Fabel Burung Layang-Layang dan Gagak: Kecantikan yang Tak Menghangatkan

Daftar Isi
Ilustrasi Fabel Burung Layang-Layang dan Gagak

Kecantikan yang Tak Menghangatkan

Di sebuah tepi ladang yang hangat, burung layang-layang dan burung gagak bertengger bersama di dahan pohon tua. Matahari bersinar cerah di langit biru, membuat bulu layang-layang tampak berkilau indah saat ia mengepakkan sayapnya mengikuti arah angin.

"Lihatlah buluku," kata burung layang-layang dengan angkuh. "Bulu ini sangat halus, ringan, dan bersinar cantik. Bandingkan dengan bulumu yang hitam dan kaku itu. Tidakkah kau ingin terlihat lebih menarik sepertiku?"

Burung gagak menoleh perlahan. "Memang indah," jawabnya tenang. "Tapi apakah keindahan itu cukup untuk melindungimu saat cuaca buruk tiba?"

"Tentu saja lebih dari cukup," layang-layang tertawa dengan nada meremehkan. "Semua makhluk pasti mengagumi kecantikanku. Bagiku, keindahan adalah segalanya di dunia ini."

Gagak tidak membalas lagi. Ia hanya diam di atas dahan tersebut, seolah sedang menunggu waktu yang tepat dari ufuk langit.

Beberapa hari kemudian, musim berubah dengan sangat cepat. Angin hangat berganti menjadi dingin dan kencang. Langit cerah berubah kelabu, dan udara mulai terasa menusuk hingga ke tulang.

Burung layang-layang mencoba terbang, tetapi tubuhnya bergetar hebat karena kedinginan. "Dingin sekali, aku tidak kuat lagi," keluhnya lemah. Ia mengepakkan sayap sekuat tenaga, namun tetap gagal melawan udara yang menggigit.

Ia menoleh pada gagak yang masih tampak sangat tenang di tempatnya. "Bagaimana kau bisa tetap bertahan?" tanyanya penuh rasa heran.

Burung gagak merapatkan sayapnya yang besar. Bulunya yang tebal sanggup menahan setiap angin tajam yang datang. "Bulu ini mungkin tidak menarik saat cuaca hangat," katanya pelan. "Tetapi ia cukup untuk membuatku tetap hidup melewati musim dingin."

* * *

Kisah di bawah ini merupakan terjemahan dari cerita berbahasa Inggris berjudul "The Swallow and the Crow" karya Aesop.

Fabel Aesop dari Sumber Klasik Domain Publik

Burung Layang-layang dan Burung Gagak (Versi Townsend)

Burung layang-layang dan burung gagak berselisih tentang bulu mereka. Burung gagak mengakhiri perdebatan itu dengan berkata, “Bulumu memang sangat baik di musim semi, tetapi buluku melindungiku dari musim dingin.”

Teman yang hanya ada di saat cuaca cerah tidaklah seberapa nilainya.

(Diterjemahkan secara bebas dari buku Three Hundred Æsop’s Fables Literally Translated from the Greek. Terjemahan versi Bahasa Inggris oleh George Fyler Townsend)


Burung Layang-layang dan Burung Gagak (Versi Milo Winter)

Burung layang-layang dan burung gagak suatu hari berdebat tentang bulu mereka.

Kata burung layang-layang, “Lihat saja buluku yang cerah dan halus. Bulu hitammu yang kaku itu tidak ada harganya. Mengapa kau tidak berpenampilan lebih baik? Tunjukkan sedikit kebanggaan pada dirimu!”

“Bulumu mungkin sangat cocok di musim semi,” jawab burung gagak, “tapi—aku tidak ingat pernah melihatmu di sekitar sini saat musim dingin, dan saat itulah aku justru paling menikmati hidup.”

Teman yang hanya ada di saat cuaca cerah tidaklah seberapa nilainya.


Burung Layang-layang dan Burung Gagak (Versi J. H. Stickney)

Burung layang-layang dan burung gagak suatu ketika berselisih tentang bulu mereka. Akhirnya burung gagak mengakhiri perselisihan itu dengan berkata, “Bulumu memang cukup baik saat ini selagi cuaca hangat, tetapi buluku melindungiku dari musim dingin.”

(Diterjemahkan secara bebas dari buku Æsop’s Fables, A Version for Young Readers by J. H. Stickney)


Untuk menikmati lebih banyak cerita penuh pesan dan makna, silakan kunjungi laman Daftar Isi website ini.

Posting Komentar