Terima kasih, Nyonya. Aku sudah sangat puas. Tak kuragukan lagi suaramu cukup baik. Sayang sekali, kamu sangat kurang dalam hal kecerdasan!”
----
Gagak pun belajar bahwa kita sebaiknya selalu berjaga-jaga ketika orang-orang memuji kita.
(diterjemahkan secara bebas dari Æsop's Fables: A Version for Young Readers by J. H. Stickney)
Untuk menikmati lebih banyak cerita penuh pesan dan makna, silakan kunjungi laman Daftar Isi website ini.

Posting Komentar untuk "Fabel Rubah dan Gagak: Kisah tentang Bahaya Pujian Palsu"